Our Wrecked Marriage [Donghae Edition]

OWM [Donghae Edition]

AUTHOR : rywei19

TITTLE : Our Wrecked Marriage [Donghae Edition]

GENRE : Angst, Marriage life, Psyco

LENGTH : Oneshot

RATED : PG-15

MAIN CAST : Lee Donghae, Park Yumi, Song Joongki

DISCLAIMER : This fanfict is mine,The casts in this fict are  God’s so don’t be a plagiarism!  Don’t  Copy and Paste My Fanfict  without  permission!

 AN : Juga publish di berbagai blog^^

Warning Typos

***

Park Yumi Pov

Hujan masih menyisakan jejak-jejak kesinggahannya, langit kelabu berangsur-angsur menyibakkan kekelamannya. Mendung putih itu terus setia menggantung di langit sembari tiada henti mengucurkan tetesan-tetesan ringan air bening bukti siklus hidrologi. Lagi aku melebarkan kedua sorot mataku guna mendongak menatap langit, diam-diam hatiku berdoa, mengadu, meminta belas kasih dari Sang sumber pemberi kehidupan.

Tuhan… kenapa Engkau menciptakan kesakitan?

Apakah sakit yang Engkau maksud adalah seperti yang sering menerpaku?

Apakah sakit itu berisi keperihan yang sering menerjangku?

Apakah sakit itu ketika rasanya hatiku hampir lenyap ataukah saat jantungku hampir rutuh dari keterkaitannya?

Mataku kadang tak sanggup untuk membendung desakkan tangis yang hinggap dalam relung kelopak sana bahkan tak jarang banjir air asin menenggelamkan wajahku. Dadaku sudah ribuan kali mengalami sesuatu yang disebut dengan kesesakkan, hantaman benda keras seolah-olah begitu rajin memukul jiwaku.

Tidakkah Engkau bersedia untuk mengibaiku, Tuhan…?

Tidakkah Engkau tertarik untuk membuang rasa sakit itu dari muka Bumi-Mu atau setidaknya menyingkirkannya dari lajur hidup hambamu ini?

Aku sudah terlalu lelah Tuhan….

Takdir terlihat begitu menikmati kesemrawutan jalan biduk hidupku..

Jika demikian lebih baik dulu Engkau tak perlu menghendakiku bersamanya…

“Yumi~ya… gwenchana?” Ucap sebuah suara yang tak  asing buatku  tiba-tiba datang menggurui acara pengaduanku pada Tuhan. Secepat kilat, aku mengalihkan seluruh fokus yang beberapa saat lalu sempat tercurahkan pada alam. Ku tatap samping kananku dengan raut pilu lengkap dengan hiasan air mata di baliknya. Aku mengerjap sekali… dua kali… dan berkali-kali tapi tak ada yang berubah, wajah itu masih anteng di posisinya, senyum ringan penuh pesonanya masih setia menerangi raut muka yang selalu di bangga-banggakannya tersebut. Benarkah ini… bukan sekedar halusinasiku semata?

“Menangis lagi? Cengeng sekali.” Ujarnya mencibir namun aku tahu itu tidak sedikitpun mewakili hatinya sebab gesturenya tetap belum mampu menyembunyikan rasa khawatir yang menaungi dasar perasaannya.

“Uljima…” Ia menyuarakan kegelisahan terpendamnya jua akhirnya.

Aku menunggu….lama aku menantikan tindakan khas yang biasa ia lakukan bila mendapatiku menangis di hadapan dirinya. Namun nihil… ia nampak tetap bergeming di tempatnya berdiri tepat di sisiku, menjaga jarak kosong di antara kami tetap sama tak berkurang secuilpun.

“Aku merindukanmu…” Akunya masih tetap mempertahankan posisi tersebut dan justru membuatku merasakan kemuakan membuncah di dalam dasar jiwaku. Aku tahu… tanpa ia menyuarakan hal tersebut pun aku pasti paham sebab aku juga begitu merindukannya, sentuhan-sentuhan ringannya dan sesuatu hal yang begitu elementer serta sangat mencirikan dirinya, aku ternyata terlalu haus akan aromanya…

Lalu tidakkah ia dapat merasa sedikit saja mengerti  perasaanku? Tidakkah ia bersedia untuk memperingan kekeringan yang menerjangku?

“Aku rindu suaramu.” Terangnya lagi dan mau tak mau untuk kesekian kalinya hatiku dipaksa mengumpat serta mencemooh polah tak pekanya itu.

“Aku rindu menatapmu.” Lantas dengan seluruh penuturannya yang baru kusadari justru membuat rasa merindu dalam diriku akan sosoknya  membuncah drastis itu telah cukup guna mengobati seluruh rasa rindu yang di maksudkannya tersebut?

Tidakkah ia egois? Tidakkah ia justru terlihat menyepelekan diriku? Apa dikiranya hanya dia seorang yang begitu tersiksa dalam menghadapi masalah kerinduan hati? Fikirnya hatiku normal-normal saja? Mampu puas dengan semua pengakuan tersebut?

“Aku.. merindukan semua yang ada di dirimu, harum parfummu yang selalu ku bau, candaanmu yang menyambut pagiku, kebaikan sikapmu yang sanggup membimbingku, umpatanmu yang menaungi segala polahku, rengkuhan lembutmu kala menyanggaku bangkit dari kesulitan,  juga hangat belaianmu di sepanjang waktuku.. tak ada satu pun hal yang tak membuatku bisa tenang, aku sangat rindu dirimu, Yumi~ya..”

“Apa menurutmu hanya kau saja yang repot menangani kesakitan akibat perasaan rindu yang menggebu?” Aku berteriak menyerukan kekecewaanku tepat mengahadap bagian samping wajahnya. Entah sudah berapa lama aku tak kuasa melakukan hal ini, aku sudah tak mampu lagi untuk mengingat masa-masa terakhir saat aku gemar membentaknya yang begitu ceroboh ataupun mengesalkan dimataku.

“Aku juga sangat merindukanmu. Hidup terlalu rumit untuk ku mengerti terlebih untuk ku jalani. Waktupun bergulir terlalu lama, aku lelah… seorang diri, lembah ini terlalu curam jika harus aku yang lalui. Bohong… kalau aku berkata aku tak marah padamu maka itu dusta. Karena mana mungkin aku baik-baik saja setelah mendapatimu berbuat begini padaku. Mengetahuimu tiba-tiba beranjak hilang dari sisiku bukanlah perkara mudah, aku tidak biasa.” Aku mengambil jeda guna menyimpan kembali persediaan oksigen dalam rongga paru-paruku seraya juga sebenarnya ingin meneliti, mencermati dan menangkap raut macam apa yang kiranya sedang terukir di wajah miliknya sekarang.

Rintik hujan yang menerpa pangkal-pangkal hamparan rumput hijau di depan sana ternyata lebih menarik  di matanya di bandingkan dengan menatap wajahku yang katanya dirindukannya itu. Ia… tak meliriku sedikitpun.

“Pernah suatu waktu, aku mencapai titik puncak kebencianku terhadapmu sampai-sampai mendengar namamu pun terasa menjijikan buatku, tapi entah penghianatan macam apa yang berhasil di lakukan hatiku hingga akhirnya selalu berujung dalam jebakan mencinta yang kian besar setiap masanya. Ku akui aku muak terhadapmu bahkan saat ini pun mungkin masih begitu namun sepertinya kau patut bersyukur karena berhasil mempengaruhi inti perasa yang kumiliki, sebab hatiku selalunya memompakan berjuta kali lipat rasa cinta ketika aku memutuskan untuk mulai membencimu.” Jelasku mengutarakan apa yang telah lama tersimpan jauh di relung jiwaku.

“Lalu dengan kenyataan yang demikian, apa menurutmu aku bisa melupakan segalanya?” Lanjutku seraya menahan beribu kesakitan yang tercipta akibat tingkah tak kunjung pahamnya.

“Seperti apa adanya sifat alamiah yang kau miliki, akupun tak mempunyai kebisaan untuk menerka arah takdir sehingga sulit juga bagiku bila harus mempersiapkan jawaban tertepat dari garis hidup yang di masksud tersebut.” Ia berujar lirih tanpa sekilas pun memandangku. Begitukah yang dikatakannya rindu?

Kali ini otakku tak berhasil menemukan ekspresi tertepat juga akurat untuk ku praktekan. Hanya seutas senyum kecut rangkaian bibir ini saja yang sanggup ku keluarkan. Sepanjang hidup, baru kali ini… ia mengabaikanku.

Flash back     

 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku tak pernah bosan mengunjungi Yunjungno Avenue, musim semi terlalu indah bila harus ku lewati tanpa merasakan sensasi mengagumkan di baliknya. Lautan pohon cherryblossom yang tengah menampilkan kerimbunan bunganya adalah satu dari seribu jenis keindahan yang sama sekali tak ingin ku abaikan. Masih sambil memboyong sepeda keranjangku, langkah-langkah ringan dari sepasang kaki mengantarkanku tepat ke arena persinggahan kota Seoul, bukan sebuah tempat sunyi ataupun sumber segala jenis ketentraman. Di sini, dalam pandangan mataku justru terlihat begitu banyak kerumunan manusia yang seperti tengah membuat barikade, membanjiri jalanan luas Ibukota.

Dengan perasaan ragu aku memutuskan untuk mengarahkan mataku guna menelusuri lekuk sugguhan pemandangan di depan sana. Nampak puluhan spanduk merentangkan diri di sepanjang jalan, turis-turis asing juga tak ketinggalan ikut berpartisipasi pada kesempatan kali ini, membuktikan bahwa wisata Korea telah semakin digandrungi penduduk luar negeri. Samar-samar aku mendorong otakku untuk mencerna situasi macam apa ini? Bak seperti mendapati hujan di ketandusan, seketika itu pula aku mampu bangun menyambut kesadaran, ini musim semi..  Yunjungno, Marching band adalah suatu tanda yang tak bisa di lupakan. Tentu saja, siapa orang yang rela berdiam diri dalam rumah kala di luar sini hadir Festival Musim Semi Yeouido? hanya manusia-manusia tak mengerti arti surgalah yang sanggup menghindarinya.

Semangat tempur melingkupi jiwaku saat tubuh ini bergerak, menyusuri jalanan padat tak bercelah itu, sepeda juga kotak susu yang ku angkut tak sedikitpun membatasi pergeseranku. Jarang-jarang aku mempunyai waktu luang untuk bermanja ria pada alam dalam hidup. Selama 20 tahun aku di utus menjalani tugas khusus dari Tuhan yang di sebut dengan kehidupan, kerjakuku tak jauh-jauh dari mengantar susu ke rumah-rumah pelanggan setia milik Pamanku, terkurung dalam ruangan super sepi bernama ‘Library’ di Seoul Foreign Language High School 3 tahun lamanya, ikut berjualan Fried Chiken di kedai pinggiran Kota kepunyaan Song Joongki—satu-satunya temanku. Dan aktivitas rutinku yang tak mungkin untuk kusudahi yaitu memperhatikan segala detail perawatan terhadap kuda-kuda pacuan di lingkungan rumah tinggalku bersama Paman juga Bibi. Setelah lulus sekolah menengah, aku memang sengaja di kirim ke Seoul oleh kedua orang tuaku yang kebetulan menjalani hari-harinya di area pedesaan kawasan pertanian kota Busan. Mereka bilang ini untuk kebaikanku, guna meraih segala mimpi-mimpi yang ku dambakan, Seoul jelas menawarkan kepastian untuk mewujudkan hal tersebut. Meski kenyataannya tak semudah bibir terkatup kala berbicara. Bertahan, tak terluka, menemui hari esok adalah perjuangan yang tak ringan, namun aku tetap selalu berpegang pada perkataan kedua orang tuaku sebab aku percaya adanya Tuhan yang tak pernah tidur sama seperti petuah keduannya dan itu kurasa berdampak dalam kelangsungan hidupku selama ini.

Dukk…

Aku tak yakin dari mana asal pasti suara tersebut menyeruak tapi setelahnya kurasakan pergerakanku terhenti. Alasannya? Entahlah…  seperti terjadi suatu kendala yang menyerang kendaraan pribadi—sepeda mini kesayanganku.

Dari arah hamparan lautan massa di seberang sana, aku beralih memfokuskan pandanganku ke sisi di mana terasa suatu kejanggalan tadi bersumber.

DAMN

 

Aku menyerapah mantra-mantra terkutuk lainnya di dalam hati. Ottokhae??

Seorang pria berdiri dengan gaya pogahnya tepat di ujung ban sepedaku. Hah.. entah seperti apa ekspresi kemarahan yang tengah tercetak di atas permukan wajahnya kini akibat tingkah cerobohku tanpa sengaja menyerangnya. Meski tidak seratus persen yakin karena sejak tadi aku sibuk melamun tapi nampaknya aku berhasil merikeskan atau lebih parahnya lagi mengotori setelan jas perlente yang ku yakini berlabel serta berharga dengan kisaran nominal selangit itu. Huh… sudah tidak heran hal semacam ini menghinggapiku, setidaknya setiap 7 kali dalam seminggu aku pasti berbuat ulah akibat sikap tak hati-hati alamiahku. Namun tidak menyangka juga kalau kesialan itu hinggap di hari indah ini. Tak perlu di tebak, korbanku pasti akan mendendaku, meminta ganti rugi, dan paling lumrah serta telah sangat wajar adalah memaki, membentak, menggertak, memarahiku, menyindir dan tindakan-tindakan sejenis lainnya.Telinga ini bahkan telah kebal dengan hal-hal macam itu.

Masih malas untuk berancang-ancang meladeni aksi kemarahan yang siap meledak dari lawan tatapku, perlahan aku mendongak mencoba mencari letak sorot matanya yang mungkin sudah tak sabar ingin mengintimidasi diri ini.

“Kau….” Telingaku menangkap suara ini serta langsung mengategorikannya kedalam kelompok tegas juga menenangkan. Mwo…?? Apa fikiranku tak salah menganalisis?

Susah payah aku berkelahi, menentang fakta yang baru saja di lontarkan buah fikiranku dan akhirnya dapat… aku menemukan sorot mata kecoklatan yang meneduhkan tengah menatapku penuh kemengertian. Bening, tak sedikitpun tersirat api kemarahan di dalam sana, sebuah sorot yang baru pertama ku temukan, satu-satunya sorot yang mampu mempengaruhiku bahwa ada hal lain lagi selain musim semi yang sanggup menentramkan hati karena kemenakjuban pesonanya. Dan tidak tahu kapan di mulainya.. tahu-tahu aku telah lekat-lekat terperangkap dalam jeratannya.

“Gwenchana?” Lanjutnya tenang. Dan.. My Lord, apa engkau memang masih menyimpan stock orang baik di Bumi-Mu? Dia… kenapa pria ini tak membentakku? Kenapa pria ini tak menghardiku? Kenapa pria ini tak menuntutku? Kenapa pria ini.. kenapa dia justru mengkhawatirkan kondisiku? Apa dia sungguh-sungguh makhluk yang sejenis dengan kaumku, Tuhan? Benarkah dia itu bukan Malaikat-Mu? Kenapa ia berbeda dari manusia-manusia lain yang sering kujumpai?

“Agasshi, Gwenchanayo?” Lagi suaranya menyiram indera pendengaranku dengan sabarnya.

“Emm..” Jawabku singkat disertai dengan menghadirkan anggukan kepala ringan.

“Syukurlah..” Dan entah ketidakwarasan seperti apa yang tengah mewabah kini, sehingga detik itu juga untuk  pertama kalinya hatiku merasa kalau Tuhan harus benar-benar menghentikan perputaran laju Dunia-Nya. Pernahkah ada yang mendapati suatu sinar yang lebih dahsyat efeknya dari warna-warna terang pelangi yang timbul sesudah turun hujan? Atau penahkah ada yang mempelajari bahwa terdapat arus lain yang lebih mengejutkan dari pada kejut listrik? Mungkinkah di dunia ini ada yang lebih menyilaukan melebihi sinar mentari menyengat di tengah hari? Bukankah… terdapat suatu pergeseran yang menyerang sistem tubuh atau bahkan organku? Sebab bagaimana bisa hanya karena sebuah tarikan sudut bibir yang lumrahnya orang menyebutnya sebagai senyuman, aku langsung mendapati segala ketidakmungkinan tersebut. Dan ku mohon jangan salahkan aku kalau mulai saat itu aku melegalkan lengkung bibir indahnya sebagai prioritasku, suatu keinginan yang sejak saat itu posisinya mampu melebihi seluruh daftar mimpi yang ku puja dari rentan masa lalu. Senyummu… tetaplah tersenyum, ku harap kau tak pernah bosan serta terus sudi menyunggingkannya di hadapanku.

Flash Back End

Bola mataku mulai bergerak resah setelah melalui kenangan-kenangan yang ternyata masih tersimpan rapi dalam folder masa laluku. Perlahan aku kembali mencoba mengarahkan fokus pada arah samping kanan tempat dimana orang yang amat kurindu tadi berada.

Dan.. Kosong

 

Layaknya psycho.. aku kehilangan kendali, menyorotkan indera penglihatan dengan brutal ke hamparan luas yang mampu kutembus. Tak cukup hanya begitu, tubuhku bahkan telah bergerak refles menjalankan keaktifannya untuk berkeliling menghujam seluruh sudut yang mungkin dapat menyembunyikan objek utamaku. Air mata… tanpa diragukan lagi segera memenuhi permukaan wajah tegang juga khawatir ini. Deru nafas yang terengah-engah sama sekali bukan persoalan besar buatku, asalkan mendapatinya, asalkan mampu memastikan kalau orang itu bukan hasil imajinasi otak mutakhirku belaka, asalkan bisa kembali melihatnya disekitarku, maka tidak ada lagi hal  yang menyulitkan.

Langkah-langkah letih menghantarkanku menuju sebuah ruangan yang terdapat di salah satu bagian penting bangunan kediaman milikku sekaligus dirinya. Masih dengan mengantongi kesibukan sebagai penyuplai air mata, lagi-lagi aku terenyuh dengan pemandangan yang menyinggahi mataku sekarang. Perlahan namun pasti, aku berangsur-angsur mendekat ke arah objek menarik tersebut diam.

“Oppa..” Tegurku lirih sebab telah terlalu letih dengan segala situasi ini.

Sunyi… Ia tak menjawab sapaanku, apakah terlalu pelan hingga ia sulit menangkapnya?

“Oppa..” Lagi aku menyuarakan panggilanku terhadapnya, air mata asin ini bahkan telah sukses membanjiri seluruh mukaku. Sakit… semua hal ini terlalu menyulitkan bagiku.

“Oppa…” Makin lama langkahku kian dekat dengannya namun ia justru tetap bergeming akan seruanku. Mengapa?

“Yumi~ya…” Telingaku masih cukup baik dalam menjalankan tugasnya dan suara ini terlalu pekat ingatannya dalam benakku. Jadi mana mungkin bisa salah, seratus persen aku yakin bahwa ini memang suaranya.

Mungkin terlalu berlebihan bila ku tegaskan kalau detik ini rasanya bunga-bunga hadir memenuhi anganku yang efeknya berhasil melegakan seluruh komponen diriku. Tapi begitulah kenyataannya, dia selalu bisa membuatku merasakan suatu keberbedaan.

“Aku lapar.” Akunya tiba-tiba yang tanpa sadar membuat kedua sudut bibirku berhasil menarik lengkungannya. Sebuah fakta dimana kenyataannya ia mungkin masih cukup mempedulikanku. Jadi mana bisa apabila tak acuh saja bukan? Dengan berbekalkan semangat menggebu, aku mulai melangkah menuju suatu tempat yang biasanya sering ku diami, dapur. Seraya terus memperhatikan sosoknya yang tengah duduk tenang menempati sebuah kursi tepat di depan pantry, diri ini lalu sibuk mengumpulkan bahan-bahan penopang untuk menyukseskan pembuatan makanan yang sudah kurencanakan. Sepanjang waktu tak pernah sedikitpun kelelahan mendera, aku selalu mencoba mencuri-curi jeda waktu guna meniliknya. Dapat di kategorikan berlebihan memang bila setiap 1 menit 5 kali aku tiada henti menengok kearahnya. Demi Tuhan hatiku was-was sekali, takut kejadian seperti di halaman tadi kembali terulang, ia menghilang dengan tiba-tiba.

Dua puluh menit sudah berlalu dan kelegaan tanpa ragu menyerang helaan nafas ini. Alasannya? Tidak lain karena dalam rentan waktu puluhan menit tersebut aku dapat memperoleh kepastian akan hasil pembiasan yang di perbuat oleh indera penglihatanku bahwa pria tampan di depan sana sungguh bukan hasil ilusi kerinduanku semata. Perlahan namun bisa di pastikan berkeyakinan, aku berangsur-angsur menapaki lantai menghampiri pria itu tak lupa pula dengan di bekali oleh 2 piring wadah spaghetti yang tengah ku genggam erat. Embun-embun dalam kelopak mataku terasa belum sepenuhnya lenyap akibat aktivitas tangis yang menderaku beberapa saat lalu tetapi hal tersebut tidak mampu menghalangi aksiku untuk duduk, menempatkan diri di atas kursi tepat di hadapannya. Tanganku dengan ringan meletakkan 2 piring makanan yang baru saja berhasil ku ciptakan ke depan tubuhnya sementara organ lain kepunyaanku pun turut tak mau ketinggalan untuk tak pernah jenuh meneliti sosoknya. Entah apa alasannya, yang jelas dasar hatiku sejak tadi terus berteriak mengakui ketidak akan pernah puasanku akan kehadiran dirinya.

Lama waktu terlalui dengan isi utama, aku yang hanya melihatnya memakan spaghetti favoritnya dengan lahap seolah-olah telah jarang menjumpai menu tersebut serta tanpa sadar untuk ke sekian kalinya aku mampu tersenyum simpul akibat ulah gesture maupun tindak-tanduk alamiahnya itu. Sejak dulu ia memang berbeda.

Mencoba beralih sejenak dari pesonanya, aku memutuskan untuk sedikit melirik menu spaghetti milikku. Terlihat menggoda, aromanya pun tercium cukup lezat. Maka tak ada salahnya bila lidahku mencicipinya sekilas, merasakan dengan begitu tak terima makanan tersebut menaungi lambungku yang baru tersadari telah lama tak kumanjakan dengan asupan-asupan penyokong laju hidup. Aku terlalu enggan untuk berbuat ini oleh karenanya keputusan mengarahkanku kembali menekuri kegiatan semula—memandangi wujud pria itu, aku menengok ke arahnya berada..

 

Kosong….

Lagi layaknya dejavu aku mendapati kursi di hadapanku memampangkan visualisasi yang berupa kehampaan.

Pria itu dimana?

Dengan penuh rasa gusar, aku mendorong kursiku cepat. Mendirikan tubuhku kilat seraya langsung berhambur mengayunkan langkah gontai guna mengitari arena tempatku berdiam. Kedua sorot bola mataku tiada henti bergerak resah dalam keterbukaannya seakan mengikuti alur detak jantungku yang juga sama tak tenangnya. Sisa-sisa deru nafasku jua tersenggal penuh ketakutan. Rinai-rinai air mata telah sukses menuruni permukaan wajahku yang sebelumnya pun sudah sembab.

Aku takut…

Rasanya seperti tengah di dikte dalam menghadapi kematian. Kejadian ini seolah sedang membelenggu nyawaku yang masih menggantung pada raganya. Memaksaku agar bersedia melepasnya hingga efeknya timbulah sembilu hebat di dalam sana.

Sakit… dadaku nyeri sekali.

Bahkan saking memilukannya sampai-sampai aku tak menyadari kalau telapak tanganku telah berhasil membuka batas ruangan yang dapat menghantarkanku ke sebuah tempat  dimana biasanya aku bersama pria itu sering menghamburkan waktu. Pintu dengan gagang perunggu tersebut akhirnya terjeblakkan akibat ulah tanganku, menampilkan suatu pemandangan di dalamnya yang mampu meringingiskan gigi-gigiku.

Aku menyeringai dalam tangis kelam ini menyaksikan lagi munculnya siluet itu yang nampak begitu gemar menarik ulur pilu hatiku. Tetap bertahan dengan air mata yang tak kunjung mau berhenti, aku berjalan menelusuri lantai-lantai marmer dengan kadar dingin menusuk. Sungguh terasa ketika kekerasannya membelai kulit bawah telapak kakiku. Pelan-pelan.. dalam langkah ini tiada objek lain yang menjadi acuanku. Hanya dirinya…. mata ini tak sanggup berpaling dari sosok mempesona itu. Tetapi entah mengapa rasanya saat ini waktu berjalan dengan begitu lambat, membuatku sulit untuk sekedar mengayunkan kaki yang terkesan justru hanya seperti rangkakkan siput belaka bagiku.

Lama…

Dan aku benar-benar sudah tak sabar dengan kondisi tubuhku yang tak kuasa mengejar sosoknya, akhirnya ku putuskan untuk menggerakkan tanganku dalam hal ini agar dapat terjulur—menjangkaunya.  Namun lagi lagi waktu seperti tengah memerangi apapun usaha yang sedang ku perjuangkan. Sedari tadi selalu saja di halaunya. Tak cukup demikian, kini waktu bahkan merobohkan tubuhku ke atas lantai, memaksaku untuk menghentikan segala bentuk upaya guna dapat meraih sosok itu. Aku terjerembab, karpet beludru yang tergelar di tengah ruangan menjegalku dengan lilitannya, menggagalkan keinginan terbesarku menjejakkan diri di hadapan pria itu yang kini tengah sibuk dengan kegiatan menatap hujannya dari balik jendela kamar.

Aku mengerang begitu merasakan ngilu di sekitar dagu. Ahhh… sepertinya aku jatuh tidak dalam posisi yang menguntungkan sebab baru saja aku menyadari keanyiran menyeruak menyiram indera perasaku. Darah… aku sesegera mungkin mengurungnya dalam rongga mulutku.

Kucoba mengabaikan kesakitan tersebut, mata sayuku kembali menyoroti tempat dimana pria itu berdiri beberapa saat lalu. Dengan perasaan khawatir yang membuncah, aku memberanikan diri guna sekali lagi mengeceknya sembari hatiku terus berceloteh memanjatkan baris-baris permohonan pada Sang sumber kehidupan agar berkehendak membimbingku dalam rengkuhan anugerahnya kali ini.

Wajah dengan rahang tegas itu menampilkan raut muka yang selalu ku puja, kali ini hanya dari satu sisinya.

Ya Tuhan… aku merindukannya, jujur hatiku begitu bergelora mendapati keberadaannya yang tetap di sudut mata.

Dia…. Tanpanya hidup pemberianmu bukan apa-apa bagiku, Tuhan…

Terima kasih.. terima kasih Kau telah mengutusnya untuk menemaniku menelusuri lajur rumit ini…

Terima kasih karena Kau sudah mengijinkanku bercengkrama dengannya selama ini…

Terima kasih karena Kau masih bersedia menjaga hatiku untuknya…

Dan bagaikan asap yang menguar akibat tertiup angin, mataku melebar, mempertajam dayanya kala menyaksikan sendiri dengan penuh sadarnya bahwa sosok itu menghilang dari sana.

“Oppa…” Gumaman ini lagi lagi terloloskan dari celah mulutku lengkap satu paket bersama kepiluan yang menyergap.

“Oppa…” Aku masih mengumam lirih tak percaya.

Menangis… selain cara ini, aku tak tahu lagi harus berbuat apa? Dengan susuah payah aku membangkitkan diri dari atas lantai dingin—sang pengganjal. Menegakkan kakiku yang tengah dilanda gemetar hebat, dalam laju ini aku mencoba kembali menghampiri tempat dimana sosok itu terbias terakhir kalinya.

***

Gemericik hujan menjadi satu-satunya latar menghanyutkan di balik kaca transparan yang berembun. Layaknya baru mendapati sebuah pemikiran pencerahan, aku bergegas menggiring tubuh lunglaiku menuju arah pintu kamar.

Mataku langsung saja sibuk untuk meneliti setiap lekuk yang tergambar di depan sana, menyorotinya tanpa celah, dan entah apa yang terjadi tiba-tiba saja segalanya terpaksa harus terhenti. Kepalaku menghadap ke satu titik dan tak bersedia mengijinkan organ lainnya untuk berpaling, di sini, dari sudut ini. Sekarang aku tahu kenapa di setiap paginya pria itu selalu tak pernah absen berdiri, menyandarkan bahu kekarnya di pintu ini. Dia tidak mau duduk tenang sambil membaca Koran atau sekedar minum teh sembari menunggu sarapan di kursi makan, alasan utamanya bukan karena ia tak suka mencium bau uap roti panggang, sup daging, bubur nanakuza atau masakanku lainnya seperti yang selalu ia utarakan karena dari tempat ini, sisi ini, arah ini, satu.. fokus paling utamanya hanya satu, diriku. Kenapa aku tak pernah tahu? Kalau dari tempatnya berdiri menunggu selesainya menu sarapan pagi yang ku racik, pria itu selalunya bisa melihatku dengan jelas, gerak-gerikku yang tengah bergelut dengan sejuta peralatan dapur, memotong sayur, atau mengumpati isi kulkas yang terkadang tak sesuai harapanku. Dia…

Aku menggeser sedikit arah pandangku menuju sisi ruang makan tertata, tepat di depan pantry. Dan  di sana sungguh jelas tersuguh pemandangan nyata 2 piring spaghetti tergeletak manis saling berseberangan di permukaan meja, utuh, tak tersentuh. Jadi yang tadi itu…?

“OPPA…” Berteriak merupakan opsi termungkin saat sekarang, sebab aku tak mau menyerah untuk menemukannya.

“OPPA..” Dan aku tak akan putus asa sedikitpun untuk membuktikan kalau dirinya sungguh ada di sekitarku, kalau dirinya benar-benar nyata hadir kembali di hidupku.

“OPP…” Aku menggigit bibir bawahku keras setelah menemukan gambar jelas itu di depan sana.

Aku mematung, melihatnya yang nampak tengah sibuk memasang dasi warna biru powder bergradiasi hitam itu ke lehernya. Tangan kekarnya berkali-kali membelit-belitkan simpul rumit tak berbentuk yang amat sangat tak patut untuk di banggakan.

“Ahhh… bodoh, kau memang tak berbakat. Kemari, biar aku yang pasangkan!” Suara ini tiba-tiba hinggap di rongga pendengaranku. Suara seorang wanita yang sangat ku kenali, yang sangat ku hafal, yang sangat ku tahu.. sebab ini ku yakin tak lain adalah suaraku. Seorang wanita berdress selutut dengan motif bunga warna hijau itu menghampiri arah pandangku, ia berdiri tepat di hadapan tubuh jangkung milik pria yang amat kucintai. Selang beberapa detik, tangan mungil sang wanita seperti telah terlatih sebab buktinya tak harus menunggu berpuluh-puluh detik berlalu, simpul cantik telah berhasil terpasang menghiasi arena leher pria itu.

“Hmmm.. Otthe?” Ujar suara wanita itu—aku dalam pandanganku.

“Kau yang terbaik…” Puji suara tegas kepunyaan pria tersebut seraya sesaat setelahnya jiwa romantisnya kembali mempertontonkan adegan rutin yang kerap ku alami, ia.. mengecup pipi kanan wanita itu—aku.

“Oppa….” Wanita itu—aku dalam pandanganku merengek, sama persis dengan gayaku. Tentu saja karena dia kurasa memang diriku yang entah bagaimana caranya bisa hadir dalam penglihatanku sendiri. Adegan itu pun rasa-rasanya pernah teralami sebelumnya olehku di salah satu hari yang ku lalui bersama pria itu.

***

“Oppa…” Lagi aku seperti hampir gila sebab untuk kesekian kalinya mampu mendengar bahkan menyaksikan sosokku sendiri padahal nyatanya aku masih mendiami raganya.

Langkah kaki membimbingku memasuki ruangan kamar utama kami untuk dapat memastikan asal suara wanita yang ku yakini memang aku, mengudara baru saja.

“Wae?” Respon pria itu yang kini tengah duduk tenang di atas tempat tidur sembari tangannya aktif guna memainkan ponsel.

“Bagaimana dengan foto ini? Bagus bukan?” Tanya aku yang tengah ada dalam bingkai penglihatan mataku sendiri.

“Hmm..?” Pria itu mendongak, mengalihkan tatapan fokusnya ke arah wanita itu—aku bersuara. Sedangkan aku sendiri yang tengah bertindak seakan-akan sebagai penonton memutuskan untuk mengikuti tindakan pria tersebut.

“Joha…” Komentar Pria itu puas. Dan mataku lagi lagi melebar sempurna, menyadari adanya suatu kebenaran dari gambar sepasang mempelai yang terpasang cantik di permukaan dinding.

“Aku Lee Donghae bersedia menerima Park Yumi sebagai isteriku dan berjanji akan mencintainya dalam keadaan sehat maupun sakit, menjaganya dengan segenap kemampuanku, membahagiakannya  di sepanjang waktuku, menempatkannya sebagai satu-satunya wanita di hidupku.”

 

            “Aku Park Yumi bersedia menerima Lee Donghae sebagai suamiku, mencintainya dengan seluruh hatiku dalam keadaan sehat maupun sakit, mempercayainya sebagai pendampingku dan akan selalu setia sebagai satu-satunya wanita yang singgah di hidupnya.”

Dan hari itu aku resmi menyandang marga Lee, meniatkan diri menjadi pendampingnya sampai maut memisahkan.

“Oppa…” Gumamku setelah kembali dari kaset masa lalu tersebut.

“Donghae Oppa… nan jeongmal bogoshippoyo…” Entah sungguh tidak ada bosan-bosannya air mata memake-upi wajahku. Aku menangis lagi tepat di atas tempat tidur yang setiap harinya biasa ku gunakan bersama Donghae Oppa.

Mataku menerawang mencari ketenangan yang mungkin tersimpan namun bayangan-bayangan yang aku sendiri tak bisa membedakannya dengan kenyataan itu menaungi retinaku, memenuhi pergolakkan benakku.

“Oppa, apa kau mencintaiku?” Tanya seorang wanita yang sudah pasti diriku di lain kesempatan.

“Kau tidak percaya padaku?” Pria itu—Donghae Oppa menanggapi pertanyaanku.

“Bukan begitu….”

Lalu kenapa terus menanyakannya? Hmm..?”

“Bukannya apa-apa, kau kan tampan, muda, karirmu cemerlang, kau juga baik, pengertian, romantis, hangat terhadap wanita. Pasti di luaran sana banyak sekali wanita yang tertarik padamu, aku.. dan aku… takut.”

“Uwoo.. kau memujiku? Tumben? Aku tersanjung sekali….” Ujarnya lembut sambil merangkul bahuku erat.

“Oppa…”

 

            “Hahha.. Kau imut sekali kalau sedang marah begini.”

 

            “Oppa…”

 

            “Ne~, Yumi~ya… aku siapamu?”

 

            “Molla.”

 

            “Aishh.. kau tidak mau mengakui statusku? Nappeun..”

 

            “Arra… Kau, pria-ku.”

 

            “Hahaha.. tidak ada yang jauh lebih menyenangkan dari profesi ini.”

 

            “Ne?”

 

            “Aniyo. Ketakutanmu… tak perlu khawatir akan hal itu. Bila berjuta kali kau meragu, takut, khawatir atau mulai tak percaya, kau boleh meminta janjiku kapanpun, dimanapun. Sebab tak peduli meski ribuan kali kau merasa ragu toh hatiku tetap milikmu. Ia akan selalu berlabuh pada jeratanmu. Dan harus kau tahu, meski di suatu hari nanti aku meghilang, tak mampu kau lihat lagi, tak sanggup kau jangkau lagi, yakinlah alasan utamanya bukan karena aku sudah berhenti untuk mencintaimu. Katakan pada hatimu, yakinkan dia bahwa aku melakukannya karena kadar cintaku yang terlalu berlebih padamu, aku melakukannya sebab aku tahu kau akan bahagia, aku melakukannya karena janjiku pada Tuhan tak mungkin kukhianati, aku melakukannnya karena demi kepentinganmu, demi senyumanmu, demi terus hidupnya cintaku di hatimu. Maka percayalah hingga di kehidupan berikutnya cintaku tak akan pernah sedikit pun berubah terhadapmu, arrachi?”

 

            “Arasseo, tapi aku tak ingin apa yang kau jabarkan terjadi.”

 

            “Wae? Kau masih takut kehilanganku?”

 

            “Tentu..”

 

            “Hahha.. kau tidak akan kehilanganku, tak akan pernah.”

“Hiks.. hiks.. Oppa, aku… takut.” Gumamku setelah menemukan kenangan-kenangan yang kurindu dari file lampau benakku.

***

“Apa kau tetap akan melakukannya?” Tanyaku saat itu dengan aroma meragu.

 

            “Tergantung dirimu. Jadi apa aku orang yang jahat di matamu?” Ia berujar seolah menantangku di tengah nada penuh kekecewaannya.

 

            “Aniyo… kau memiliki hati yang baik. Kau yang terbaik. Jadi, jangan mencoba meragu karenaku!”

 

            “Hah… baru kali ini aku benci dengan predikat pria baik yang kau lontarkan.”

 

            “Apa kau tak ingin menahanku? Meminta janjiku? Aku akan dengan senang hati mewujudkannya untukmu, Yumi~ya.”

 

            “Aniyo. Keputusanmu sudah benar, jadilah orang baik, selalu.”

 

            “Tidakkah kau akan terluka karena ini? Bukankah kau bisa saja kecewa karena ini? Jadi mengapa? Mengapa kau kekeh mendukungku untuk mewujudkannya? Wae?”

 

            “Karena kau baik, karena kau berbeda di mataku, karena kau memiliki arti lebih buatku, karena kau satu-satunya orang yang bisa ku percaya.”

 

            “Keureu, aku tak akan menentang lebih jauh maumu toh ini juga salahku. Yang jelas kalau kau sedikit saja merasa takut, beritahu aku, mintalah langsung janjiku untuk tetap bertahan. Nan jeongmal saranghae Yumi~ya..”

Tidak.. saat itu aku tidak benar-benar rela melepaskanmu. Bagaimana mungkin aku bisa tanpamu? Bila satu-satunya orang yang ku percaya guna membimbingku adalah dirimu. Tapi sebagai wanita aku juga kasihan terhadapnya. Ia jauh lebih membutuhkanmu, Oppa.

Dan hari itu aku melepasnya, merelakannya pergi menyongsong wanita lain. Bukan… dia tidak di paksa untuk menolong keluargannya guna mempertahankan suatu ikatan pertemanan, Ayah dan Ibu mertuaku sangat mendukung pernikahan kami, mereka juga terlampau baik padaku, mustahil bukan kalau mereka memisahkan kami dengan menjodohkan putranya. Mereka keluarga dengan hati bersih, itu yang kutahu.

Serta Cha Eunkyung, seumur hidup aku bahkan tak pernah mengibai siapapun namun wanita cantik yang kebetulan seumuran denganku, juga tak sengaja ku kenal saat aku dan Donghae Oppa melakukan acara bulan madu di Kyoto, Jepang. Ia pengecualian…

Siapa kira pria beristeri seperti Donghae Oppa mampu mempesonakkannya? Ia jatuh hati kepada suamiku. Marah? Saat pertama kali aku mengetahuinya langsung dari pengakuan gadis itu aku bahkan tak kuasa untuk tidak memakinya, menghardiknya dengan omongan-omongan tajam hasil kekecewaan hatiku.

Mengapa gadis cantik sepertinya harus mencintai Donghae Oppa?

Mengapa jika bahkan dengan pesona miliknya ia pun sanggup menjerat pria lain yang masih lajang statusnya?

Mengapa… mengapa harus suamiku?

Namun kesadaran sebagai seorang wanita biasa membangunkanku. Memberitahu bahwa semarah-marahnya atau kesalnya diriku, di sini hati juga masih harus didengarkan pendapatnya. Dia menaruh hati pada Donghae Oppa dengan sebuah alasan. ‘Suamimu Baik.’ satu kata itu terus terngiang olehku.

Benar.. ini tidak sepenuhnya salahnya. Karena siapa orang yang sanggup mengelak dari kebaikannya? Maka tak heran bila ia—suamiku rimbun akan cinta.

***

Cha Eunkyung, wanita itu datang mengunjungi kediaman ku yang jelas-jelas jauh jaraknya dari tempatnya menetap di Kyoto, Jepang. Maka tak heran bukan kalau ia hadir dengan suatu kepentingan.

Saat itu ia memohon padaku agar mau sedikit berbagi kebahagiaan padanya. Yang benar saja? Berbagi kesenagan? Sepanjang hidup aku justru masih sibuk meraba serta menerka yang bagaimana itu kebahagian? Dan 2 tahun belakangan ini, Tuhan menjawabnya lewat Donghae Oppa. Seseorang pemilik derajat tinggi yang selalu setia memompakan arti kebahagiaan buatku. Namun apakah 2 tahun itu telah cukup? Hingga aku harus membaginya dengan orang lain?

Lantas pemandangan perut buncit yang ku yakini menyimpan suatu kehidupan baru di dalamnya datang menaungi retinaku. Mana mungkin tak membuatku luluh? Dia memelas sebab tak ada orang lain lagi yang di kenalnya selain aku juga Donghae Oppa. Hah.. bagaimana mungkin? Dunia ini bahkan nampak seperti kelebihan umat manusia namun ia hanya mengenal kami? Ku akui ia sangat baik terhadapku, baru pertama kalinya dalam sejarah hidupku ada seorang wanita asing yang memperlakukan aku lebih baik di banding ia bersikap terhadap dirinya sendiri, ia banyak membantuku selama ini, mengerti perjuangan beratku di lajur ini, dia teman yang baik. Namun saat pernyataan laranya mengenai pria bajingan yang membuatnya menanggung semua takdir itu di nyatakan lenyap tertelan bumi. Saat itu lah aku merutuk, memahami maksudnya, menyesali nasib ini….

Namun tak mungkin bukan bila aku harus mengecewakannya? Menambah beban beratnya? Memperparah luka di hatinya? ia… bukankah datang dengan sebuah harapan?

Entah jiwa malaikat atau iblis macam apa yang melingkupiku waktu lalu hingga dengan tanpa pertimbangan akan munculnya konsekuensi buntutnya aku berujar amat tegas, melontarkan kalimat, “ Kau boleh memilikinya. Aku mempercayakannya padamu.”

Bodoh… berkali-kali aku mengumpat dalam hati, memaki-maki sikapku yang gegabah melayangkan pernyataan juga janji. Dan sadar atau tidak selepas perkataan tersebut aku benar-benar sudah tak mungkin menahannya lagi disisiku.

Jahat… satu-satunya orang brengsek itu adalah aku. Donghae Oppa bahkan tak ada sangkut pautnya dengan anak yang akan di lahirkan Eunkyung  tapi dengan teganya aku memaksanya untuk menerjunkan diri kedalam lembah pertanggung jawaban. Kala itu ia menolak… tentu saja, tapi aku tahu dia orang baik, dia mementingkan aku serta segala mauku yang tak wajar. Ia menyerah… pasrah menentang takdir yang harusnya tak perlu ia lalui bila bukan karena aku. Tapi itulah Donghae Oppa, ia tak mungkin menghiraukan keinginanku karena ia memang orang baik yang bodoh karena terlalu mementingkan diri untuk mencintaiku—wanita kejam.

Dan hari itu tepat 7 bulan yang lalu, aku melepaskannya. Menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, kaki jenjangnya melangkah keluar dari bangunan yang telah kami tempati 2 tahun lamanya.  Menghantarkan sosoknya yang kala itu menggeret koper berukuran jumbo tanpa mau berbalik memandang ke arahku lagi. Aku tahu ia kecewa…

Aku tahu ia tersakiti…

Aku tahu ia marah….

Aku tahu sebab aku juga merasakannya…

Selepas kepergiannya bisa di pastikan hanya Tuhan yang tahu kalau aku menekuk lututku dalam kegelapan juga kesunyian di balik pintu sembari tiada henti meloloskan tangisku, mencoba menguras habis sumber air mataku, menyesali keputusanku yang sudah tak berguna lagi…

Donghae Oppa pergi…. Irlandia, negeri nun jauh di belahan bumi lain akan menjadi saksi hidup barunya. Lalu aku berakhir dengan meratapi kekelaman hidup lamaku…

***

“Yumi~ya….” Teriak sebuah suara hinggap diantara suasana sadar serta khayalku.

“Yumi~ya.. Gwenchana?” Bodoh, aku menjumpai wajahnya di hadapanku. Merasakan tangannya membelai lembut rambutku. Bukankah aku sudah tidak waras? Terkelabuhi oleh khayalan…?

“Oppa…” Gumamku putus asa akibat terlalu tak mampu menahan deru rindu dasar hatiku terhadap sosoknya.

“Ne?” Ia meresponku. Tuhan apa ini sungguh-sungguh dirinya? kau mengasihaniku lagi Tuhan? Apakah kau tengah memberiku kesempatan kedua?

“Jangan pergi, aku tak bisa hidup bila kau tak berada di sisiku. Aku hanya mempercayaimu di samping Tuhanku, aku bahkan tak bisa mempercayai diriku sendiri maka jangan tinggalkan aku, Donghae Oppa?” Aku memelas, memohon padanya yang kini ada dalam cetakan retina mataku. Entah nyata atau tidak, tapi aku percaya Tuhan juga baik padaku seperti halnya Donghae Oppa yang begitu mengasihiku.

“Yumi~ya… sadarlah aku Song Joongki bukan….”

“Aniyo… nuguya? Bagaiman mungkin kau si penjual chicken itu? Jelas-jelas kau Lee Donghae, suamiku.”

“Ckk.. hah.. Yumi~ya..” Tidak mau mendengarkan omongannya lebih jauh yang mungkin saja sanggup menggoreskan perih di jiwa, segera saja ku tarik dirinya yang tengah menenangkanku di samping ranjang hingga detik berikutnya ia justru jatuh tepat di permukaan ranjang samping kananku, lalu tanpa ragu ku peluk erat tubuhnya. Takut-takut aku kehilangannya, lagi.

“Mianhae… hari itu aku belum sempat mengatakannya padamu. Hari itu aku ingin menagih janjimu untuk menjadikanku satu-satunya wanita di hidupmu sama seperti apa yang telah kau sumpahkan di depan altar. Tapi aku pengecut, aku tak kuasa menolak keegoisanku.” Ocehku di dalam pelukan dada bidangnya. Ku rasakan tangan besarnya mengusap-usap punggungku lembut.

“Oppa… Donghae Oppa bogoshippoyo. Kau tahu 7 bulan ini aku tak bisa hidup dengan baik, tak bisa bernafas dengan benar bahkan berkali-kali ingin rasanya mengakhiri hidupku saja. Semuanya… tak ada berkesannya lagi tanpa hadirnya kau di sampingku. Oppa…” Aku terus menerus mengoceh dalam derai air mata yang menggenang juga lelah yang mendera di lingkupan kehangatan dekapannya. Nyaman.. sudah 7 bulan ini aku tak merasakan sebuah pelukan yang biasanya Donghae Oppa berikan di setiap hariku, meski ini terkesan berbeda tapi aku sudah mensyukurinya.

“Donghae Oppa… nan jeongmal saranghae.”  Aku ku sambil menghadapi mataku yang mulai terasa berat untuk terbuka. Ya… aku letih sangat letih. Dekapan ini ku rasa mampu memperingan bebanku oleh karenanya aku ingin istirahat walaupun hanya sejenak. Guna mengenangmu… merasakan keberadaan sosokmu yang jarang-jarang ku temui….

“Yumi~ya, Donghae pasti juga merindukanmu, ia pun amat sangat mencintaimu sebab kau adalah hidupnya, alasan kenapa ia harus terus menghirup oksigen di dunia Tuhan ini.” Suara ini samar-samar ku kenali siapa pemiliknya, suara penyemangatku, partner kerjaku, satu-satunya sahabat karibku.

“Gomawo.. Joongki~ya..” Hatiku berseru seraya setelahnya ragaku mulai melepas panggulan berat dalam naungan benaknya, menstabilkan kembali deru nafasku, memejamkan kedua kelopak mataku, mencoba menjumpai Lee Donghae meski kemungkinannya hanya dalam mimpi tapi sungguh aku merindukannya sebesar aku mencintainya.

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s