Wife’s Syndrome [1st Baby]

Apa-Saja-Bentuk-Persiapan-Suami-saat-Istri-Hamil200

AUTHOR: rywei19

TITTLE : Wife’s Syndrome [1st Baby]

GENRE: Romance, Marriage Life

LENGTH: Oneshot

RATED: PG-16

MAIN CAST: Henry Lau, Nam Mira, Park Jungsoo

DISCLAIMER : This fanfict is mine,The casts in this fict are God’s so don’t be a plagiarism! Don’t Copy and Paste My Fanfict without permission!

Di publish juga di sini

Warning Typos!

***

Bercak sirat kejinggaan terbiaskan penuh kemialau di ufuk barat, cahaya remang melembutkan tersebut menyiram tanpa celah bangunan rumah lantai dua kawasan pinggir kota daerah Seoul. Langit cerah bermandikan gumpalan-gumpalan awan di angkasa sana sungguh terlihat bak permen kapas yang melayang-layang terbawa arus tenang angin di kesorean.
Sepasang mata coklat kelabu tiada bosan mencuri-curi fokus tepat ke hadapan luapan banjir energi menentramkan milik sang penyentak alam dari balik dinding kaca tempatnya merebahkan diri. Bibir mungil milik sang penikmat tersebut terus setia menghadirkan tarikan-tarikan sudut guna membentuk suatu lengkung kecil berinti kegembiraan. Sedang kerjapan-kerjapan lentik matanya juga belum nampak bosan untuk menjelajah seluruh bidang objek pemandangan yang mampu tergambarkan oleh pupil penglihatannya.
Seorang gadis bertipe wajah oriental itu terus menyibukan diri sambil bertelungkup dengan kaki tertekuk dan pandangan yang membara untuk menaruh seluruh puja kepada lukisan langit petang karya Tuhan di balik dinding kamarnya. Dagu elok kepunyaan sang gadis pun masih tertopang manis oleh lekukan hasil siku kedua lengan mungilnya. Gelengan-gelengan lirih kepala si gadis seakan mengiringi kemunculan musik alam tak kasat mata, menjadi bukti pribadi betapa gadis itu begitu menikmati waktu bersantainya di atas karpet beludru putih alas lantai ruang kamar tersebut. Hingga tanpa sadar ia telah mengimbangi suasana sunyi hasil cipta seseorang di sisi lain berbaringnya.
Seakan baru tersadar dari bius kemolekan bumi, sang gadis lekas saja memutar perhatian cepat ke samping kanannya. Dimana seorang pria berambut kecoklatan mengkilat berpotongan rapi tengah bersandar pada tubuh sofa, tangannya masih sibuk menari di atas tombol keyboard laptop putih dalam pangkuan pahanya. Sementara sorot mata jernih miliknya begitu jenius terbingkai di balik kacamata bersisi hitam yang kerap kali ia gunakan bila harus bercengkrama bersama layar-layar silau. Kedua belah pipi si pria nampak menggemaskan bersemu merah. Hidung besar nan runcingnya tak kalah dengan pesona rel rollercoaster yang menukik. Bibir soft sexynya juga terkesan menggiurkan dalam keterkatupannya. Bahkan membuat si pemerhati terpaksa menelan kembali ketersedakan dalam kerongkonannya.
Sempurna, tampan, memesona, dan muda. Tak ada mata normal yang sanggup mengabaikannya termasuk pula dengan satu-satunya wanita di ruangan tersebut, setelah berhasil teralihkan dari hipnotis alam, kini dirinya tak mampu mengelak serta justru terjerembab dalam jeratan memabukan yang menguar melalui sosok pria tampan berkaos V-neck putih ketat sehingga tanpa terhindarkan sukses mengeksploitasi lekuk tubuh binaan gym rutinnya. Sebagai kaum hawa biasa tentu saja wanita itu hanya mampu ternganga takjub akan kesaksiaannya hari ini.

“Bola matamu hampir loncat keluar, Mira~ya,” intrupsi sebuah suara menyejukan yang sayangnya justru melontarkan kalimat berbau kebusukkan.

“Hnnn?” gumaman kebingungan dari sang pemilik nama menjadi bukti kembalinya rasa kesadaran ke dalam lingkup jiwanya.

“Jangan menelanjangiku dengan matamu, aku lebih menghargaimu mengaktifkan tanganmu untuk membereskan kegiatan itu,” tutur pria itu santai terlampau santai malah sembari tetap memperhatikan pekerjaannya di atas layar.

“Ne?” ujar wanita itu—Nam Mira masih tidak mengerti dengan arah perkataan pria di hadapannya.

“Aku bisa menunda pekerjaanku jika kau sudah tak sabar,” usul si pria sambil menolehkan kepalanya guna menatap wanita itu dari ujung kaki sampai ujung kepala tak ketinggalan dengan menghadirkan seringaian aneh nan licik andalannya.

“Mwo? Aishh.. pervert!” protes Nam Mira merasa terkelabuhi oleh pria di depannya yang sejauh ini tak pernah gagal mengusik dirinya.

“Hha.. kau yang menantangku lebih dulu,” timpal si pria kemudian sambil terkekeh ringan.

“Menyebalkan.. !” marah Nam Mira tak terima.

“Sudahlah, ayo duduk sini. Jangan telungkup terus tidak baik untuk kesehatan,” pujuk si pria seraya menepuk-nepuk sisi duduknya.

“Vonis dari mana itu? Memang ada dokter di Korea yang berpesan begitu?” cibir Nam Mira sembari mengerucutkan bibir dan tak berniat sedikitpun menuruti titahan pria di hadapannya untuk segera beranjak dari posisi awalnya.

“French kiss, Gummy kiss, Lollipop kiss, Candy kiss, Mint kiss, Henry kiss or…?” ujar si pria menawarkan opsi-opsi jitu cara melunakan seorang Nam Mira.

“Baiklah.. biklah..” setuju Nam Mira seraya mengangkat tubuhnya dari atas karpet dan menyeret langkahnya menuju sisi kosong tempat sang pria berdiam.

“Mengancam.. terus saja tonjolkan jurus itu,” gerutu Mira menyesali mengapa pria di sampingnya begitu mahir mengintimidasi dengan pola-pola kalimatnya.

“Good girl,” tanggap si pria sambil tanpa di duga mendaratkan sebuah kecupan kilat di permukaan bibir pink merekah Mira hingga menimbulkan efek merona pada permukaan kedua belah pipi sang wanita.

“Padahal kukira kau akan mempertahankan ego batumu, sayang sekali kegiatan mengikis malam dengan bertebarannya pakaian di bawah sinar redup rembulan tak kesampaian,” lanjut si pria tanpa beban seolah sebaris rangkaian katanya tersebut bebas dari perihal kevulgaran.

“Telan saja sendiri khayalanmu itu!” respon Mira dalam lingkup kekesalan yang belum mereda.

“Ckk.. sensitif sekali isteriku ini,” balas si pria sambil kembali menekuni pekerjaannya yang sempat terbengkalai.

“Itu.. apa?” tanya Mira mengalihkan topik obrolan sembari memperhatikan isi yang ditampilkan layar datar di pangkuan si pria—suaminya.

“Hanya grafik fluktuasi perusahaan KH Corp, berhubung Kyuhyun Hyung sedang sibuk mengurusi café dan kehamilan Hyuna. Maka, aku diminta untuk membantunya menganalisis,” terang si pria dengan sabar menanggapi keingintahuan sang isteri.

“Kau masih mau membantu bocah genit itu? Perusahaannya kan sainganmu,” ujar Mira sedikit tak habis fikir dengan kesuperbaikkan suaminya yang tetap saja mementingkan orang lain di sela-sela mencekiknya jadwal pribadi.

“Bocah genit? Bohong sekali, dia kan pangeran berkuda putihmu, kepentinganmu. Kalau aku tidak menolongnya bukannya kau tidak akan segan untuk mendepakku?” ucap si pria sedikit mencibir tanpa sama sekali mengalihkan haluan fokusnya.

“Kau cemburu? Hahh.. dia tak lebih dari sekadar seorang teman baik,” jelas Nam Mira menanggapi keberbedaan sifat suaminya akibat pengaruh sebuah nama ‘Cho Kyuhyun’, sahabat masa kecil sekaligus mantan bosnya.

“Teman baik yang selalu menempel padamu seperti lem kayu? Yang selalu dekat-dekat denganmu seolah menghirup baumu itu sumber nafasnya? Aku sangsi kalian tak menjalin kisah asmara di waktu lalu,” tandas sang pria agak terpancing emosi mengingat isterinya memang terlampau dekat dengan orang yang di panggilnya ‘Hyung’ itu.

“Oppa…” rajuk Mira kesal terhadap tuduhan yang dilontarkan sang suami.

“Aku bercanda. Lupakan!” Seolah tengah membolak-balik perasaan dan memperdayakan emosi pria itu justru menutup topik tersebut dengan santainya.

“OPPA…Menyebalkan,” teriak Mira yang benar-benar merasa dipermainkan oleh sang pria.

“Haha.. mianhae, aku tak bermaksud. Aku percaya sepenuhnya padamu dan Kyuhyun Hyung,” ujar si pria mengakui kesalahannya diawal, dan bersikap lazim ibarat percekcokan singkatnya tadi tak lebih dari sekadar gurauan.

“Tidak tahu, dasar kau mengesalkan,” ujar Mira belum mau menerima permintaan damai sang suami.

“Aihh.. Eomma marah, Mianhae ne Eomma,” pujuk si pria sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Mira dan menggenggam telapak tangannya lembut.

“Eomma.. Eomma..Eomma mianhae,” lanjut pria itu terus berusaha meluluhkan kekesalan sang isteri dengan sisi kekanakan yang jarang ia tunjukkan.

“Jangan bermanja-manja padaku!” tukas Mira gemas sambil menjauhkan kepala sang suami dari lekukan leher jenjangnya.

“Wae?” tanya si pria polos lengkap dengan di hadirkanya raut tak terima khas bocah 5 tahun yang bibirnya mengerucut imut.

“Kalau kau juga manja, siapa yang akan memanjakanku?” jawab Mira pasti seakan lulus dari kedok jahil berbungkus kejenakaan milik si pria.

“Kita bisa saling bermanja-manja bersama,” tawar pria itu tak mau mudah mengalah.

“Tidak mau. Pokoknya kau dilarang manja padaku,” putus Mira tegas seraya mendelik tajam, menghujamkan sorot sipit bak laser ke arah prianya.

“Hah.. sungguh tidak adil. Ckk.. .” rutuk sang pria mengerut lesu.

“Wajar saja, itukan memang resikomu sebagai pria,” tukas Mira lagi-lagi menebar orasi tak terbantahkan.

“Hah..” Helaan napas berat terloloskan melalui celah mulut si pria sembari setelahnya kembali menyudahi ketegangan di antara mereka untuk memulai lagi aktivitas kerjanya.

Sentuhan-sentuhan jemari yang menekan tombol keyboard merupakan satu-satunya latar penembus kesenyapan di antara sepasang suami-isteri tersebut di bawah guyuran cahaya sang surya yang kian menenggelamkan diri pada kaki langit.
Cukup lama keduanya larut kedalam keheningan masing-masing hingga tiba-tiba suara merdu nan lembut penuh rengekkan ini mengudara, “Oppa..Henry Oppa..”

“Hmm?” tanggap pemilik nama yang di sapa—Henry Lau dalam gumaman tanpa sedikitpun mengalihkan fokus ke arah si pengucap.

“Gege.. Henry Gege…” ulang Mira menegur nama suaminya.

“Hmm?”

“Henry~kun… “

“Hnn?”

“HENRY LAU MENYEBALKAN! KAU MENDENGARKANKU ATAU TIDAK? TIDAK PUNYA DAFTAR KATA LAIN KAH DIRIMU? SANA KAU KEMBALI SAJA KE TK DA-“

Sebuah kekenyalan tiba-tiba menyumbat subjek penyeru tersebut, membungkamnya dengan suatu sentuhan manis nan memikat yang seketika melambungkan si pengucap sampai tanpa sadar emosinya menguar bak lukisan pasir tergerus ombak.

“Aku selalu mendengarkanmu, tak perlu ragu akan hal itu. Jadi, ada apa, my better half?” ujar suara khas pria milik Henry sesaat setelah di sudahinya aktivitas pereda marah keahliannya.

“Huhh.. aku mau ke California,” kata Mira yakin, penuh tuntutan.

“California, USA? Kau serius? Mau apa kesana?” rentetan pertannyaan ini terloloskan dengan teramat halus dari mulut Henry seolah tak ingin menyakiti sang isteri dengan suaranya.

“Tentu, mana suka aku bercanda. Pokoknya aku mau kesana,” Mira bersikeras dalam nada-nada melengking yang berbanding terbalik dengan respon suaminya.

“Ckk.. baiklah besok kupesankan tiket pesawatnya,” ucap Henry berkeputusan tanpa bersedia lebih lama meladeni debat Mira yang kemungkinan memang tak mungkin terkalahkan olehnya.

“Aku mau sekarang,” ujar Mira tak sepaham dengan ketetapan Henry.

“Hnn?” gumaman ketidak mengertian Henry masih terkoar di jalur deru merdu bunyi pita suaranya.

“Aku mau kita ke California sekarang, jam ini, hari ini,” kukuh Mira tak mau repot bernegosiasi serta terus mempertahankan sisi keras juga kekanakkannya yang tak mau di bantah.

“Hai.. Sweety,” Henry menyudahi quality timenya bersama sang laptop dan beralih menatap wanitanya dengan sorot serius.

“Listen to me, Girl. Ke California, kau tahu terlebih dahulu kita harus menyiapkan segalanya. Mulai dari pemesanan tiket penerbangan, reservasi hotel, menentukan tujuan wisata. Semuanya sedikit mustahil dapat terselesaikan dalam waktu singkat,” jelasnya hati-hati takut menyinggung sang isteri.

“Tidak mau tau, aku mau sekarang,” bantah Mira keras kepala sembari makin merengek, memukul-mukul ringan lengan Henry.

“Sweetheart, please..” pujuk Henry masih mencoba memengaruhi Mira dengan pandangannya.

“Henry Oppa jahat… kau tidak sayang lagi padaku, aku mau ke rumah Kyuhyun Oppa saja,” Mira mulai menangis lirih dalam kekesalannya sambil mengancam cerdas guna memorak-porandakan pondasi sang suami. Gadis itu tahu betul kalau Henrynya tak akan berlarut-larut bertahan bila sudah ada sangkut-paut Kyuhyun dalam perselisihan mereka.

“Mira~ya.. bukan begitu,” Henry mencoba membela diri sembari langsung memboyong tubuh Nam Mira ke dalam dekapannya guna dapat meringankan derai tangis sang wanita.

“Kau bilang, kau mencintaiku dan akan menuruti semua keinginanku. Mana buktinya? Begini saja, kau sudah tak peduli,” cerca Mira sambil terus menangis kecil di rengkuhan dada bidang Henry.

“Okay.. You got it, darl. Jadi, tidak perlu lagi mengungkit Kyuhyun Hyung. Kau tunggu sebentar, aku menelpon dulu,” putus Henry menyanggupi permintaan Mira, telah terlihat jelas bukan jika ia memang tipe pencemburu akut.

Henry melepaskan rangkulan lengannya di leher Mira serta lekas beranjak pelan dari tempatnya duduk guna merealisasikan rencana untuk menelpon. Seseorang yang di kenalnya dengan baik merupakan objek incaran lawan bicaranya. Sekitar 3 menit waktu berlalu dengan isi Henry yang sibuk saling sahut-menyahut melalui ponselnya sampai akhirnya ia kembali menempatkan diri di hadapan Mira yang masih larut sesenggukkan.

“Aku baru saja menghubungi Jungsoo Hyung, mengingat tidak mungkin memperoleh tiket pesawat secara mendadak. Oleh karenanya, kita berangkat menggunakan jet pribadi milik Jungsoo Hyung, berkemaslah segera!” ujar Henry berkeputuusan seraya menatih Mira berdiri.

“Tidak usah,” elak Mira lagi-lagi menyangkal titahan Henry.

“Ne?” Terkejut. Tak ada ekspresi lain yang mampu Henry lontarkan ketika mendapati tindak isterinya kerap kali mengabaikan seluruh penuturannya.

“Apa perusahaanmu sedang pailit?” lanjut Mira menyudahi keterperanghan Henry.

“Tidak,” jawabnya singkat.

“Apa kau masih menjalin pertemanan dengan trio Aeternum?” Lagi-lagi Nam Mira melayangkan kalimat tanya ambigu yang maknanya sulit diterka oleh Henry.

“Tentu,” Dan untuk kesekian kalinya seorang Henry Lau meladeni introgasi tersebut dengan penuh kesabaran. Trio Aeternum, selepas penanggalan jabatan Kepala Manajer di café and resto milik Cho Kyuhyun itu, ia masih sering bertegur sapa maupun menjalin kontak bisnis dengan beberapa kerabat karib sekaligus seniornya tersebut. Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Youngwoon, ia tak akan lupa bagimana berjasanya ketiga orang ini terhadap terwujudnya mimpi indah labuhan rumah tangga yang kini sedang dilaluinya. Nam Mira.. tanpa pria-pria luar biasa itu, Henry yakin sampai mati ia juga belum tentu bisa mendapatkan hati isterinya.

“Pendapatanmu dalam sehari jelas lebih dari US$ 1 juta kan?” Soal wawancara Mira berikutnya menjadi faktor mujarab guna menarik Henry kembali ke alam nyata.

“Lalu maksudmu?” tanyanya balik, merasa sudah cukup jengah menyambut serangan intonasi tanya lawannya.

“My Handsome Hubby, usahamu kan normal-normal saja, teman-teman miliardermu juga masih terlampau baik, penghasilanmu juga mencengangkan. Jadi, kalau untuk sebatas membiayai pembelian sehelai-dua helai pakaian baru, perlengkapan pribadi, atau hal-hal remeh-temeh rasa-rasanya kau tak mungkin gulung tikar. Tak perlu berbenah, sebab itu membuang-buang waktu. Ayo kita berangkat!” ujar Mira sarat akan keegoisan.

“Setidaknya kita ganti baju dulu?” runding Henry berusaha menganjurkan pilihan.

“Kau sudah tampan, aku sudah bosan dan tak tahan lagi, cepatlah…” Dan Nam Mira memang bukan tipe wanita yang rela di tentang.

“Terserah padamu…” ikut Henry kemudian menyanggupi seluruh asa si peminta.

***

Henry Pov

Aku sama sekali tak tahu menahu perihal virus kekanakan apa yang kiranya menyerang Nam Mira—isteriku. Pasalya sedari 2 tahun lalu kami menikah, ia tak pernah bertindak di luar batas kendali begini. Is sosok gadis energik, tegar, serta cukup dewasa. Tapi hari ini, rengekkannya menerjangku bak badai gurun sahara tanpa celah. Sungguh aneh!

“Sekarang kemana tujuan kita?” tanyaku ketika kami telah mendarat di San Francisco, California dan tengah luntang-lantung tanpa haluan di kawasan jalanan ramai kota Hollywood ini.

“Tunggu, seharusnya masih di sini,” gumamnya lirih lebih pada menyakinkan diri dibanding merespon keherananku.

“Apa? Kau mencari apa?” tanyaku lagi gerah melihatnya terus tengak-tengok tak jelas. Memalukan! Tidak sadarkah isteri kecintaanku ini kalau kami sedikit mengundang perhatian mata warga lokal?
Dan dasar Nam Mira, ia tak menghiraukan perkataanku serta malah tak mau diam guna mengitari area ini menggunakan matanya. Dia sedang apa sebenarnya? Mencari harta karun? Atau cuci mata, melihat bule-bule kekar itu? Membuat cemburu saja!

“Yes…. itu dia. Dia di sana,” hebohnya sendiri sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan dengan sebab yang tidak gamblang. Tak ayal kernyitan tanda bingung segera memenuhi mukaku.

“Oppa.. dia disana,” tunjuknya mengarah ke letak objek nun jauh di seberang jalan sana yang menampilkan beberapa tugu menjulang seperti gerbang taman kota.

“Siapa?” tanyaku penasaran akibat ketidakjelasan tingkah gadis ini.

“Itu.. pria bertatto, yang rambutnya botak, berkaos oblong dengan gambar kepala tengkorak. Oppa lihat?” jelasnya sembari mengarahkan telunjuknya ke arah tersebut. Aku mulai mengedarkan telusurku mengikuti petunjuk Mira, dan tak lama mataku langsung menangkap siluet pasti dengan ciri persis seperti arahannya.

“Yang sedang mengemil keripik di bawah tuggu? Memang siapa dia?” ujarku kemudian setelah menangkap inti pembicaraan kami.

“Tendang bokongnya!” Suara ini menguar memenuhi atmosphere dan beratalu menggema dalam lubang telinga sana.

“WHAT??” Aku membelalak, mempertajam mata sipitku, telingaku yang kujamin normal ini tiba-tiba menangkap suruhan tersebut mengudara. Apa-apaan? Menendang? Pria berbadan seterek itu? Dia menyuruhku bunuh diri?

“Ya, tendang bokongnya! Aku kesal setengah mati padanya,” ulang Mira membenarkan bahwa tak ada yang salah dengan pendengaranku.

“Kau mengenalnya?” ujarku bergidik tak percaya bila isteriku yang imut serta pemilik derajat kelucuan tinggi ini bisa terlibat apalagi sampai bergaul bersama orang mengerikan macam pria itu.

“Tidak juga,” jawabnya membuatku melongo.

“Lalu kenapa enteng sekali menyuruhku untuk menendang bokongnya? Tidak kah itu terlalu so kenal?” bantahku tak setuju mengabulkan permohonan tak biasanya.

“Tapi aku tidak sudi untuk mendengar penolakkanmu, tadi itu dia sudah kasar sekali,” ujarnya sambil berkacak pinggang, merespon perselisihan antara kami.

“Kau bilang tidak mengenalinya, kenapa sekarang bisa berasumsi kalau pria itu menyebalkan? Jangan-jangan, kau suka diam-diam bertemu dengannya di belakangku? Oh..God, Mira~ya, kalau mau mencarikanku saingan setidaknya kuharap dia pria yang sedikit sekelas lah denganku,” ucapku tak habis fikir dengan pola pikir Mira yang kadang kerap membingungkan.

“Siapa pula yang tertarik dengan pria tua itu, aku justru membencinya. Dan perlu Oppa tahu tadi pagi dia menyakiti Eve,” terangnya lagi.

“Eve? Siapa lagi dia? Tetangga baru? Atau Kucing kolong jembatan yang kembali kau tolong? Atau bahkan anjing poodle yang tersesaat lalu kau punggut lagi? Astaga.. Mira~ya, peliharaanmu sudah banyak jangan kau tambah terus , sekarang ini aku terlalu sibuk untuk hanya menemanimu cek rutin ke dokter hewan,” tukasku menebak-nebak sembari mencoba memperingatkannya.

“Sungguh, kau ini payah sekali. Eve itu pemeran utama wanita yang di perankan oleh Megan Foxx di program live action tv Hollywood tadi pagi. Dan pria bertatto itu merupakan bandit yang menyandera Eve, dia kasar sekali. Membuatku meradang akibat emosi hebat, sekarang aku dendam dan ingin membalas aksi kasarnya,”

“What the hell? Jadi, alasan utamamu memintaku kemari hanya gara-gara efek tvholicmu? Astaga… masih banyak kegiatan penting lain yang mesti kuurus, Mira~ya,” geramku seraya menggeratkan gigi menahan deru gelombang amarah yang membakar. Tidak bisa di percaya, mendadak datang kemari hanya demi landasan alasan keperluan tanpa makna macam ini. Dia benar-benar mengalami kekonsletan pencernaan dalam memorinya.

“Jadi, kau tidak mau?” tuduhnya dingin.

“Tentu saja, karena hanya membuang waktu,” ujarku masih belum mampu menetralkan luapan bara panas di jiwa.

“Hiks..hiks… HUAA….masa Oppa tidak bersedia? Lihat itu chagi~ya, Appamu tega, dia tidak menyanyangi kita,” teriaknya membahana sambil terisak pelan dengan telapak tangan yang aktif mengusap daerah perutnya yang nampak sedikit membuncit sebab telah tumbuh sesosok kandidat malaikat mungil hasil buah cinta kami.
Dan seperti biasa, jurus merengeknya kembali keluar, parahnya lagi kali ini ia membawa-bawa serta calon Henry junior.

“Mira~ya..” pujukku cemas melihat tangisnya tak kunjung reda padahal sekarang sudah banyak puluhan pasang mata yang memicing curiga pada kami.

“HUAA.. aku tahu dengan perut buncit begini aku memang tidak sexy lagi, karena peningkatan nafsu makan wajahku pun jadi chubby dan tidak cantik, tapi kan ini kemauan calon anak kita,” ujarnya di sela-sela derai air mata yang membanjiri permukaan pipi mulusnya.

“Aishh.. siapa yang bilang begitu? Pesonamu tidak berkurang sedikitpun, Sayang. Kau justru nampak berkilau di kehamilanmu,” rayuku jujur sekaligus tak tega juga risih dengan aktivitas luar biasa mengusiknya ini.

“Lalu kenapa kau diam saja, ayo tendang bokongnya sana!” mohonnya masih belum menyerah menyuruhku.

“Tidak bis-“ ucapku tersela oleh pekikan kerasnya.

“HUAA… Honey, Appamu memang sudah tidak mencintai Eomma,” Volumenya mengencang meneriakkan ujaran tersebut hingga tanpa terhindarkan kian menarik perhatian pelalu lalang.

“Aishhh.. baiklah.. baiklah, aku akan menendangnya,” setujuku pasrah, kalah jua akhirnya.

“Jangan lupa toyor juga kepalanya,” imbuhnya menambah daftar tugasku. Bicara memang enak tidak tahu dia kalau nasibku hampir di ujung tanduk.

Akupun berjalan menyeberangi jalan raya yang cukup riuh dengan para pejalan kaki, tanganku terkepal keras menahan emosi. Ada-ada saja gadis itu.
Kakiku terseret agak berat ketika semakin mendekati tubuh sang objek incaran. Bagaimana mungkin aku cari gara-gara dengannya? Pria ini tinggi hampir sekitar 2 meter, badanya nampak seperti pegulat, kulitnya keras dan coklat gelap kehitaman. Bisa di pastikan tubuh kurcaciku ini mana sanggup menahan tonjokannya nanti. Benar-benar bunuh diri.

“Huhh…” aku menghela nafas panjang nan sukar, rasanya berton-ton besi sedang kupikul di atas pundakku kini. Nam Mira, lihat betapa aku mencintaimu dan calon anak kita!
1..2…3…

Dukk…

Aku mengayunkan kaki kananku kencang tepat ke sela-sela antara bagian bokong kanan dan kiri pria itu sambil menutup mata aku terus berceloteh memanjatkan puji-pujian pada Tuhan agar Ia masih sudi menyelamatkan hidupku hari ini.
Aku tak tahu pasti apa yang terjadi selanjutnya namun dalam keterpejaman ini aku merasa tubuhku terhuyung nyeri beberapa kali lalu semuanya buram dan hilang seketika.

***

“Henry~ah.. Henry~ah…” Suara-suara ini datang menghampiri kepeninganku.
Cukup lama mataku mengerjap-ngerjap pelan dalam keterbukaannya. Terlihat banyangan yang terbiaskan mengganda. Namun dengan sabar kumulai untuk mengaktifkan keseriusan menatap sasaran hingga akhirnya tertangkaplah sosok seorang Park Jungsoo dengan air muka khawatirnya tepat di depan wajahku.

“Hyung??” teriakku terperanjat setelah benar-benar percaya kalau pria berambut hitam mengkilap itu sungguh Park Jungsoo, saudara sepupu sangat jauhku.

“Hah.. syukurlah kau sadar juga, lama sekali pingsanmu,” jawab pria tinggi bersetelan jas formal di hadapanku seraya menghela napas lega guna menyandarkan punggungnya kembali ke kursi duduk tepat di sisi ranjang. Ranjang? Ahh.. setelah melirik-lirik kawasan sekitar nampaknya aku memang sedang terdampar dalam sebuah ruangan bercat putih, bau obat-obatan yang begitu pekat membuatku seratus persen yakin kalau kamar berbentuk persegi luas ini tetaplah salah satu bagian dari gedung bernama rumah sakit.

“Memang apa yang terjadi, Hyung?” tanyaku membuka percakapan bermakna dengannya begitu berhasil kembali dari dunia fantasi.

“Kau tak ingat? Tadi kau mendapatkan beberapa tinjuan di tubuhmu sampai kau pingsan,” katanya memberitahu kabar mencengangkan yang membuat mulutku sulit terkatup.

“Tinjuan?” ulangku sembari mengingat-ingat memori beberapa waktu kebelakang dan perlahan kenangan memalukan itu akhirnya menyeruak, memutar rol kasetnya, NAM MIRA.

“Sudah ingat? Lagi pula, kau ini tidak punya kerjaan sekali. Untuk apa jauh-jauh ke USA hanya demi numpang bonyok? Kekanakkan..” omelnya seenak hati sesaat setelah memberikan secercah waktu agar aku mampu berfleshback.

“Aishh.. Hyung fikir aku mau? Lalu kenapa, Hyung di sini? Dimana Mira?” todongku menyerukan berjuta kejanggalan yang hinggap dalam benak sana.

“Mira ada di cafeteria bersama Oh Young, tadi dia di sini menagisimu tersendu. Untung saja aku membawa isteriku tersayang kalau tidak aku bisa frustasi menghadapi tingkah Mira-mu itu,” adunya dengan nada cukup kesal menyemprotku ganas.

“Hah.. aku pasti membuatnya gelisah,” sesalku menyalahkan diri.

“Itu kau sadar sendiri, terus mengapa malah gegabah begini menggurui privasi orang asing di negeri tetangga?” gerutunya terdengar kecewa.

“Maksudmu, Hyung?” Entahlah, bisa jadi akibat pingsan kinerja otak kebanggaanku mengalami gangguan ringan sehingga terasa sulit sekali rasanya mengarahkannya untuk membaca detail-detail kemungkinan yang selekasnya terjadi. Jungsoo Hyung, dia salah seorang contoh pengusaha New York dengan rutinitas kerja tinggi. Oleh sebab itu, sekarang bisa di pastikan ada perihal tak biasa yang tengah terjadi.

“Mira menelponku, dia bilang kau di tahan polisi,” Sesuai dugaan, kedatangannya mana mungkin tanpa tujuan pokok bukan?

“APA??” Dan refleksku ini terbilang lamban serta telat sekali. Semoga saja terjadi salah tangkap oleh indera pendengaranku. Aku… Henry Lau, si manusia paling ramah, baik hati dan tidak sombong serta rajin bayar pajak di tangkap polisi?

“Seorang pria kulit hitam melaporkanmu dengan tuduhan tindakkan tidak menyenangkan. Dia mengaku mendapatkkan tindak kekerasan olehmu,” terang Jungsoo Hyung mengambrukan harapanku.

“Aku hanya menendang bokongnya, bagaimana mungkin orang itu memfitnah macam-macam begitu?” timpalku membela diri dan tak habis fikir dengan polah pria hitam mengesalkan itu, apa-apaan dirinya sampai melaporkanku ke pihak berwajib. Tidak jantan sekali!

“Ckkk.. kau ini memang membuat susah saja. Ini Negara liberalis, tak peduli kau sebatas mencolek bila korbannya tak terima hukum wenang berbicara,” jelas Jungsoo Hyung menyadarkanku bahwa aku berbuat masalah di wilayah orang yang cara serta tata tertibnya jauh berbeda dari tempatku menetap selama ini. Payah!

“Aishhh..” gusarku penuh penyesalan seraya mengacak-acak rambutku sebagai tanda pelampiasan kejengkelan.

“Beruntung karena kehebatan Pengacara Shin yang paling kupercaya kau mendapat keringanan, masa hukuman kurunganmu hanya satu minggu,” ujarnya enteng.

“APA?” Seakan mendapatkan kejutan Aprilmob aku meradang menahan gejolak berang yang menjangkit di hatiku. Penjara kurungan? Kukira efeknya sebatas wajib lapor, pembayaran denda, mengapa sampai separah ini?

“Nikmati saja hotel berbuih indah negeri major ini. Siapa suruh kau berbuat ulah?” cibir Jungsoo Hyung memompakan tambahan api mengesalkan dalam relung perasaanku.

“Ternyata…. mengurusi orang lain memang tidak gampang, meladeni calon anak juga tak semudah cara membuatnya,” akuku tak habis fikir dengan kenyataan ini. Benar juga, demi little Henry yang bahkan baru berusia 4 bulan dalam kandungan saja sudah berani membebankan ujian macam ini apalagi kalau sudah besar nanti? Kuharap ia akan tumbuh jadi bocah manis layaknya Henry Appanya yang baik budi.

“Sudah tahu begitu, makanya jangan menikah muda. Repot sendiri kan?” Sejujurnya selaku manusia penjunjung adab hormat-menghormati, aku tidak enak beranggapan begini. Tapi, mulut Jungsoo Hyung sungguh membuatku bernafsu meninjunya.

“Apa ini yang namanya mengidam, Hyung?” tanyaku mengalihkan perdebatan dalam benak tercintaku yang sudah makin semerawut dan berambisi dengan segala hal mengenai bogem mentah, gocoh, tinju, pukul, tonjok bahkan sampai smackdown atau bahkan suntik musnah.

“Kurasa demikian, tabahkan dirimu, Nak. Mengingat polah isterimu, kedepannya mungkin ia bisa lebih parah terjangkit wife’s syndrome..” Jungsoo Hyung tiada ragu kulegalkan dirimu untuk masuk daftar orang mendongkolkan dalam hidupku sejak hari ini. Sungguh tidak membantu!

“Hufttt…” Sirkulasi udara hasil kerja paru-paruku tersemprot letih mengiringi kelesuan fisik sekaligus jiwaku.

Memiliki satu orang isteri dan seorang calon bayi saja sering kali merungsingkan. Tak bisa kubayangkan bagaimana peningnya para pria gila yang sering kali tanpa pikir panjang menebarkan bibit-bibit keturunan pada wanita berbeda. Aku bukannya bertingkah bagaikan pria so suci, sadar atau tidak sebagai kaum adam biasa akupun menyimpan sisi berengsekku tersendiri. Namun menyakiti makhluk bersebut wanita, yang dari bunyinya pun sudah menuntut untuk terlindungi itu sama saja dengan menyalahi titah Tuhan. Sebagaimana insan berkeyakinan lainnya, aku juga mengagungkan Tuhan oleh karenanya sebisa mungkin aku akan menjaga titipan-Nya, Nam Mira dan Henry Junior. Mereka kepentinganku, aku mencintai keduanya dengan segenap hati. Demi Tuhan keluarga kecil ini adalah hidupku.

WJ, 15 Augst 2013[rywei19]
END

Iklan

3 thoughts on “Wife’s Syndrome [1st Baby]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s