Dating . . . ?

Dating

TITTLE : Dating . . . ?

AUTHOR: rywei19

GENRE: AU, Brother Romance, Little bit comedy

LENGTH: Oneshot

RATED: PG 17

MAIN CAST: Cho Kyuhyun, Cho Nara, Lee Jonghyun

DISCLAIMER : This fanfict is mine, The casts in this fict are  God’s so don’t be a plagiarism!  Don’t  Copy and Paste My Fanfict  without  permission!

NB : Juga di publish di sini

***

Kencan? Jujur, aku tidak tahu itu hal macam apa, seperti apa prosesnya, bagaimana jalannya dan tujuan akhirnya pun aku tidak paham. Okey, terkesan primitif memang di jaman era modern dengan kalender yang memampangkan angka 2013, aku masih saja tidak memahami hal-hal picisan macam itu. Hei, salahkanlah kekolotan konsep hidup yang di anut keluarga besar Cho sehingga memaksa anggota-anggotanya termasuk aku—Cho Nara di usia awal 20an ini masih belum mengerti apa-apa soal lawan jenis atau mungkin juga percintaan. Benar, Appaku—Tuan besar Cho yang terhormat memang begitu membentengi anak-anaknya untuk tidak sekali-kalinya menjalin asmara di usia sekolah alhasil selama masa remajaku di Junior maupun Senior High School tak ada pilihan lain kecuali melajang. Malu? Oppaku yang paling tampan—menurutnya sendiri bahkan  sering kali mengejek, mencemooh, bahkan mengataiku tidak laku padahal jelas-jelas aku ini primadona sekolah andai saja tak ada prinsip kolot kakek moyangku tentunya.

Eomma, aku pulang.” Woah. . . orang ini panjang umur sekali, baru saja aku menghayalkannya dalam lamunanku tiba-tiba suara besarnya sudah berisik membuat kegaduhan.

Aku yang sedang bermalas-malasan di sofa putih dekat dapur langsung pura-pura sibuk menikmati siaran tv anime favoritku dan mengabaikan makhluk yang kerap kali kehadirannya membuatku sulit terhindar dari peristiwa bernama naik darah.

“Di mana Eomma?” tanyanya tanpa basa-basi begitu mendaratkan diri di sisi kiriku yang tengah terlentang nyaman bak dewi Afrodit dalam singgah sananya setelah sebelumnya ia menggeret kakiku paksa dari atas sofa seperti karung beras.

“Sedang menemani Appa menghadiri pertemuan bisnis luar kota beberapa jam lalu,” jawabku sinis sembari memposisikan tubuhku untuk duduk bersandar pada punggung sofa dengan kaki tertekuk sempuna di depan dada.

“Hmm,” gumamnya lirih terdengar tak ambil pusing.

Hening. Sudah kuduga, orang ini memang jarang sekali membuka suara. Meski saudara, aku dengannya tak sedekat keluarga kebanyakan. Mungkin karena ia lebih tua dariku 5 tahun, atau mungkin karena ia yang tidak tinggal lagi bersama kami—aku, Appa dan Eomma juga di samping itu ia pun jarang pulang meski untuk sekadar berkunjung.

“Ada masalah? Kudengar dari Eomma, kau ada kencan sabtu nanti.”

DUARR. . . .

Malu, aku sungguh tak tahu harus menutupi wajahku dengan apa? Atau mungkin harus kutenggelamkan kemana? Ba-bagaimana bisa, orang ini mau repot-repot mengurusi perihal remeh-temeh tentangku apalagi ini kencan. Ia belum pernah sepeduli itu padaku sebelumnya.

“Be-be-gitulah,” jawabku kikuk efek dari kebimbangan hatiku yang awalnya tak ingin membuka topik obrolan apa pun padanya.

“Kau gugup?” Hei, sejak kapan seorang Cho Kyuhyun beralih profesi dari pengusaha poperti muda jadi seorang peramal? Apa dia punya sixth sense? Jangan-jangan selama ini ia mempelajari ilmu-ilmu gaib. Ohh . . . kapan-kapan aku harus mengunjungi apartemen pribadi orang ini guna mengecek buku-buku primbon rahasia miliknya. Enak saja ia tak bagi-bagi keahlian padaku.

“Begitulah,” jawabku. “Apa wajar?”

“Orang bilang kencan pertama kegugupannya itu bisa melebihi perasaan saat akan ikrar janji ketika menikah.”

“Benarkah?”

“O-r-a-n-g b-i-l-a-n-g. Mana kutahu, memangnya itu kataku.” Lihat! Dia sungguh menyebalkan, sudah jelas mencurigakan kalau tiba-tiba ia mau menemaniku mengobrol pastilah ujung pangkalnya ia hendak mengejekku. Cho Kyuhyun memang si licik yang suka berkelit!

“Sungguh tidak membantu!” hardikku keras seraya bersungut-sungut panas pada posisi duduk ini.

“HAHAHA . . . .” Ia memang bukan kakak yang baik, melihat adiknya merana dan dongkol bukannya menghibur atau minta maaf malah begitu renyah tertawa. Ahh, tentulah sangat menyenangkan menyaksikan wajah tak berdayaku. Dia ini, aku sungguh heran mengapa bisa dengan gaya urakan macam begitu mampu memimpin CHF Company? Sepertinya aku harus demo pada Appa untuk meninjau ulang posisi si aneh ini.

“Haa . . . ingin kubantu?” Suara Kyuhyun Oppa menyeruak kembali meski masih di iringi kekehan tertahan yang mempertontonkan deretan gigi-gigi rapinya.

“Ahh . . . kau pasti hanya mempraktikan bunyi ‘Tong Kosong’ saja. Mana mungkin kau mau membantuku. Ketika kecil kau bahkan tidak bersedia mengelap ingusku yang keluar ketika bersin. Sungguh sangsi kalau kau benar Oppaku.” Aku membuka folder masa lalu seperti yang sering kali Eomma ceritakan jika Oppa kebanggaan keluarga Cho ini, kecilnya jahat dan kejam sekali terhadap adik semata wayangnya. Masa, ia tega membiarkanku berlinangan ingus?

“Itu karena kau dan ingusmu begitu menjijikan dulu. Bagaimana bisa sebagai adik dari Cho Kyuhyun kau jorok sekali sampai-sampai kelebihan ingus hingga meluber kemana-mana. Memalukan!” Kyuhyun Oppa lagi-lagi mencemoohku. Ia . . . kalau tidak ingat bahwa Appa begitu menyayanginya sudah kucidori dirinya dengan jurus Sasuke—anime favoritku.

“Aish . . . alasan. Bilang saja, kalau kau tidak sudi punya adik dan ingin menjadi anak tunggal. Huuh, aku bisa dengan mudah membaca otak kalkulus busukmu yang berharap dapat menguasai kesuperioran khas milik Cho Family seorang diri.”

“Baguslah kalau kau tahu. Aku sungguh tak bersedia memiliki adik apalagi yang jorok dan bau apak sepertimu.”

“KYUHYUN OPPA . . . NEO PABBOYA!”

“Nara~ya, you’re stupid!”

Aku berguling-guling kekiri dan kekanan serta menggerakkan kakiku untuk menendang-nendang udara. Jengkel, Cho Kyuhyun itu sumber masalah!

“Jadi, kau punya solusi tidak?” aku merengek begitu lelah dengan kemarahan sepihakku.

“Siapa teman kencanmu?” Kali ini ia tampak serius. Mata cokelatnya pun telah memenjarakan sepasang bolaku intens.

“Lee Jonghyun,” balasku singkat sembari otakku langsung kencang merespon menggambarkan kemenawanan rupa pemilik nama tersebut. Rahang kokohnya, bola mata cantiknya, alis tebalnya, bibir sexynya, hidung tingginya, rambut cokelatnya, dan kaca mata persegi yang selalu menempel di wajahnya. Teman kencanku sempurna, ia jenius.

“Cucu dari Saintis Lee Dong Min?” tebaknya.

“Emm . . . entahlah.” Aku yang memang tidak begitu tahu perihal silsilah keluarga Lee Jonghyun hanya bisa menunjukan tampang bingung khas seorang Cho Nara yang sering di jadikan bahan ejekan oleh Kyuhyun Oppa.

“Kau ini bagaimana? Sebenarnya baru berapa lama kenal dengannya? Asal-usulnya saja kau tidak tahu. Dengar, bocah kecil yang sok pintar. Lee Jonghyun, usia 21 tahun, mahasiswa tingkat akhir jurusan matematika, anak dari Lee Hyuk Jae pengusaha peralatan medis sekaligus pemilik 20 rumah sakit elit di seluruh daratan Korea Selatan, penyuka warna peach, tidak suka makanan manis, vegetarian, dan gemar bermain game. Jadi, aku atau kau teman kencannya?” Melongo. Tak sanggup berekspresi cantik, aku hanya mampu ternganga mendengar penuturan Kyuhyun Oppa. Dia, dari mana mendapatkan informasi sedetail itu? Jangan-jangan ia mempunyai hobi baru menjadi stalker?

“Ia juga sangat tampan. Kau tidak menyebutkan fakta itu dalam penjelasanmu. Jadi, tentulah tetap aku yang pantas menjadi teman kencannya.” Aku memeletkan lidahku menantang ke arahnya. Kau pikir dapat dengan mudah membodohiku? Tidak lagi aku sudah 20 tahun, Cho Kyuhyun.

“Ini kenapa aku malas pulang ke rumah. Kau suka sekali melawan dan mengelak, Cho Nara,” ujarnya lelah sembari kembali membanting punggungnya ke sandaran sofa. Telapak tangan lebarnya sesekali mengusap jengah area wajahnya.

“Jadi, ada saran tidak, Oppa?” Aku mentoel-toel lengannya ringan. Walaupun kami tak terlalu dekat tapi tak ada salahnya ‘kan bila sesekali seorang adik bermanja pada sang kakak?

“Emm . . . hahh . . . .” Ia mendesah letih sebelum akhirnya menghadapku dengan sorot manipulatif penuh intrik. Aku membaui, Kyuhyun Oppa sedang menyusun kepingan-kepingan ide dalam otak mutahir yang kerap kali menyengsarakanku. Seringaian jahil khas bibirnya menjadi tanda tersendiri bahwa pria ini menyimpan trik muslihat. Waspadalah, Cho Nara!

“Aku ada tips, mau mencoba?” ujarnya dengan nada menantang seolah berkata ‘Kau tak akan menyesal Nara~ya’.

“Presentase keberhasilannya?”

“Jangan mulai seperti Appa, sedikit-sedikit mengungkit keuntungan personal. Mau tidak?”

“Emm . . . caranya?”

“Aku tidak suka teori. Ada 5 langkah, bagaimana jika langsung praktik saja?”

“Hm?”

***

Appearance, aku sadar bagian ini begitu penting dalam sebuah acara kencan. Begitu pula dengan Kyuhyun Oppa yang sependapat dan berbisik pelan kala lalu ketika berujar tipsnya yang pertama serta paling utama adalah penampilan. Namun sungguh demi Tuhan, aku tak menyangka bila perihal tampilan yang ia pikirkan ternyata tak sesederhana bayanganku.

Gaun jingga berenda di tiap tepiannya merupakan pakaian ke-3 yang harus kujajal kecocokannya dengan diriku. Aish, sejak tadi aku mengaduk-aduk isi lemari guna mengeluarkan seluruh busana koleksiku yang jumlahnya menelan luas sekitar hampir 4 buah lemari besar.

Hati-hati aku yang telah memasangkan gaun selutut tersebut segera berbalik membelakangi cermin wastafel dan bergerak menuju pintu untuk membukanya guna dapat memperlihatkan hasil dari kesesuaian tampilanku pada Kyuhyun Oppa.

Ckleek. . . .

Malu-malu, aku melongokan tubuhku, mengeksplorasi seluruh area kamar besarku untuk mencari keberadaan Kyuhyun Oppa yang tak lama kutangkap tengah duduk santai dengan setelan kasual, kemeja hitam dengan lengan yang di gulung sebatas siku. Celana jeans hitam menghiasi kakinya sempurna, sepasang sneakers juga telah melakukan tugasnya sebagai pembungkus. Kapan ia berganti?

“Ehemm . . . . “ Deheman ringan kukuarkan untuk dapat menarik perhatian Kyuhyun Oppa yang sedari tadi sibuk menyoroti rak buku berisi koleksi novel-novelku.

Dan Bingo . . . Kyuhyun Oppa menoleh sepersekian detik berikutnya. Bola mata awasnya menghujam diriku seolah tengah meneliti sebuah maha karya. Selang 5 detik, tangannya ia kibaskan di udara dengan raut merengut ia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda bahwa aku harus ganti, lagi.

Gerutuan-gerutuan ringan menemaniku kembali memasuki kamar mandi, dengan bekal sehelai kaus putih longgar bergambar dermaga terkenal—Sydney dan celana pendek 10 cm di atas lutut, aku keluar dari ruangan penuh pakaian tak serasi ini.

“Mau kemana? Pub? Jangan membuat pria berubah berengsek dalam kencan pertamanya. Ganti, kau kira aset pribadi pantas kau pertontonkan?” Kyuhyun Oppa berteriak-teriak kalut kala mengomentari dandananku. Ada apa memangnya? Kalau tidak suka, bilang saja tidak cocok tak perlu marah-marah begitu. Dasar aneh!

***

“Berniat sekali menginap di hotel berbuih, ya? Sekali lirik polisi Seoul pastilah mengiramu pengedar narkoba. Apa-apaan dandanan monster dan pakaian robek-robek begitu? Ganti!” Kyuhyun Oppa lagi-lagi protes berlebihan. Salahkah tampilan ini? Aku hanya bergaya ala punk rock.

“Dan hapus cat bibir warna hitammu itu, menjijikan. Seperti badut tua bangka!” Sempat-sempatnya pria itu mencelaku. Mengesalkan!

Di dalam sini, aku masih sempat mendengar gerutuannya yang mengomel soal: dari mana aku belajar bergaya macam ini? Pergaulan semrawut, gadis cilik tak tau mode, dan apa? Wajah badut . . . dia itu Oppaku atau bukan sebenarnya? Tega sekali!

***

Berdiri mematung bagai maneken-maneken toko yang tak laku dengan wajah cemberut tepat di sisi sofa ruang keluarga. Mataku memandang nyalang pada objek paling mendongkolkan yang kini malah tengah sibuk mengutak-atik gadgetnya. Entah apa yang ia lakukan aku tak tahu dan tak mau pusing-pusing untuk mencari tahu.

Drttt.. Drttt…

Itu adalah bunyi sejenis yang telah lebih dari 10 kali kudengar semenjak memutuskan untuk menunggui pria sok sibuk di depanku yang sedari tadi tidak mengacuhkan kehadiranku. Hei, ia yang menyuruhku bolak-balik kamar mandi untuk ganti baju tapi malah dia juga yang tiba-tiba menghilang dan ternyata justru asik bersosialita dengan dunia maya lengkap bersama kekasih sejatinya—smartphone.

“Pulang saja sana!” suruhku memecah kehampaan obrolan di antara kami. Ia yang nampaknya baru sadar kalau ada aku di sekitarnya mendongak sekilas padaku.

“Kehadiranmu di sini sungguh tidak ada gunanya. Jadi, lebik baik kembali ke apartemenmu!” Aku tak paham kenapa aku bisa semurka ini akan sikapnya. Padahal biasanya aku tak keberatan akan segala daftar tindak mengesalkannya tapi kali ini entah demi apa, aku kesal mengetahui kalau ia mengabaikan kerja kerasku. Masa ia diam saja? Tidak mengomentari tampilanku? Aku ‘kan sudah memakai pakaian paling cocok menurutku. Celana jeans panjang warna biru dongker, baju atasan warna senada, aku bahkan telah menggerai rambut ikalku, memakai sneakers hitam favoritku. Tak ia hargaikah perjuanganku ini?

“OPPA?” Aku meneriakinya karena dari tadi kulihat ia hanya mematung bingung sembari menatapku. Apalagi? Ada yang salah sehingga ia bertampang kaget begitu?

“Kau benar-benar sudah 20 tahun ‘kan?” ujarnya begitu kembali normal.

“Hmm.”

“Sudah punya karu tanda penduduk?”

“Hmm.”

“Kembali ke kamar dan ambil jaketmu!” suruhnya kemudian membuatku bingung namun tetap kuturuti.

***

Tiga kali, jika tidak salah hitung maka sudah sesering itu aku mengucek mataku kala mendapati pemandangan luar biasa tepat di depan pintu masuk kediaman keluarga Cho.

Sebuah motor besar  MV Agusta F4 RR berwarna matt putih dengan guratan hitam di sisi-sisinya merupakan sebuah pemandangan luar biasa bagi indra pengelihatanku pasalnya aku cinta sekali pada motor. Apalagi ini MV Agusta, motor kesayangan Kyuhyun Oppa yang telah sejak pertama kali ia miliki sudah kutaksir namun karena kepelitan yang kadang merajai jiwa setannya aku jadi jarang memiliki waktu untuk bermaja-manja pada superbike legendaris pabrikan Italy tersebut.

“Emm, aku tak dengar suara mesin motor tadi saat kau datang,” ujarku mencoba mengalihkan keterpanaan.

“Kau pikir motorku seharga permen kapas di pasar malam? Jangan bodoh, mana ada mesin buruk yang mengeluarkan bunyi urakan di tahun 2013 ini,” jawabnya sengit menangapi sembari melangkah untuk menaiki jok motor tersebut.

Aku bungkam dan langsung kembali menganga cantik guna menyaksikan betapa nyamannya jika bisa duduk di jok indah itu.

“Naik!” titahnya tiba-tiba membuatku  linglung. Naik? Naik ke mana?

“Duduk di belakangku!” Seolah membenarkan anggapanku bahwa ia salah satu titisan peramal, ia melanjutkan kalimat perintahnya namun bukannya lega aku malah tambah di buat pusing. Hei, joknya sempit tak ada boncengannya bagaimana bisa aku ikut berkendara? Kecuali kalau niatnya memang mengerjaiku dengan membuatku jadi penutup pentil ban tublesnya.

“Bagaimana bisa? Joknya memang akan muat di pakai berdua? Untukmu saja sudah minim begitu,” ujarku beralasan.

Kyuhyun Oppa urung mengenakan helm berwarna putih sewarna motornya dan memandangku garang. “Tadi aku berniat membawa unta kemari agar bisa di pakai berdua namun mengingat pasti akan merepotkan jika di jalan tertangkap petugas kebun binatang. Jadi, lebih baik KAU NAIK SEKARANG JUGA, CHO NARA!”

Tanpa mau meladeni singa yang mengamuk segera saja kulangkahi jok tersebut dan memposisikan diri di belakang punggung Kyuhyun Oppa. Sudah kuduga jaraknya terlalu dekat dan aku terjebak. Mundur ke belakang membentur ekor motor, geser ke depan? Mau bunuh diri? Cho Kyuhyun ada di sana.

“Pakai!” Sebuah helm melayang ke arahku, Kyuhyun Oppa santai saja dalam posisinya sembari memakai helm. Sedang aku sudah jutaan kali tarik napas mempraktikan langkah sehat ibu-ibu pramelahirkan.

“Kenapa tidak maju-maju?” tanyaku begitu telah terlewati 5 menit lamanya kami tetap tak geser seincipun dari dapan pintu utama keluarga Cho.

“Karena kau belum siap,” jawabnya enteng. Aku yang sama sekali tidak paham akan maksudnya pun segera mengecek kelengkapan berkendaraku. Helm? Sudah bertengger manis di puncak kepala. Jadi, cek. Jaket? Aku sudah berbalut kain kulit berwarna hitam koleksiku. Jadi, cek. Lalu apa lagi? Aku tidak akan balapan liar, tentu tidak perlu sarung tangan, pelindung siku dan lutut apalagi masker ‘kan? Cuaca Seoul cukup kondusif. Lantas di bagian mananya yang tidak siap?

“Ckkk . . . .” Decakan gemas ini terlontar dari mulut Kyuhyun Oppa dan setelahnya dapat kurasakan kedua tanganku di tarik paksa hingga tubuh bagian depanku sukses menghantam punggung kokohnya.

Saranghae gaseumsoge chaoreuneun mal

Saranghae cheonbeoneul deo hago sipeun mal

Yeotae haejun jeok eopseoseo deo mani jugopeun

Ojik negegeman haejugo sipeun ma

Entahlah aku tidak tahu kenapa, tapi di alam bawah sadarku baru saja terdengar potongan syair lagu indah milik Lee Seung Gi di tambah semilir angin malam yang menerbangkan helai-helai rambutku. Aku jadi berpikir kalau ini sedikit err, romantic dan membuat mual.

“Jangan buat aku serba salah, Appa bisa menodongku kalau nanti pulang-pulang aku hanya membawa abumu.” ujarnya menjelaskan. Membuatku terperangah.

Jadi, dia. “Berpeganglah yang erat karena kalau jatuh aku tak akan memungutmu.”

WHUSHHH. . .

***

Grafter resto, perkumpulan bagi kalangan atas bila sedang riuh menghadapi para klien berharga milyaran won, ini restoran mewah termasuk ke dalam jajaran 10 tempat makan paling megah seantero Seoul.

Aku duduk bersandar pada kursi berpunggung lembut nan nyaman. Kusempatkan guna mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan VVIP. Dari lantai tertinggi dengan jarak kira-kira 500 kaki dari daratan, dapat terlihat dinding kaca di hadapanku menampilkan keindahan malam khas kota metro. Kerlap-kerlip lampu-lampu gedung beraneka warna memenuhi retina bola mataku.

Dari luar, aku beralih memfokuskan diri untuk meneliti kemegahan ruangan tempatku berada kini. Sinar temaram melingkupi atmosfer dingin yang membentengi. Bau ambergris campuran kayu, rempah dan bunga segar menyiram seluruh area tempat ini.

Kyuhyun Oppa anteng dalam kegiatan menyesap kopi Decaf beraroma menyengat. Sesekali tangannya pun sibuk menggerak-gerakan pisau potong untuk mengiris daging steak fillet mignon pesanannya. Sementara aku, melirik tanpa minat pada sepiring hidangan berisi pasta bersaus tomat manis. Apa enaknya kegiatan makan malam begini? Dasar pria konglomerat!
“Kau tidak makan? Tidak suka makanannya atau mau pesan yang lain?” Aish, pria ini sok perhatian sekali. Setelah 15 menit berlalu aku tersiksa menyaksikannya berlaga ala model-model kuliner, kini ia baru menyadari ketidaknyamananku? Tidak peka!

“Kenapa malah memilih kesini? Tidak adakah tempat lain?”

“Hm . . .” Kyuhyun Oppa menggumam elegan sembari menyudahi acara menyantap potongan dagingnya serta beralih menatapku lembut. Apa Lembut? Cuihh, pandangannya bahkan seakan menyiletku.

“Pertama aku sedang lapar, kedua aku ingin makan dan tidak berada pada mood yang baik untuk makan sendirian, dan yang terakhir karena aku kaya apa salahnya sesekali mentraktir teman kecanku di resto mewah?” Oh oh oh . . . dia menyombong saudara-saudara!

“Aish . . . siapa pula teman kencanmu? Aku tidak sudi! Dan lagi aku tidak mau kencan di sini.”

“Lalu kau pikir menonton di bioskop, menghadiri konser musik klasik, taman kota, ataupun museum pilihan yang tepat?”

“Mungkin saja. Setidaknya di tempat-tempat begitu aku tidak mati kebosanan menatap model gadungan macam dirimu.”

“Dengar, Cho Nara yang paling manis nan ceriwis. Menonton bioskop? Mau apa? Bermesraan? Situasi gelap gulita di dukung dengan backsound film penuh romansa hanya mengandung segudang maksiat. Jangan pernah berani-beraninya kau kencan kesana di masa depan atau aku akan membunuh teman kencanmu.” Bulu kuduku meremang begitu menyaksikan ekspresi membara Kyuhyun Oppa tercinta ralat terotoriter.

“Itukan kalau teman kencannya kau si otak pervert lain lagi dengan Jonghyunku tersayang,” sanggahku mengomel.

“Terserahlah, ayo makan!” tutupnya terdengar jengah sambil kembali menyantap menu makannya.

“Pemilihan tempat kencan yang pasti merupakan unsur utama yang tak boleh terlupakan. Sebelum pergi kencan yakinkan diri bahwa kau sudah memiliki tujuan. Dan garis bawahi beberapa tempat yang cukup riskan saat pria di tinggal berdua saja dengan wanita. Hindari untuk menonton film di bioskop, menonton konser yang penuh keintiman, taman kota yang kerap menyimpan sudut-sudut rahasia kegemaran para pria, ataupun arena museum yang sungguh penuh privasi. Tipsku yang kedua, kau mengerti?” Kyuhyun Oppa bersuara membuatku memahami arti perdebatan kami di awal. Tujuan?

“Hmm,” jawabku singkat sambil mulai menyendok asal pasta pesananku.

***

Arloji putihku menunjuk angka 9.00 PM dengan kombinasi sudut siku oleh kedua jarumnya. Malam yang cukup larut namun karena Appa dan Eomma memutuskan untuk kembali besok pagi dari Ulsan, yang arti lainnya aku di tinggal seorang diri di rumah untuk kesepian. Jadi, aku tak protes sedikit pun kala Kyuhyun Oppa memacu laju motor sportnya menuju ke sungai Han. Namun ketika mesin merdu yang kami tumpangi mencapai daratan Han river yang kuheran Oppa justru tak membelokan si MV Agusta ini pada lajur yang seharusnya. Anehnya, ia justru berhenti tepat di atas jembatan Banpo. Aku bingung, tentu saja. Hei, ini masih termasuk jalan raya kenapa ia berhenti seenak jidatnya?

Oppa . . . kita ‘kan belum sampai, kenapa berhenti?” tanyaku memberanikan diri menyelanya yang tiba-tiba turun dari jok motor dan langsung kuikuti.

Kyuhyun Oppa berjalan santai setelah menstandarkan motornya, seraya memposisikan diri bertopang pada batas jembatan yang langsung menghadap ke surga air, Han river. Hal tersebut pun kuekori, aku berdiri di sisi kanannya sembari menggenggam besi penyangga yang terasa cukup dingin dengan erat.

Pelan, kucoba untuk memejamkan mata guna meresapi aroma khas udara malam. Sejuk, suara-suara halus dari mesin-mesin mobil yang berseliweran baik di belakang maupun di jalan layang di atas kami menjadi dendangan alam yang menyahdukan.

Puas dengan daya imajinatifku, aku lekas beralih menatap Kyuhyun Oppa yang sedari tadi damai di tempatnya. Dari arah pandangku, terlihat ia tengah memejamkan kedua sorot tajam khas matanya, hidung tingginya kembang-kempis melakukan sirkulasi dengan tenang, pipi porselennya agak tirus dari yang terakhir kuingat. Dulu, ia chubby sekali ketika masa-masanya gemar mengejekku. Bibirnya terkatup namun entah efek cahaya dari mana kedua belahan tersebut justru tampak berkilat di mataku. Aneh?

Kyuhyun Oppa, sekarang ia sudah dewasa, badannya juga terkesan lebih kokoh jutaan kali lipat dari milik Cho Kyuhyun sang bocah labil berusia belasan tahun. Tuhan, benarkah dia Kakakku? Jika ia maka aku percaya karena pesonanya tak kalah dariku.

“Kenapa memilih fakultas Sastra Jerman? Kau ingin ke Jerman?” bukanya tiba-tiba membuatku mau-tak mau harus menyudahi lamunan nakal yang baru saja menjadikan wajah polosnya sebagai aktor utama.

Aku membuang pandangku darinya. “Di banding Jerman aku lebih ingin ke Russia.”

“Alasannya?” tanyanya sederhana.

“Kupikir bermain bola-bola salju di Moskow akan menyenangkan, menggembala rusa juga bukan ide yang buruk. Aku selalu suka musim dingin terutama Moskow,” jelasku penuh binar damba.

“Jika suatu saat kau berkesempatan pergi ke Moskow dengan siapa kau memilih untuk pergi?”

“Kau.”

“Aku? Kenapa aku?”

“Karena kau Oppaku. Appa dan Eomma sudah pasti tak akan membiarkanku pergi berdua dengan kekasihku. Jadi, aku akan mengajakmu juga untuk menemaniku.”

“Melihatmu berkencan? Menghabiskan waktu dengan pria antah berantah? Hah, sediakan saja satu truk kantung penadah mual karena aku akan menyiram pasanganmu dengan bekas muntahanku.”

“OPPA . . . kau jorok!” omelku sambil mencubiti lengannya.

“Aish, salah sendiri kau menyuruhku yang tidak-tidak.”

Dan aku terus-menerus menghujaminya dengan gelitikan-gelitikan brutal pada area pinggangnya. Sesekali kami tergelak tertawa bersama akibat rasa geli juga risih sebab ia juga balas melakukan hal serupa terhadapku. Dan jangan lupakan fakta kalau ia kakakku sehingga dengan mudahnya ia menemukan area-area sensitif pada tubuhku.

Oppa?” ujarku ketika kami sudah sama-sama kembali tenang juga hanyut memandang hamparan luas Han river.

“Hmm.”

“Punya sebab khusus mengenai kepindahanmu ke apartemen?”

“Emm . . . nothing,” jawabnya irit membuatku kesal karena sudah rela menungguinya mengeluarkan jawaban memuaskan.

“OPPA!”

“Mungkin agar bisa leluasa membawa teman kencanku mampir ke sarangku?”

Oppa . . . serius!” pintaku sebal karena aku tahu pasti yang barusan itu hanya sekadar candaan garingnya.

“Aku serius. Aku ingin hidup lebih mandiri, tak terlalu bergantung pada Appa dan Eomma, dan tentunya sedikit menyingkir dari prinsip hidup keluarga Cho.”

“Dengan menjadikanku mangsa? Kau jahat sekali membiarkanku menanggung beban berat silsilah Cho. Sementara kau berleha-leha dengan status bebasmu,” gerutuku tak terima sambil memasang wajah kebanggaanku bila tengah merajuk.

“Apa peduliku? Kita ‘kan tidak dekat.” Perkataannya entah bagaimana tapi terasa menohokku secara tak kasatmata. Ada belahan hatiku yang berseru nyeri tatkala Kyuhyun Oppa berujar demikian.

“Lagipula bila pun kuajak tinggal bersama kau juga pasti menolak,” imbuhnya kemudian.

“Jelas saja, kau dan aku itu berbeda. Kalau terjadi apa-apa siapa yang tanggung?”

“Tentu kita berdua, siapa lagi?”

Oppa, jangan gila. Berhenti bercanda!” sergahku gemas karena bagaimana bisa pria ini berpikir vulgar dan berkata blak-blakkan macam begitu? Tidak waraskah dirinya?

Hening, “Nara~ya.” Suara bassnya menarikku dari hampa berkedok kesunyian.

Aku melihat matanya yang juga sedang menatapku intens. “Apa?”

“Lee Jonghyun? Benarah pilihanmu jatuh padanya?” tanyanya.

“Begitulah,” jawabku ringan.

“Kesempurnaan jenis apa yang kau lihat dari sosoknya?” tanyanya lagi.

“Emm, sederhana?” Aku menjawab namun dengan nada yang terkesan tengah meminta pendapat.

“Lee Jonghyun, dia pria yang tampan namun di saat bersamaan juga bisa terlihat cantik. Ia mempunyai suara tegas yang merdu. Aku kerap kali mencuri-curi dengar jika ia tengah bernyanyi guna menghibur diri bawah pohon maple. Badannya harum, musk. Entah tahu dari mana tapi aku yakin kalau itu wangi kayu yang bercampur dedaunan. Dan gilanya mulai saat itu aku jadi maniak musk. Akan tenang kalau sudah mencium baunya. Selain itu, Jonghyun merupakan si cerdas yang mawas.

“Ia meski terbilang penganut otak jenius ala Einstein namun tetap rendah hati. Ia juga perhatian, hangat, penuh kasih sayang, dan yang terpenting ia mahir meluluhkan hatiku.” Aku menutupi mulutku yang tak mampu mengendalikan kikikannya kala menyudahi jabaran panjangku tentang sosok pria idaman hatiku.

“Tipsku yang ketiga, komunikasi.” Kyuhyun Oppa melirikku sekilas sambil lalu menuju arah motornya terparkir.

“Maksudnya?” tanyaku kurang paham dengan ke to the pointannya seraya menyejajari ayunan kaki tingginya. Meski aku juga cukup jenjang—170 cm tapi ia pria jelas lebih menjulang hingga langkahnya pun lebar-lebar.

“Saat kencan pertama, usahakan kau tak kehabisan bahan obrolan. Buat teman kencanmu senyaman mungkin bertukar cerita denganmu. Jangan singgung perihal masa lalu atau misalnya mantan kekasih yang bisa saja membuat mood rontok seketika dan kau pun tidak boleh gegabah membandingkannya dengan pria lain.” Kyuhyun Oppa berhenti tepat di sisi badan MV Agusta matt putihnya. Tubuhnya berbalik menghadap ke arahku.

“Lalu?”

“Naik!” Titahnya membingungkan. Hei, dia berniat membiarkanku mengendarai motor mahalnya ini seorang diri? Tidak takut rusak karena menabrak mobil? Jembatan? Atau jungkir kedalam sungai Han? Meski suka motor bukan berarti aku bisa berkendara bukan?

Namun dasar, Cho Nara kalau sudah dapat raut intimidasi dari si ahli Cho Kyuhyun, aku sama sekali bukan apa-apa.

Pelan aku merangsek mendekati benda besi keren tersebut. Hati-hati aku merangkak hendak naik sebelum di kagetkan dengan hadirnya sepasang lengan di sekitaran pinggangku yang tiba-tiba mengangkat beban tubuhku dan detik berselang aku sudah duduk manis, menyamping mengahadap Kyuhyun Oppa yang kini tengah berdiri tepat di depanku. Wajahnya berada tepat pada posisi muka. Dari jarak sekitaran 15 cm ini, dapat tercium oleh indra pembauku aroma oriental maskulin yang sejak tadi mengganjal hidung. Pria ini, ternyata ia tersangka penguarnya.

“Bukankah masih ada 2 langkah lagi?” ujarku mengikis kecanggungan yang tiba-tiba merayap.

“Hmm,” gumamnya pelan seraya tanpa mengalihkan fokus tatapnya padaku.

“Tapi ini sudah pukul 11.34 PM, kita lanjutkan lain kali saja?” usulku setelah melirik jam tangan sekilas.

“Aku tak suka sesuatu yang tanggung,” ujarnya lirih. Demi Tuhan, aku belum pernah mendengar intonasi err . . . sexy? Ini dari diri Cho Kyuhyun sebelumnya.

Bagaimana ia bisa sesexy itu? Sibuk berpikir tentang kata sexy membuat refleksku musnah dan tanpa sadar tahu-tahu wajah porselen mirip vampir-vampir Asia itu sudah berada dalam jarak tak kurang dari 7 cm di hadapan wajahku yang pastinya sudah semerah kepiting saus tomat.

Oppa?” gumamku mencoba menyadarkannya.

“Kau ingin tahu langkah ke-4 ‘kan?” ujarnya masih dalam posisi minim jarak dariku.

“Hmm,” benarku setuju.

“Ini, tipsku yang keempat.”

Aku tak tahu apa yang terjadi setelah kalimat tersebut selesai terucap yang kurasakan ada sesuatu pergerakan asing di atas permukaan bibirku. Basah, lembab, kenyal, sesak, dan emm . . .  Decaf?

Rasa kopi pahit itu begitu mendominasi dalam mulutku, sungguh seumur hidup aku hanya sekali menyesapnya kala SMA tapi kenapa kepekatan rasanya begitu kuhafal kini? Dalam gerakan-gerakkan yang teramat buram ini, kudapati suatu gelayar rasa ambigu bertajuk manis? Bukan manis seperti cherry, lollipop ataupun jus mangga kegemaranku. Manis ini berbeda, sulit untuk kudeskripsikan yang jelas aku melayang namun tak sampai terbang sebab tangan kokoh terasa melingkari punggungku.

“Bagaimana kau paham?” Suara lirih Kyuhyun Oppa menyambutku di alam sadar begitu kurasakan getaran asing itu telah lenyap dalam seketika. Namun bukannya menjawab aku justru ternganga, masih belum menangkap apa yang baru saja terjadi.

“Kencan pertama selalu di tutup dengan romansa. Yang baru saja kutujukan itu salah satu contoh bentuk romantika paling lazim bagi pasangan baru.”

Kissu?” tanyaku ragu.

French Kiss.” Kyuhyun Oppa membenarkan.

“Apa harus begitu?”

“Biasanya tak jauh dari itu, bisa lebih bisa juga kurang.”

“Apa Jonghyun akan berlaku begitu?”

“Kalau sampai ia berani berbuat yang seperti barusan di kencan pertama kalian. Tidak segan-segan kupatahkan tulang keringnya.” Dia ini konyol sekali. Tidakkah ia begitu krisis pendirian?

“Tapi Oppa bilang, kencan pertama memang demikian.”

“Aku hanya mencontohkan namun tidak pernah berkata kalau aku mengijinkanmu berbuat macam-macam pada kalender kencanmu bukan?”

“Tapi apa harus dengan merebut first kissku? Itukan untuk jatah kencan pertamaku.” Aku masih belum terima karena perbuatan semberono sepihak pria ini.

“Apanya yang istimewa? Aku ‘kan Oppamu. Lagipula kau tidak salah, ini ‘kan memang kencan pertamamu.”

“Hah?”

“Kau kira dari tadi kita sedang apa? Kencan, atau simulasi kencan. Jadi, tentulah yang selanjutnya tidak bisa lagi di katakana sebagai kencan pertama.”

“Lalu? Apa tak apa?”

“Apanya?” geramnya kesal.

“Kalau Jonghyun kebagian kecan kedua?”

“Kau suka?” Kyuhyun Oppa justru mengalihkan pertanyaan terhadap hal yang sama sekali tak kupahami. Bibirnya tertarik guna membentuk lengkungan miring.

“Suka, kissu?” tebakku asal.

“Tumben otakkmu cepat tanggap. Jadi, bagaimana? Pengalaman pertamamu?”

“Emm. . . menurutku kalau rasanya vanilla pasti lebih enak.”

“Hmm, tunggu sebentar!”

***

Sebentar? Makhluk itu memang ajaib sampai-sampai jabaran arti kata secepatnya saja ia telah membuatku seperti anak ayam kehilangan induknya selama 20 menit.

Sembari tengak-tengok bosan, akhirnya aku menemukan siluet berbayang dalam kegelapan. Sekali lirik aku juga tahu yang sedang berlari ke arahku itu, Cho Kyuhyun.

Benar saja, wajahnya langsung menyeruak memenuhi pandangku begitu jarak kami sudah cukup dekat. Dan kulihat ada yang berbeda, mulutnya tak sebersih ketika ia berangkat. Kini, area itu di lingkupi busa-busa halus berwarna soft white. Penasaran, aku menarik wajahnya untuk mendekat padaku. Dari jarak sekitaran 20 cm, sekarang dapat jelas terlihat. Jejak-jejak busa soda di sekitaran bibirnya. Aihh, minum soda tidak bilang-bilang. Aku ‘kan juga mau!

“Mau mencoba rasa vanilla?” ujarnya tiba-tiba.

“Hn?”

Luncuran berkubik-kubik air mancur pelangi di sisi jembatan Banpo bahkan kalah menarik dari sumbatan berasa lembut yang singgah di atas bibirku kini. Vanilla, aku berteriak histeris dalam hati mengakui kalau rasanya enak sekali. Lembut, manis, dan tak buru-buru. Mataku bahkan sudah kupejamkan guna mampu meresapi rasa khas yang baru kupelajari.

Aku tak tahu kenapa perutku terasa nyaman dengan gelora kepakan sayap kupu-kupu. Sebab ini luar biasa . . . .

“Nara~ya, saranghae.” Kyuhyun Oppa berbisik di sekitaran cuping telingaku.

Dan gerak refleks memaksaku untuk mendorong tubuhnya menjauh. Apa? Barusan ia berkata apa?

Oppa?” tuntutku mencoba tidak mempercayai apa yang kudengar tadi.

Saranghae.” Bukannya mengatakan ‘aku bercanda’ ia justru mengulangi kalimat yang paling tak ingin kudengar. Dia itu apa-apaan?

Oppa kita sau—“

“Esok, kujamin Jonghyun akan berkata demikian.”

“Hn?”

“Yang kelima, kencan pertama haruslah berakhir dengan ungkapan cinta. Pastikan telingamu mendengar kata ‘saranghae’, Cho Nara.”

Dan tanpa kusadari lengkungan kecil tercipta pada sudut bibirku. Dengan tanpa pikir panjang aku langsung melompat dari atas motor untuk jatuh pada pelukan erat Kyuhyun Oppa. Ia memelukku sambil memutarkan tubuhku. Dari sini kulihat air mancur Banpo yang sewarna pelangi menyembur indah mengiringi derai tawaku. Aku menyayanginya, Kyuhyun Oppaku, baik yang menyebalkan, sering mengejekku ataupun si pengajar privat kencanku. Ia adalah Cho Kyuhyun takdir kakak untuk Cho Nara.

END

Iklan

6 thoughts on “Dating . . . ?

  1. ini gimana ceritanya thoooor
    gangertiiii
    harus ada sekuel iniii huhu
    kenapa kaya giniii
    tapi ide ceritanya betulan bagus. ga kebaca dan ending gantungnya jempol bgt
    keep writing thoor

  2. Kenapa aku merasa Kyuhyun memang benar benar mencintai Nara.
    Dia berkunjung kerumah orang tuanya saat mendengar kabar bahwa Nara akan kencan. Menggunakan alasan mengajari tentang kencan pertama, karena memang ingin mengambil kesempatan pertama. Memberitahu hal hal yang tidak boleh dilakukan.
    brother romance. Cerita yang selalu membuatku terharu dan sedih.

  3. annyeong,, aku reader baru dsini
    tau wp ini dri sujuff.. tulisan kakak bgus 🙂
    apa mreka saudara kndung?? klu iya,, brrti kyuhyun itu brother complex??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s