Christmas Love [Another Story Of Dating …?]

Christmas Love

Tittle : Christmas Love

Author : rywei19

Genre : Romance, AU, Brother Romance

Main Cast : Cho Kyuhyun, Cho Nara, Lee Jonghyun

Rated : PG-13

Twitter : @rywei_irawan

Disclaimer : The storyline and Oc’re belong to rywei19.

Pernah di Publish di sini 

 

***

December 24th

 

“AISHH CHO KYUHYUN BERENGSEK! KAU APAKAN KUEKU, HAA?” aku berteriak sejadinya tak peduli bila yang mendengar akan tuli sekali pun.

“Hanya mencoleknya sedikit dan ternyata aku menyesal, rasanya buruk sekali,” ujarnya dengan tampang mengejek. Ohoho . . . pria ini memang pantas mendapat gelar The Most Annoyed Man, lihat saja bukan hanya tingkahnya yang tengil wajahnya bahkan bisa di bilang memprovokasi minta di tonjok.

“Siapa juga yang menyuruhmu menyentuhnya? Menyebalkan sekali kau ini. Kenapa tanganmu tidak pernah bisa diam di rumahku, HAA?” lagi aku memekik garang dengan bekal suara yang mulai terjaring keserakannya. Ahh . . . salahkanlah pria yang sedang berdiri pongah beberapa meter di depanku itu, karena dirinya aku terpaksa kuras energi padahal di satu sisi tubuhku sedang terjangkit gejala flu, berdekatan dengan makhluk itu memang selalunya menyulitkanku.

“Rumahmu?” pria itu—Kyuhyun Oppa beranjak dari posisi duduk tenangnya di atas sofa single warna putih ruangan ini. Mata cokelatnya telah memenjarakanku beringas dalam sorot tajamnya. Aishh . . . kalau matanya bersaudara dengan pisau atau belati, pastilah saat ini badanku sudah penuh dengan baret luka. Sungguh matanya mengerikan sekali!

“Kau bilang ini R.U.M.A.H.M.U?” lanjutnya dengan nada menggeram yang kental membuatku susah payah meneguk saliva ke kerongkongan.

“I . . . Iya,” jawabku kikuk, takut-takut sekaligus penuh keragu-raguan. Kenapa pula aku jadi dag-dig-dug-der, terintimidasi begini di depannya? PAYAH!

Kyuhyun Oppa berjalan irit ke arahku tanpa susah-susah mengubah sorot awasnya. Aku yang memang sudah membentur dinding pembatas ruangan tidak memiliki akses kabur lain hingga dengan pasrah berdiri mematung guna bersiap menerima kemungkinan terburuk efek keevilan Oppaku. Jelaslah beberapa detik mendatang ia akan meledak. Sedikit banyak aku mengenalnya, Kyuhyun Oppa tentu nafsu sekali mengamuk dan paling parah aku mungkin akan di tendangnya sampai menjebol tembok beton, atau tercekik hingga kering kerontang bak zombie Hollywood atau lagi akan mati tersabet sorot samurai kedua bola matanya. Ahhh . . . nasibku kritis!

“Kau . . . .” Kyuhyun Oppa berhenti tepat dalam jarak 2 langkah dariku. Syukurlah . . . .

Deru napasku bersiap tersirkulasi dengan normal. “Mana bukti kuitansi kalau Appa dan Eomma menjual kediaman keluarga Cho ini padamu? Kau itu belum bekerja dari mana kau dapat uang untuk membayar rumah ini, Haa? Dasar penipu cilik!”

Ehh?

Aku tak mampu menghindari aktivitas menganga yang mesti kutujukan. Entahlah kalau di anime-anime favoritku sekarang ini aku pasti sedang sibuk bersweatdrop sambil mimisan. Ohohoo . . . pria ini otak logisnya tersangkut di mana kiranya?

“Emm . . . ,” aku menggumam sambil memilin-milin ujung pakaian tebal musim dinginku yang berwarna jingga. Ada apa denganku? Rasanya jadi tiba-tiba tegang?

“Kuberi tahu ya, meski aku sudah punya apartemen sendiri tapi tetap saja aku masih terdaftar dalam kartu keluarga sebagai anak sulung Appa dan Eomma Cho. Rumah ini milik K.I.T.A.” Entahlah aku mendengar kejanggalan dari penuturannya. Kita? Tidakkah pilihan katanya begitu intim?

Kyuhyun Oppa berbalik memunggungiku. “Kemarin sudah kubilang ‘kan, lebih baik membuat kue kering saja. Kenapa malah memaksakan diri meramu kue tart encer macam ini, Haa??”

“Tapi ini natal. Pastilah sesuatu yang lembut itu akan jauh lebih berkesan,” ujarku membela diri sambil mengekorinya yang berjalan ke arah pantri dapur.

“Dan kau akan meracuni Jonghyun dengan kue lembekmu ini,” katanya kemudian masih ngotot menyalahkanku sembari tangannya sibuk memilah-milah buah apel merah pucat di atas meja.

“Lalu aku harus apa?” tanyaku yang kini telah berada tepat di sisi kananya. Kuperhatikan Kyuhyun Oppa memfokuskan diri  guna menggerakan pisau di atas buah apel.

“Ckkk . . . sebenarnya apa kebisaanmu? Mau kencan meminta bantuanku, sudah punya kekasih masih juga merepotkanku,” Kyuhyun Oppa kembali mendendangkan kalimat-kalimat gerutuan geledeknya.

“Aaaa . . . ,” ia menyodorkan potongan buah apel ke mulutku dan tanpa banyak protes atau canggung aku langsung menerima suapannya.

“Kau ‘kan tahu, aku baru 20 tahun dan belum punya pengalaman. Lagipula ini natal pertamaku bersama Jonghyun,” jelasku terbuka seraya berusaha mengunyah apelku dengan benar.

“Kunyah yang lembut,” suruhnya ringan sebelum akhirnya memutuskan untuk menyulap ruangan ini agar sunyi mencekam.

Kyuhyun Oppa menghela napas letih setelah hening berpuluh-puluh detik. “Mau mencoba saran dari Cho Kyuhyun?”

“Asal tidak ada konsekuensinya. Apa idemu?” aku mendongak—menatapnya yang jelas belasan centi lebih tinggi dariku. Seorang pria usia 25 terbingkai menawan dalam lingkup lihatku. Ia Kyuhyun Oppa—satu-satunya kakak kandungku dan entah oleh sebab apa belakangan hubungan kami yang dulunya angker juga dingin berubah menghangat. Aku pun jadi merasa jutaan kali lebih nyaman bila sudah berdekatan bersamanya.

“Sebut ini Christmas Love,” Kyuhyun Oppa balik menatapku. Ia merunduk agar jarak wajahnya berada tepat di hadapanku.

“Aku akan mengajarimu sedetail mungkin mengenai apa yang harus kau dan Jonghyun lakukan guna menghabiskan malam natal—”

“Fyuhh . . . ,” ia meniupkan udara dari rongga mulutnya yang beraroma mint sehingga membuatku harus mengerjap-ngerjap terkejut. Tentu saja, tadi itu aku sedang serius-seriusnya mendengarkan petuahnya. Malah mulutnya tak beretiket menyemburku. Untung baunya wangi dan tidak ada ludah yang membanjiri mukaku. Pria ini kapan kewarasannya bisa senormal pria lain kiranya?

“Aku paham ketampananku sering kali menyihir para hawa tapi bukan berarti aku mengijinkan semua orang bersenang-senang menikmati wajahku secara gratisan ‘kan?” tuturnya tiba-tiba memaksaku buru-buru kembali dari sumpah serapah dongkol di dalam hati.

“A—“

“Persiapkan bayaran setimpal atas kerjaku karena nanti di akhir aku akan menagihnya,” ujarnya seenak jidat memotong perkataanku.

“Opp—“

Kajja kita kencan!” Dan aku kembali kalah oleh sikap egoistis juga otoriternya. Ia menarik tanganku keluar dari rumah.

***

Bulir-bulir salju berjatuhan menghujani cuaca redup menjelang siang. Udara dingin perlahan berangsur membobol benteng pertahanan diri. Uap-uap halus tampak melayang-layang mengiringi langkah ringan yang tengah aku sekaligus Kyuhyun Oppa jalani. Di bawah payung sewarna pastel ini aku berlindung dari derai rinai hamburan hujan.

Dari pemandangan penuh hiruk pikuk bule berseliweran, aku menengok ke arah Kyuhyun Oppa yang begitu tenang dengan keterdiamannya.

Entahlah semenjak kemarin sore kami tiba di Berlin tingkahnya jadi terkesan aneh seperti tengah di landa kegamangan super dahsyat. Ngomong-ngomong soal Berlin, keluargaku memutuskan untuk menghabiskan natal di kota lahir Appa. Berhubung banyak kerbat tinggal di sini maka reuni keluarga kami pasti akan menyenangkan nantinya terlebih Lee Jonghyun—kekasihku semenjak 6 bulan lalu juga sedang ada riset di Jerman. Ahh, tak akan kusia-siakan natal ini. Bagaimanapun caranya harus ada sejarah manis yang terukir bersama Jonghyunku tersayang.

“AHHH . . . ,” aku berteriak agak tersentak begitu di rasa ada yang menarik arena bahu sebelah kiriku. Sebuah telapak tangan besar merangkulku erat.

Kyuhyun Oppa memandangku dengan sorot mengintimidasinya. “Aku tidak kudisan, aku juga tidak kurapan, rambutku pun di jamin bebas kutu.”

“Siapa pula yang menuduhmu sebagai pengoleksi kutu? Dan apa peduliku serta kenapa kau marah-marah tak jelas begini?” aku balas makiannya dengan sulutan yang tak kalah pedas. Dia itu kenapa? Sedang PMS? Kalah main game? Hobi sekali mengubah-ubah mood.

“Jadi, kenapa kau menjaga jarak dariku, Haa?” Kyuhyun Oppa sudah menyampingkan badannya untuk menghadapku. Ia seolah tak ambil pusing dengan tatapan keheranan para pribumi yang mengarah pada kami. Hei, kami tengah berada di tengah-tengah arena pedestrian, hilangkah urat malunya sampai-sampai rela mengundang diri sebagai tontonan?

“Aku tidak menghindarimu,” kataku menyanggah sebab pasalnya aku memang sungguh-sungguh tidak ada niat untuk menjauhinya. Apa pula yang mendasarinya berpikir aku menganggapnya tukang kutu yang kudisan sekaligus kurapan. Ia baru menonton iklan obat jamur spesial natal ‘kah?

“Tapi kau berjalan 2 langkah di sisiku. Kau tahu karena hal itu . . . .” Kyuhyun Oppa menjeda ucapannya. Ia melangkah lebih rapat padaku.

Tangan kokohnya menyentuh area kepalaku yang terbungkus topi hangat. “Saljunya jadi membasahimu.”

Aku mematung di posisiku. Merasai tangan lebarnya menyeka bekas salju yang mencair di sekitaran pelipisku dengan lembut nan hati-hati.

Oppa . . . .”

“Berjalanlah lebih dekat denganku agar mudah bagiku untuk menjangkaumu sehingga kau mampu kulindungi, Cho Nara.” Selepasnya cubitan ringan mampir di hidungku. Dasar Cho Kyuhyun sedang semangat-semangatnya meresapi tingkah khas keoppaannya tiba-tiba evil stylenya muncul lagi. Runtuh sudah bayangan manisku!

“CHO KYUH—“

Kyuhyun Oppa menariku mendekat sampai tubuhku membentur badan kokohnya. “Sudah jangan banyak protes. Satu belokan lagi kita samapai.”

Ne?”

***

[At Berliner Dom Church-Berlin]

Kidung khas natal terus terdendang sedari pertama kali kami memasuki kawasan gereja. Pastor di altar juga tanpa henti memanjatkan doa-doa dalam bahasa yang sama sekali tak kumengerti maksudnya—jelasnya ia pasti tengah memohonkan keselamatan.

Beralih dari segala rupa kekhusyukan, aku mencuri-curi tengok ke samping kanan. Terlihat Kyuhyun Oppa masih mendalami pengaduannya. Tergambar dari keduabelah telapak tangan yang ia katupkan dengan erat di depan dada, pejaman mata yang mengurung sorot jahilnya, dan raut tenangnya. Ia . . . kira-kira sedang memohon apa bisa sampai seserius itu? Hooo . . . jangan-jangan otak narsisnya tengah mengiba agar di beri tambahan kadar ketampanan. Ckk . . . mukanya bahkan telah lebih dari overdosis. Benar-benar serakah, pria lain pun tentu ingin jatah tampan juga, kenapa ia tak mau bagi-bagi?

“Beri aku bayaran 2 kali lipat,” bisikan lirih ini menyiram lubang pendengaranku dengan tiba-tiba, memaksaku yang sedang sibuk melamunkan objek paling liar di seluruh Korea terpaksa kembali ke alam sadar.

Kyuhyun Oppa memiringkan kepalanya ke hadapan mukaku, posisinya benar-benar dempet dengan cuping kanan telingaku.

“Maksudmu?” balasku berbisik seraya mataku mencuri-curi tatap, mendongak ke arah mukanya.

“Mana boleh seorang putri terhormat keluarga Cho belajar menimbun hutang. Dengar, Cho Nara selama berdoa tadi apa kerjamu? Menelanjangiku dengan tatapanmu, hmm? Tuhan pasti sangat kecewa mendapati umat sepertimu dan tanpa bosan kutegaskan jika Cho Kyuhyun bukanlah anggota dari grup dermawan ‘si pencinta cuma-cuma’. Bayar honorku di akhir nanti!” ujar Kyuhyun Oppa setia berbisik di sisiku.

Aku mendengus kecil seraya mataku menggelinjing menatap sekitar. Jemaat sibuk dengan urusan ibadat mereka masing-masing tapi kami malah . . . mengobrol?

“Apa yang kau minta dalam doamu?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan yang sudah mulai tak sesuai dan melanjutkan tingkah abnormal kami—mengobrol.

Kyuhyun Oppa makin merapatkan diri padaku. Ahh . . . tentu saja, pasti sama sepertiku ia pun takut ketahuan bergosip di gereja. “Kau sendiri berharap apa?”

“Aku ‘kan yang bertanya lebih dulu padamu curang sekali kau balik tanya. Jawab saja . . . ,” ujarku tak terima dengan kasak-kusuk yang mulai sedikit meninggi.

“Tapi aku ingin mendengar harapanmu dulu,” katanya enteng dengan posisi yang tak geser sedikit pun.

“Ckk . . . mana bisa begitu. Oppa dulu yang jawab aku,” pintaku tak mau kalah, sisi kekanakanku mulai keluar tak terbendung. Dengar saja, suara manja itu, Huekkk . . . .

“Kau ‘kan junior turutilah apa kata seniormu!” Hah . . . apa begitu sulitnya mengalah? Kenapa kakakku yang satu ini anti sekali dengan kata berbunyi kekalahan?

“Tap—“

“Melihatmu,” Kyuhyun Oppa memotong sanggahanku dengan sebaris rangkaian huruf singkat. Melihat siapa?

Lengan kekar melingkari pinggangku erat, tangan ini . . . Kyuhyun Oppa tak sadarkah dirinya kalau arena ini tempat umum sekaligus peribadatan? Apa yang di lakukannya terhadapku?

“Doaku tidak pernah berubah sejak 20 tahun lalu ketika pertama kalinya aku menginjak gereja sekaligus merasai natal . . . .”

“Mauku hanya satu, melihatmu Cho Nara,” lanjutnya kemudian menyambung ujarannya di awal.

Aku menatap matanya lekat. “Bukankah setiap hari kau selalu melihatku?”

“Hmm . . . dan setiap hari pula aku merasa takut jika kau hanya khayalanku.” Sungguh aku tak mampu menerka arti lain dari sorot seriusnya.

“Aku tak mengerti.”

Appa bilang, aku tidak akan sendiri lagi. Saat natal tiba 20 tahun lalu, aku tahu jika kesepian yang menyergapku di usia balita telah berakhir. Karena hari itu, mataku bertemu tatap dengan bola kecilmu,” jelasnya.

“Kelahiranku?”

Kyuhyun Oppa mengangguk. “Dan dari detik pertama tersebut hingga saat ini, aku tidak pernah lelah untuk berdoa pada Tuhan, meminta keajaiban natal agar Cho Nara, gadis berbola mata kecil itu akan selalu kulihat, menjadi hal yang keberadaannya amat kusyukuri.”

“Jadi aku . . . .”

“Satu-satunya adikku, prioritasku setelah Eomma, penghapus masa sepiku, sahabat kecilku, tonggak masa depanku. Gomawo, Nara~ya,” katanya. Dan aku baru sekarang mendengar kalimat semerdu itu dari bibirnya. Sungguh, selama ini kesyahduan bunyi indahnya hanya mampu kunikmati dalam syair-syair lagu yang kerap ia lantunkan menjelang natal.

Oppa kau . . . sungguh-sungguh?” tuntutku tak percaya.

“Aku hanya akan serius dua kali. Ketika mengikrarkan sumpah pernikahan di hadapan Tuhan dan berkata demikian padamu di rumah Tuhan,” akunya mutlak.

Oppa . . . .”

Ia menarik lenganku dan menuntunku untuk berbalik serta membelah jemaat yang hampir membanjiri aula. Dari sini aku melihat punggung kokohnya. Sungguh aku beruntung memilikinya yang begitu menyayangiku, ternyata.

***

Gluck. Di bagian depan bangunan minimalis berdinding transparan dengan sekat-sekat balok kayu berwarna hitam tempatku singgah bertuliskan nama itu. Begitu melimpah pernak-pernik khas natal di dalam sini. Lemari-lemari kaca memajang karakter-karakter utama layaknya santa, ornament pohon-pohon cemara, lampu hias, lilin-lilin mungil juga macam-macam hidangan. Kulihat di sudut ruangan tepat di balik lemari kaca setinggi pinggang orang dewasa terjajar rapi kue-kue cantik yang kebanyakan belum pernah terjumpai olehku. Beralih dari pemandangan indah tersebut, kuperhatikan Kyuhyun Oppa  tengah berdiri bersandar pada lemari di stand suvenir sembari terdengar sesekali ia mengobrol dengan si penjaganya. Uhh . . . aku sangsi mereka mengerti satu sama lain. Hei . . . kemampuan berbahasa Oppaku tak jauh beda dariku!

Oppa . . . ,” sapaku seraya berdiri di sisinya. Mengamati hiasan-hiasan dinding yang amat memikat.

“Hmm . . . ,“ balasnya menggumam seperti biasa. Ckk . . . jual mahal sekali orang ini, seperti posisiku sebagai pengganggu saja.

“Kenapa kita ke sini?” tanyaku akhirnya sambil menyentuh boneka rusa yang terpajang bebas di atas permukaan kaca.

“Jonghyun lebih suka perpaduan warna merah hijau atau kelabu bercampur merah?” tanyanya balik dan mengabaikan kalimatku sebelumnya.

“Kelabu dan merah. Kenapa ka—“

“Lebih suka bola mata cokelat bersinar  atau biru redup?” ia menyela ucapanku seenaknya. Namun aku memang tak pernah punya pilihan lain bila sudah berurusan dengan Cho Kyuhyun. “Cokelat bersinar.”

“Ia menggemari karakter antagonis atau protagonis?”

“Dia bukan kau, tentu saja ia lebih memilih yang protagonis. Tap—“

“Berikan ini pada Jonghyun!” ia menyodorkan boneka kelinci berkostum santa tepat kehadapanku.

Ne?”

“Ketika kau bertemu dengan Lee Jonghyun, jangan lupa bawa boneka ini sebagai kado darimu!” ujarnya mengulangi. Aku diam sesaat. Boneka kelinci paskah? Apa ada yang istimewa dengan benda ini? Warnanya kelam dengan bola mata berkilat namun terkesan santun bersama hiasan kostum merah putihnya. Seakan menguarkan kepribadian sendiri, kelinci ini mencerminkan ketulusan. Lalu yang hendak di maksudkan Kyuhyun Oppa adalah . . . .

“Kau naksir Jonghyun?” kataku spontan setelah menyimpulkan perbuatannya. Ahhh . . . mana ada pria yang mau repot begini mencari kado guna pria lain. Jangan-jangan ia menusukku dari belakang.

Dukkk

Jitakan yang tak ringan mendarat langsung tanpa hambatan di atas puncak kepalaku. Si pelaku utama tindak aniaya memelototiku ganas.

“Setidaknormal-normalnya diriku paling parah juga tertarik padamu.”

Ne?”

“Gadis urakan, kekanakan, tidak mandiri, merepotkan, sembrono. Aish . . . kapan-kapan mungkin perlu kuinfokan pada Jonghyun kalau pilihannya seratus persen harus di tinjau ulang.”

“Huftt . . . baru beberapa menit lalu kau mengatakan begitu menyayangi adikmu. Mana buktinya? Kau bahkan tidak mampu menunjukan rasa yang kau maksud itu,” gerutuku jengkel. Wajarkah? Tentu saja, bagaimana aku tidak mengalami penuaan dini kalau setiap hari di hadapkan dengan situasi mengesalkan macam ini? Kyuhyun Oppa itu maunya apa sebenarnya? Sulit sekali mencocokan kehendakku dengannya? Sedikit-sedikit ia akan bertingkah di luar batas rasionalitas yang mampu kucerna.

“Ckk . . . sudahlah, lagipula kau percaya saja ucapanku. Jelasnya kalian bisa gunakan malam natal untuk bertukar kado.” Lihat! Kurang jahanam apa pria ini? Tindakannya membingungkanku, lagi.

Satu tarikan napas panjang mejadi opsi pilihanku. “Hmm . . . arraseo. Bagaimana dengan Oppa?”

“Apanya?” Alis matanya terangkat bingung.

“Sudah siapkan kado untukku?” tuturku to the point.

“Aku sudah mendoakanmu tadi sampai berbusa. Kurasa itu telah lebih dari cukup dan lagi uang jajanku minim sekali.”

“Kau kan direktur perusahaan masa masih mengandalkan uang saku dari Appa dan Eomma. Pakailah gajimu!” Baru saja aku bisa kembali normal namun Oppa Cho ini kembali mengibarkan bendera bajak laut, minta perang.

“Kau kira sepenting apa dirimu hingga aku harus mengorbankan pundi-pundiku?”

“Kau bilang di gereja tadi aku sa—“

“Tadi dan sekarang itu berbeda.” APA? Dia sebenarnya seperti apa jalan pikirannya? Mudah sekali mengumbar janji dan kata-kata. Jadi, segala tuturannya hanya omong kosong? Sanjungannya, pengakuannya dalam gereja beberapa menit lalu tak ayalnya sebuah gurauan? Pria ini, mempermainkan hatiku? Mengejekku atau apa niatnya?

“Kalau begitu?” tuntutku pelan mulai kikis sudah rasa kagum, kasih menggebu juga kerabatnya selama kurun waktu setengah tahun ini.

“Sudahlah, tokonya akan segera tutup. Kita pergi, kajja!” ia menarik tangan kananku menggunakan lengan kanannya seraya sebelah tangannya lagi menggenggam erat sebuah paper bag berwarna cokelat—berisi boneka kelinci natal.

***

Jalanan yang mulai lengang dengan waktu menunjuk pukul 2.25 PM mengiringi lariku yang terus di seret oleh Kyuhyun Oppa. Toko ornamen yang kami masuki telah tak terlihat lagi bahkan sedari 15 menit lalu. Namun pergelanganku justru mulai terasa perih akibat tarikan berlebihan pria bermantel tebal warna obsidian di depan sana. Langkah jenjangnya terburu menggiring ke sebuah tempat anatah-berantah entah di mana, tanpa payung melindungi kini tubuh kami telah terlapisi salju yang berjam-jam kian lebat volumenya. Di persimpangan jalan kakiku tersandung batu hingga tubuhku oleng hendak jatuh tetapi ia sama sekali tak menghiraukan perih yang merayap. Kenapa? Pria ini ada apa dengannya?

“LEPAS!” aku berteriak sejadinya tanpa peduli reaksi pengguna jalan yang mungkin terkejut. Kaki ringkihku memberontak berhenti, memaksa tarikan Kyuhyun Oppa berakhir.

Deru napasku memburu. Di depan sana, punggung lebar itu bergetar naik-turun menandakan jika sang pemilik juga merasai kelelahan membuncah.

Oppa . . . waeyo?” tanyaku mengalah membelah sunyi.

Dan sepi. Tak ada sambutan ataupun respon berarti yang menjawab penasaranku tersebut. Pria itu bergeming, menapilkan kedinginan luar biasa dari perilakunya yang tak mau berbalik menghadapku.

“Baru puluhan menit lalu kau ceria mengejekku, namun tiba-tiba kau bersikap tak acuh begini. Apa aku mengecewakanmu? Apa aku menyinggungmu? Apa aku berbuat kesalahan?” ujarku merutukinya dengan pertanyaan-pertanyaan hasil kenyerian hati.

“Cukup hanya diam, Cho Nara,” ujarnya memerintah dalam nada sinis yang di luar jangkauan bayanganku.

“Tutup mulut? Kau mau aku tak peduli? Kau berharap aku terjebak dalam ketidaknyamanan ini? Kyuhyun Oppa, kau membingungkanku,” akuku akhirnya. Benar, ia sungguh seolah mengombang-ambingkanku hampir seharian ini. Christmas Love? Tips kencan di malam natal bersama Jonghyun? Ia bohong. Seharian kami berjalan bedua, pria Cho di depanku sama sekali tak menunjukan niat mendalam guna benar-benar mengajariku. Tingkahnya entah karena apa tak seserius enam bulan lalu ketika ia baru mau membuka diri mengajariku privat kencan.

“Perlu kau tahu, Nara~ya. Aku tidak pernah main-main bila sudah ada sangkut pautnya denganmu,” katanya sembari berbalik ke arahku. Ia berputar untuk mendekatiku, meraih dua telapak tanganku yang kian mendingin akibat lalai tak terbungkus sarung.

Kyuhyun Oppa mengelus bagian itu lembut seraya perlahan tangannya tiba-tiba memasangkan sepasang sloves berwarna jingga yang amat serasi dengan mantelku. “Aku tidak mungkin sanggup mengindahkan sekecil debu pun persoalan jika sudah ada nama Cho Nara di dalamnya. Percayalah, meski caraku terkadang salah di matamu atau bahkan di mata Tuhan namun demi deru napas yang akan ikhlas kulepaskan untukmu. Kau adalah satu-satunya yang hendak kupentingkan kini.”

Tidak. Aku tak berniat menyelanya. Oleh sebab itu, pilihan diam menjadi opsi mujarab bagiku kala Kyuhyun Oppa sesaat mengambil jeda.

“Jangan pernah ragukan aku meski matamu mendapatiku tak menyelipkan kado di kaus kaki natal yang kau pasang di bawah pohon cemara, jangan juga pertanyakan seberapa seriusnya aku walau aku tak mungkin lebih lama menghabiskan malam natal bersamamu di banding Jonghyun, jangan pula marah padaku bila ejekan demi ejekan mengalun dari mulutku. Sungguh aku hanya ingin terlihat berbeda buatmu,” lanjutnya. Kyuhyun Oppa, dia . . . apa punya maksud lain? Kenyataan seperti apa kiranya yang hendak ia beritahu lewat penuturannya tersebut? Aku sungguh tak mengerti.

“Cho Nara, maaf untuk kali ini aku menyerah,” aku menunggunya menyelesaikan kalimat itu.

“Aku berhenti, belajarlah sendiri. Dari sini berbalik dan serongkan tubuhmu ke kiri!” ucapnya menyuruhku. Dengan pikiran yang masih carut-marut aku menuruti ucapannya guna memalingkan tubuhku menghadap arah barat daya.

Nun jauh di depan sana, aku melihat siluet seorang pria bermantel abu berjalan di bawah payung transparan ke arahku. Senyum kecilnya terjaring menawan dalam retina mataku.

Sesaat aku tersihir akan pesona itu hingga melupakan persoalanku dan Kyuhyun Oppa.

Merry Christmas, Cho Nara. Bersenang-senanglah bersama Jonghyun. Sekarang kau harus belajar sendiri.” Suara Kyuhyun Oppa menarikku dari keterpanaan. Membawaku untuk berbalik menengok ke sisinya.

“Opp—“

“Bertukarlah kado bersama. Kujamin natal kalian akan berkesan, setelahnya berdoalah berdua di gereja demi kelancaran sekaligus kelanggengan hubungan kalian. Aku yakin Tuhan tak keberatan memberi berkah tersebut. Jangan lupa, ada advent. Nikmatilah malam indah ini dengan suka cita.

“Paling penting kau tak boleh ceroboh membiarkan orang lain menginvasi pemikiranmu malam ini, buat Jonghyun bahagia, beruntung, dan terkesan karena telah memilikimu.” Kyuhyun Oppa tampak begitu serius menatapku lekat kala menggemakan petuahnya. Kenapa? Aku merasa kemencelosan dalam lubuk hatiku? Aku seperti tak rela? Namun tidak tahu rela macam apa  yang sedang kudebatkan.

“Hah, sampai jumpa besok di tanggal 25, Nara~ya,” Kyuhyun Oppa berbalik setelah sukses mengucapkan kalimat itu. Kakinya melangkah menjauhiku. Namun ketidakrelaan yang kurasa justru kian tak terbendung. Tuhan, ada apa ini?

Oppa?” Jujur ini refleks mulutku. Ia seperti bertindak semaunya lepas dari komandoku.

Kyuhyun Oppa berhenti di posisinya yang terpaut jarak sekitar 7 langkah dariku. “Apa tak bisa kau mengambil tanggung jawab yang sudah kau sanggupi di awal?” Sungguh mataku berkabut kala melayangkan permohonan ini.

“Apa tidak bisa kalau hari ini kita belajar kencan? Apa tidak bisa kalau aku menghabiskan malam natal ini bersamamu saja?” runtutku yang kini sudah benar-benar menangis. Tak terisak hanya melelehkan kristal bening dari dua kelopaknya.

“Nara~ya,” Kyuhyun Oppa tak berbalik kala mengumamkannya tapi aku sadar bunyi suaranya tak sejernih yang biasa.

“Aku mengijinkanmu. Kau boleh memberikan apa yang telah kau tunda selama 6 bulan ini pada Jonghyun. Dan maaf karena sempat merebut haknya di awal. Tak seharusnya aku terlalu mengekangmu. Padahal aku hanya . . . kakakmu.” Dan selepasnya aku hanya mampu menyaksikan punggung kokohnya makin jauh meninggalkanku. Kyuhyun Oppa berjalan cepat menyisakanku bersama kesakitan ambigu yang benar-benar tak kumengerti maksud keberadaannya bahkan ketika tangan lebar lain mengelus pundakku dan memayungi tubuhku dari lumuran salju, dalam benakku hanya dia, Cho Kyuhyun.

Natal ini akan jadi seperti apa?

Oppa, kau tahu apa yang tadi kupanjatkan pada Tuhan?

“Nara~ya?” Ini suara Jonghyun, pria kecintaanku yang apabila di angkat sebagai topik obrolan bersama Kyuhyun Oppa tak pernah ada ujung pangkalnya. Karena pria ini aku menjadi kian dekat dengan kakakku, sebab Jonghyun aku merasa semakin di kasihi oleh Kyuhyun Oppa.

“Ayo, kita ke gereja. Advent akan di mulai beberapa waktu lagi,” Lee Jonghyun menggamit lenganku lembut. Tangannya melindungiku dalam genggaman. Seolah menyalurkan permintaan tersirat, ‘Cho Nara, jangan ragukan aku’. Namun bandelnya hatiku justru bersikeras akan mencoba memohon sekali lagi pada Tuhan agar ia mau mengabulkan asaku. Harapan yang diam-diam begitu kudamba wujud nyatanya.

“Tuhan, sungguh aku tak ingin menjadi pendosa. Pria di sisiku Lee Jonghyun, aku mencintainya dengan segenap hati yang kau berikan. Tapi untuk satu hal ini bolehkah aku lebih mendahulukan Oppaku daripada kekasih yang paling kusayang? Jika berkenan, kabulkanlah selalu doa Kyuhyun Oppa. Sungguh meski permintaannya terkadang luar bisa merepotkan tapi pria itu juga butuh bahagia. Terlepas dari benar-tidaknya perkataannya di rumahmu, aku harap kau tak membuatnya terlalu dalam menelan kecewa, sebab aku menyayanginya.”—Cho Nara.

***

Natal, seumur hidup aku tak bernar-benar paham akan makna di baliknya. Kedua orang tuaku hanya mengajarkan satu arti natal, keluarga. Sebelum hari ini aku pun tak begitu menaruh kepahaman terhadap perihal tersebut. Tapi melalui berjam-jam advent di tanggal 24 pada bangunan luas bersebut gereja bersama seorang pria yang berdiri kokoh di sisiku. Ia telah meringankan kestresan akibat beban pikiran itu. Sekarang aku mendapati seberapa besar pesan ilmu yang di niatkan Kyuhyun Oppa sampaikan padaku. Keluarga, natal bukan berarti aku terpaku mengeliminasi waktu bersama wanita yang memperjuangkan kelahiranku, atau seorang pria bijak yang tak pernah lelah menunjang hidupku, juga orang-orang terdekat yang teramat mengenalku bersama orang yang kau cintai merupakan bentuk natal paling tabu buatku. Namun kini, faktanya Jonghyun menggenggam sebelah tanganku erat dalam sela-selanya sibuk merundukan diri di hadapan Tuhan. Dia mencoba melindungiku, menyamankanku di sisinya, ia berjuang keras untuk memupuk percayaku bahwa Lee Jonghyun tak akan pernah mengenalkan Cho Nara pada kelamnya natal. Ia, berhak di cintai.

Dalam kehangatan ini aku mengingat secarik kertas putih yang terselip dalam saku mantelku,

Sollte dies geschehen? (Haruskah ini terjadi?). Kapan Kyuhyun Oppa menyelipkannya?

END

[WJ 14th December 2013]

Iklan

5 thoughts on “Christmas Love [Another Story Of Dating …?]

  1. hubungan kyuhyun dan nara mnrut aku ambigu. mungkin emang dia sangat menyayangi adiknya. mungkin jg aku blm pernah nemu hubungan kakak dan adik yg seperti kekasih di dunia nyata..

    dan hai aku pembaca baru. baru bc satu ff ini.
    🙂

  2. oooh ini lanjutannya? bagus thor tapi sediih
    feelnya dapet banget
    hope a good ending for them

    saran aja ya thor supaya reader tahu ini kelanjutan yang dating sebaiknya dikasih awalan kurung kurawal dikasih beda hehehe

  3. Aku meneteskan air mata.
    Dan aku penasaran sebenarnya apa yang tengah di sembunyikan oleh Kyuhyun.
    Aku dapat liat dengan jelas betapa berharganya Nara bagi Kyuhyun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s