Take Me Out [Chapter 1]

TMO

 

TITTLE : Take Me Out [Chapter 1]

AUTHOR: rywei19

GENRE: AU, Romance, Little bit comedy

LENGTH: Chapterd

RATED: PG 17

MAIN CAST: Henry Lau, Nam Mira, Park Jungsoo

DISCLAIMER : This fanfict is mine, The casts in this fict are  God’s so don’t be a plagiarism!  Don’t  Copy and Paste My Fanfict  without  permission!

 Pernah di publish di sini

***

[MIRA POV]

Aku masih meniup-niup halus poni tebal hitamku tatkala pemandangan di luar sana mempertontonkan gemericik lirih hasil tangisan langit. Dari dinding transparan ruang kerjaku, terlihat daun-daun bergoyang tertiup hempas angin yang menderu menyibak juntaian pohon cemara bersama sang hujan.

Beberapa kali melalui sekat ventilasi hidungku pun kerap menangkap bau harum semerbak tanah yang tersiram benang-benang air hujan.

Dengan posisi kepala tertopang pada atas meja yang penuh hamburan kertas-kertas kerja, aku mulai menghitung denting-denting waktu di pergelangan tangan kananku.

1 . . . 2 . . . 3 . . . 14.400, tidak salah lagi mataku terbelalak bulat kala menyadari sahabatku tercinta, Oh Junghye sudah melang-lang buana di dunia luar, meninggalkan segunung pekerjaan, dan membuat jam pulang kantorku ngaret hanya gara-gara kepergiannya selama jangka waktu 4 jam semenjak istirahat makan siang berakhir hingga saat ini ia belum kembali. Kemana saja bocah itu sebenarnya?

Tega sekali mewarisiku berbukit-bukit kertas begini, tidak tahukah dirinya kalau aku sudah lelah sekali duduk di kursi panas ini hanya demi menghandle pekerjaannya yang carut-marut tak jelas. Bagaimana bisa lulusan akuntansi universitas Inha sepertinya salah menuliskan laporan keuangan perusahaan bulan ini.

Baru saja aku hendak menendang udara kosong di sekelilingku dengan seluruh deru emosi ketika telingaku menangkap sapaan super melengking dari suara yang amat sangat familier.

“MIRA~YA . . . ” Oh Junghye, gadis penghuni 91line ini nampak berdiri dengan gaya khas habis maratonnya tepat di balik meja kerjaku.

Bahu kecilnya bergetar naik-turun menandakan kalau si empunya baru saja melalui petualangan yang teramat menyita keringat. Wajah sebelas-duabelasnya denganku—manis tercetak tak karuan bersama keluyuan. Hidung tingginya juga terlihat memerah, gadis ini pastilah habis menangis. Ada apa pula?

Aku yang sejak tadi sibuk memikirkan trik-trik menghardik dalam benakku untuk menyambutnya pun langsung bungkam seribu bahasa, tak mampu berkata-kata. Tentu saja, iblis macam apa yang kiranya kuat memengaruhi seorang teman untuk berlaku mencemooh pada kawannya yang tengah kesulitan macam itu. Hei, aku di ajarkan mengenai apa itu norma kesopanan dan adab tolong-menolong!

“Hye~ya, kau baik-baik saja?” tanyaku akhirnya mengesampingkan seluruh perasaan gemuruh yang tercipta dari kekesalanku padanya.

“Mira~ya . . . ,” ulangnya menyapa namaku dengan raut wajah yang tak bisa kuartikan. Ada apa?

Perlahan aku bangkit dari kursiku, menghampirinya yang sedang terengah lalu beberapa detik berselang kami berdiri saling berhadapan. Takut kondisi Junghye tak setabil maka aku memutuskan untuk menggamit lengan mungilnya pelan.

“Ada apa? Kau menangis? Siapa yang menyakitimu? Beritahu aku, biar kuhempaskan mereka semua ke neraka,” kataku murka. Tentu bila sudah ada sangkut pautnya dengan sahabat ataupun keluarga tolerirku bahkan hanya mampu setipis lingeri. Ahh . . . lupakan asumsi tersebut! Mungkin aku terlalu lelah.

“Aish . . . kau menyeramkan,” responnya lirih. Hei, sudah di bela mengataiku pula. Gadis ini . . . .

“Sudahlah, jangan bahas mengenai aku yang menyeramkan. Dari dulu aku ‘kan memang begini, jadi siapa dalangnya? Kau kemana saja sejak tadi?” runtutku menanyainya.

“Kau, sudah mengerjakan pekerjaanku yang terbengkalai ‘kan?” ujarnya justru balik bertanya terhadapku.

Aku memutar kedua bola mataku gemas. “Iya, semampuku.”

“Syukurlah,” leganya.

“Jadi, kau belum menjawab pertanyaanku. Oh Junghye, kau dari mana saja? Kabur di jam kerja, tidak professional!” gerutuku sudah mulai normal.

“Benarkah? Tidak profesional? Kujamin, kau akan menjilat kembali asumsimu tersebut setelah tahu alasanku,” ujarnya penuh percaya diri bahkan aku bisa melihat kilatan berapi-api di kedua bola mata hitam kelamnya.

“Oh, begitu? Alasan logis macam apa kiranya yang dengan superiornya mampu membuatku menjilat ludah sendiri? Tidak akan ada. Kupastikan itu hanya sebatas angan kosongmu,” bantahku galak.

“Uhh . . . kau harus mentraktirku 2 boxs chiken setelah ini. Nam Mira dengar, aku yang kau katai tidak professional ini baru saja pulang perang,” ujarnya membuatku ternganga. Perang katanya? Di mana? Semenanjung Korea? Gurun Arabia?

“Kau tak terluka,” responku singkat agak bergidik juga dengan penuturannya.

“Kau kira semua yang perang harus babak belur? Aku baru saja ikut bertarung bersama ribuan antrean di depan gedung PJS Entertainment,” akunya menggebu. Begitu . . . perang katanya? Membentuk barisan memanjang bersama kerumunan orang tak punya kerjaan itu perang katanya? Menghadiahiku tugas menumpuknya demi aktivitas buang-buang waktu macam itu ia kategorikan sebagai perang? OH JUNG HYE . . . otakmu konslet rupanya.

“Kau bercanda?” geramku menahan getaran ledak di hati.

“Tidak. Aku memang menghabiskan waktu 4 jam penuh untuk ikut berburu formulir pendaftaran acara Take Me Out.” Ia . . . tertarik untuk ikut acara Take-Me-Out? Tipe program buang-buang waktu apalagi itu?

“Take-Me-Out?” ulangku penuh penekanan.

“Iya, sejenis ajang pencarian jodoh yang baru resmi di keluarkan PJS Entertainment. Luar biasa, pemilik PJS yang baru memang kreatif. Aku yakin dengan ide-ide otaknya yang cemerlang dia pasti tampan.” Oh Junghye menjabarkan kalimat tersebut dengan suka ria dan seketika membuat darahku naik ke ubun-ubun. Cari Jodoh? Ia berminat mengikuti acara macam itu? Jangan mempermalukanku! Kurasa wajahnya cukup manis, apa dia sudah gila ingin berkencan bersama Ajhussi-Ajhussi dari ajang macam itu?

“Kau . . . .”

“Aku juga mendaftarkanmu.”

“APA? KAU BILANG APA OH JUNGHYE?” Tidak tahu, rasanya kupingku berdengung-dengung nyaring menggemakan semakna kalimat paling asing dalam lubangnya.

Jodoh? Cari jodoh? Aku memang belum pernah pergi kencan tapi tidak perlu jugalah temanku ini menjerumuskanku pada program macam itu. Sungguh aku yakin isinya tak jauh dari pria-pria berjenggot, rambut beruban, jambang tak di cukur, dan ahhh . . . tidak, kuharap tak ada yang giginya ompong. Aku bergidik membayangkan dugaan liarku dalam menjabarkan tiga suku kata yang amat kontras tersebut.

“Tidak usah heboh begitu, nanti juga kau histeris sendiri. Sujud-sujud berterima kasih padaku,” ujar Junghye santai. Apa-apaan dirinya?

“APA? KAU . . . OH JUNGHYE, SEBENARNYA TEMANKU ATAU BUKAN? KENAPA TEGA-TEGANYA MENDAFTARKANKU KE ACARA MACAM ITU? KAU PIKIR AKU TIDAK LAKU? KAU PIKIR AKU TAK BISA MENCARI PRIAKU SENDRI? KAU PI-“

“Miura Haruma.”

“Mi-u? Ra? Miura?”

“Aktor Jepang dambaanmu itu juga salah satu guest star dalam acara tersebut.”

“APA?” Ya Tuhan, Miura. Baru saja Junghye bilang Miura Haruma? Aku mengagumi pria itu, ahh . . . tidak selama di jenjang remaja kuhabiskan waktu untuk mengidolakannya. Miura luar biasa tampan, manis, dan senyumnya pun tak kalah dengan sinar matahari khas negeri sakura tersebut. Ahhh . . . Miuraku!

“Hehe . . . Junghye~ya.” Aku tersenyum-senyum menggoda sambil mentoel-toel lengan temanku yang paling baik itu. Kedua alis tebalku juga sedari tadi sibuk naik-turun guna menyampaikan pesan tersirat yang hendak kubeberkan pada Junghye.

“Apa?” ia merespon singkat seolah tak acuh. Cihhh . . . gadis ini!

“Terima kasih. Aku sungguh mencintaimu, Jungie,” pujukku masih berusaha keras merayunya.

“Haih, trik lama, aku tidak mau tahu. Jilat ludahmu, tadi ‘kan kau sudah sok mengobral kesanggupan.” Lihat! Terkadang Oh Junghye suka keras kepala sekali. Masa dia tidak mau berbaik hati untuk kali ini?

“Junghye~ya, Jungie, Hye~ya, Oh Junghye, Maaf.” Belum bersedia menyerah, aku masih berusaha mengandalkan segala tipu muslihat juga kebisaanku untuk meluluhkannya.

***

Jam kantor berakhir pukul 8.49 PM. Aku berjalan gontai keluar perusaahaan dengan tampang luyu. Meski belum sempat bercermin tapi aku yakin kalau tampilan visualku sungguh kucal dan kumal. Bagaimana rambutku tak mirip rambut singa? Jika seharian ini dari jam 7.00 AM sampai 5 menit kebelakang masih di sibukkan untuk menatap monitor yang berjejalan penuh deretan angka berekor nol belasan digit, coret sana-sini, buka berkas divisi A-Z, rapat darurat ini-itu. Rasanya badanku mau remuk dan nafsu sekali untuk menyumpahi Oh Junghye si sumber masalah atau jika mungkin terjadi telah kusemprot bosku dengan makian-makian geledek, halilintar plus petir supaya di masa mendatang tidak merodikan para karyawannya. Apa susahnya menambah jumlah tenaga audit? Choi Siwon, kugigit kau tahu rasa!

Mobil Audi hijau menjadi bias mencolok yang hadir dalam bingkai retinaku di basement. Sembari menguap kecil, aku berjalan ogah-ogahan memasuki kendaraan besi tersebut kemudian menstaternya dan melesat meninggalkan gedung penguras energi, CHS Company.

***

Lagu beritme syahdu dari solois legendaris asal Hollywood, Celine Dion menjadi satu-satunya bunyi yang mengiringi aktivitas menyetirku. Sesekali mulutku pun ikut mengambil bagian pada nada-nada mudah lagu I’m Alive.

Lampu merah mengalihkanku dari fokus bernyanyi untuk menatap dunia malam kota Seoul. Di kiri-kanan jalanan tampak mobil-mobil mewah masih sibuk hilir-mudik. Para pejalan kaki memenuhi area pedestrian ibu kota. Apa Seoul memang tak pernah tidur?

Braakkk . . . .

Tubuhku terhuyung kedepan hingga membentur stir kemudi begitu secara tiba-tiba terjadi semacam benturan yang menyerang daerah belakang mobilku. Mataku yang sebelumnya hanya menangkap keremangan kini pun terbuka hingga membelalak lebar akibar rasa frustasi yang hadir di karenakan jam tidurku tak kunjung datang. Masih dengan bersungut-sungut ria, aku membuka paksa seatbelt juga mendorong keras pintu guna dapat keluar dan mengetahui siapa gerangan biang onar di malam suntuk begini. Tidak tahukah orang itu jika aku sedang PMS, moodku suka buruk sekali, bahkan gigi-gigiku telah gemelutuk menahan nafsu brutal untuk menggigit leher, menghisap darah mangsaku hingga tubuhnya kering kerontang bila aku vampir tentunya.

Sambil berlenggok bak pereman aku menuju arah belakang. Di sana kusaksikan ada seorang pria tinggi berdiri sembari melangak-longok bumper mobilku. Aihh, kurang ajar sekali dia, tidak akan kubiarkan makhluk ini lolos begitu saja dari tanggung jawabnya. Lihat nanti!

“OMO . . . ,” teriakku histeris begitu mendapati ada baret sepanjang 5 cm yang mengelupaskan cat hijau mobilku. Aihh, apa yang terjadi pada MomoGreen?

Aku berdiri dengan berkecak pinggang serta bibir mencebik, menyoroti pria di depanku dengan sinar laser bola hazel kepunyaanku.

“Ehemm . . . ,” dehemku keras mencari perhatian begitu kulirik orang itu justru tengah sibuk bercengkerama dengan gadget canggihnya.

“Ehemm . . . ,” ulangku.

Dia bergeming. “Ehem . . . ehem . . . ehem . . . .”

Suaraku benar-benar serak kala secara berkala terus mengulangi deheman sia-sia tersebut.

Dan . . . .

Orang itu diam saja. Padahal aku sudah cukup mengundang kehebohan tapi ia justru berlaga tuli untuk tak mengindahkanku.

“EHEMMM . . . .” Ini yang terakhir, aku janji. Di kiranya aku tak malu bertingkah begini sejak tadi? Para pengguna jalan sudah melirik curiga padaku.

“Jadi, berapa total ganti rugi yang harus kubayar?” Hei, dia tidak bisu. Omo, apa pria-pria berwajah tampan nan bergelimangan harta begitu gemar menyombongkan diri? Perhatikan saja tingkah pria ini, berlaga sekali dirinya dengan pamer kekuasaan. Dikiranya aku sudi? Cuihh . . . .

“Ehem . . . begini, Tuan tersangka yang terhormat. Saya hanya butuh maaf Anda dan sama sekali tidak tertarik dengan nominal ganti rugi,” balasku menyombong.

“Begitu? Ya, sudah. Lagipula memang mobil hijau inilah yang bersalah karena menghalangi jalan pengendara lain. Jelas-jelas lampu merah sudah berakhir.” Apa? Dia menyalahkan Mogreenku? Enak saja bajingan ini!

“Lalu Anda menyalahkan saya? Hohh, bagus sekali, ingin lepas tanggung jawab begitu?” tukasku tak terima.

Pria itu tersenyum licik. “Ckkk . . . bukankah baru saja, Anda sendiri yang bilang tak butuh ganti rugi?”

“Tapi bukan berarti Anda bisa lepas tangan begitu, setidaknya apa sulitnya minta maaf?” Kalau ada celurit atau parang atau mungkin samurai sudah kulemparkan benda-benda tersebut ke arah wajah culasnya itu.

“Karena saya tidak sepenuhnya salah. Untuk apa minta maaf?”

“SIM?” ujarku sambil menegadahkan telapak tangan ke arahnya. Pria itu tampak mengerut tak paham.

“Saya memang tidak sudi menuntut ganti rugi pada orang menyebalkan seperti Anda tapi sebagai jaminan kalau suatu saat Anda akan mengakui kesalahan. Sementara saya akan menahan SIM milik Anda.”

“APA? Enak sa—“

“Uhh . . . sepertinya tidak akan sulit untuk menghubungi polisi di jam-jam macam ini,” ancamku sinis.

“Haishh.” Pria itu menggeram namun tangannya tetap merogoh saku celana katunnya. Sebuah benda persegi panjang ukuran sedang langsung hinggap pada telapak tanganku. Puas, aku menyengir sambil menggenggam erat benda tersebut.

“Ahh, Cho Kyuhyun, usia 25 tahun, domisili Gangnam-go.” Aku membaca identitas yang tercantum keras-keras.

“Baiklah, ini kartu nama saya, Anda bisa menghubungi saya bila sudah siap dengan aktivitas pengakuan dosa, Tuan Cho.” Selesai berkata demikian aku langsung berlalu kembali menuju kemudi dan melesat melajukan mobilku tanpa sekalipun melirik kembali ke arah belakang.

***

[HENRY POV]

Brakkk . . .

Suara bantingan pintu mobil menarikku kembali ke alam nyata dan menutup tab dalam layar smartphone untuk sekali sentuhan.

Di jok depan terlihat manajer pribadiku—Kyuhyun Hyung tengah meremas rambut hitamnya keras sambil sesekali membenturkan kepalanya pada stir kemudi. Frustasi sekali tampangnya, kutebak pasti ia gagal mengurus insiden yang baru saja kami alami.

“Kita rugi berapa juta won memang, sampai-sampai wajahmu masam begitu?” tanyaku mengintrupsi acara menghardik diri sendiri yang tengah di geluti Kyuhyun Hyung.

“Aishh, aku lebih rela seluruh rekeningmu terkuras habis untuk ganti rugi kecelakaan ini daripada kehilangan SIM milikku,” jawabnya datar.

“SIM punyamu di sita? Bagaimana bisa?”

“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Sejak tadi apa yang kau lakukan di sini? Bukannya membantukku menghadapi serigala wanita itu malah leha-leha bersantai di sini,” omelnya geram.

“Ckkk . . . kenapa kau jadi bawa-bawa aku? Masa perlu bos turun tangan untuk menghadapi perihal remeh macam begitu. Tinggal kau beri cek, selesai ‘kan Hyung,” tanggapku mengamalkan sifat congkak yang sudah kupelajari sedari balita.

“Hmm, kau belum tahu singa betina macam apa yang kuhadapi barusan. Aku pasti akan membuat pembalasan padanya!” Kyuhyun Hyung terlihat mencekam dalam raut mengancamnya.

“Jangan terlalu membenci nanti malah kau jatuh cinta,” celetukku sembari memulai kembali kegiatan berselancar di dunia maya guna menyapa calon-calon teman kencanku.

“HAH . . . kau pikir aku playboy picisan macam dirimu? Aku sudah punya Jung Hyuna dan selamanya tak akan berpindah ke lain hati,” sergahnya membela diri.

“Aishh . . . percaya diri sekali, kau. Hm, antar aku ke Gaferlen hotel, Hyung!” pintaku kemudian.

“Mau apa kau ke hotel?” Kyuhyun Hyung seperti hendak melumatku dengan tatapan bola matanya di balik kaca spion.

“Ckk . . . refreshing. Aku sudah cukup stres hari ini akibat ulah Jungsoo Hyung dan kotak jodohnya,” ujarku menjelaskan sambil kembali mengingat peristiwa beberapa jam lalu yang terjadi antara aku dan Park Jungsoo di kantor manajemennya.

“Hah, siapa lagi teman kencanmu malam ini? Kenapa tidak ke Pub saja? Hotel riskan sekali untuk bocah sepertimu.” Kyuhyun Hyung yang sudah seperti ayahku sendiri mengambil alih tugasnya untuk sesering mungkin menasihatiku.

“Aihh, sudah antarkan saja, Hyung!” Aku merajuk dan Kyuhyun Hyung tak punya pilihan untuk menolak.

***

Aku setia berdiri menunggui lif di lobby seorang diri setelah beberapa menit lalu Kyuhyun Hyung pamit untuk pulang dan memintaku untuk menjaga diri. Ahh, semoga malam ini beruntung!

Ting

Segera saja  kulangkahkan kaki kedalam lif begitu pintu lebar di depanku menganga terbuka. Telunjukku dalam posisi akan menekan tombol 7 sebelum tiba-tiba dari sisi depan menyeruak seorang wanita dengan tergopoh-gopoh berlari ke arahku.

“Hah . . . hah . . . untung tidak terlambat,” gumamnya cukup keras untuk terjaring oleh telingaku.

Tanpa minat, kulirik sekilas objek baru tersebut dari atas kepala hingga ujung kaki dan satu kesimpulan dapat kutarik bahwa wanita ini kucel sekali. Bagaimana bisa petugas keamanan mengijinkan makhluk mirip zombie begini masuk kemari?

Aku bergidik menyaksikan rambut merah mahagoninya mencuat kemana-mana mirip sarang itik. Pakaiannya sudah tak jelas letaknya. Melorot sana-sini. Astaga masih ada ternyata wanita klasik macam ini di era 2013.

Tanpa sadar aku menggeser langkahku menjauh dari makhluk belum jelas ini. Kalau dia siluman hutan terlarang yang tiba-tiba tersesat kemari untuk mencari tumbal bagaimana? Tidak ada siapa-siapa pula selain kami di dalam besi persegi ini.

Tepukan keras hinggap menyentuh lengan kananku dengan tiba-tiba membuatku menaikan status menjadi waspada. Sembari memicing sinis aku menoleh ke arah kanan. Di sana dapat kulihat wajah luyu dengan lingkaran hitam samar menjadi pemandangan yang memiriskan. Susah payah kuteguk salivaku memasuki kerongkongan.

“Bisa pegangkan ini sebentar?” suara lembut ini tak mampu mengikis kengerianku. Wanita itu menyodorkan tumpukan map warna-warni ke hadapanku.

Sembari menyamarkan deru gemetar, aku mengambil berkas tersebut ragu-ragu. Sementara wanita itu langsung membenahi sweter biru toscanya yang sudah melorot bahkan hendak lepas dari tubuhnya. Memang dia salah satu korban badai Haiyan?

Tangan mungilnya langsung sibuk merapikan helai-helai rambut atas kepala, mencepolnya asal agar tampak lebih teratur. Selesai itu, ia menepuk kedua belah pipi tembamnya seraya langsung beralih menatapku dengan cengiran khas kuda.

“Khamsahamnida,” ujarnya menyadarkanku dari ketercenungan. Dia, cukup manis ternyata.

Setelah sadar kurasakan hilangnya map-map yang tadi sempat kupegang, ternyata wanita itu telah mengambil alihnya. Tampak repot dengan menjinjing tas marun di bahu kirinya, paper bag di lengannya dan puluhan berkas di pelukannya. Apa memang pekerjaannya? Kurir?

Gredekk

Tiba-tiba lif berhenti bergerak. Tidak, jangan bilang konslet. Aish, aku bisa terlambat.

“AIGOO, kenapa? Ada apa dengan lifnya?” Wanita di sebelahku berteriak-teriak heboh sambil menggedor-gedor pintu.

“AIGO, aku bisa terlambat, ini bagaimana?” teriaknya berisik.

“Hei, Tuan bantu aku minta tolong!” suruhnya tiba-tiba.

APA? Baru saja ia menyuruhku? Tidak tahukah dirinya siapa gerangan pria yang di titahnya itu? Berteriak? Buang tenaga? Nanti saja kalau aku menang lotre atau perusahaanku tenggelam di teluk Tokyo.

“Hei, Tuan. Anda tidak tuli kan? Ayo cepat minta tolong!” Lagi suara melengking ini menyakiti telingaku. Membuat kegeraman kian terpupuk subur dalam diri ini.

“Kenapa harus? Kau saja, aku tidak buru-buru masih bisa sabar menunggu teknisi,” ujarku santai sambil menyandarkan punggung nyaman pada permukaan dinding lif.

“Aisah, tak lihatkah mata bulatmu, ada seorang wanita yang sedang kerepotan. Bukannya membatu malah menonton. Mana jiwa priamu?”

Jezzhh

Tiba-tiba tenggorokanku haus akan darah. Rasanya begitu mencekik dan aku tak bisa terima kalau baru saja telinga indahku menangkap tutur kata busuk juga menusuk. Jiwa pria? Seorang Hanry Lau di pertanyakan perihal kepriaannya? Hei . . . .

“Kau . . . .” Aku mejepitnya di dinding lif. Enak saja ia mengungkit mengenai darah pria, dikiranya aku banci?

“Tu . . . Tuan?” ia menggumam tertahan. Berkas yang ada di tangannya telah berserak berjatuhan. Rasakan, aku tak peduli!

“Ka—“ aku memposisikan tangan ke arahnya niatnya ingin mencekiknya supaya ia takut tapi

LEPP

Pluk . . . .

Tanganku hinggap pada sesuatu yang asing. Tidak keras seperti tembok, tidak juga lembut seperti tekstur kulit leher. Area ini kenyal? Mendapati adanya ketidakberesan, aku pun membuka mataku dan langsung syok ketika mendapati tatapan bola mata sewarna hazel yang menyipit garang. Takut-takut aku beralih meneliti tangan kananku yang sekarang sedang bertengger hinggap di, ASTAGA?? INI DADANYA?

TBC

[WJ, 20 Octo 2013]

 

Iklan

One thought on “Take Me Out [Chapter 1]

  1. Seorang Cho Kyuhyun menjadi asisten. Oh my!!!! Wkwkwkwk gak kebayang. Kebanyakan dia meranin seorang bos, tapi sekarang?! Hahahaha benar benar menarik. Asisten Henry lagi. Hahahaha

    Ending bikin syok plus ketawa. Salah sasaran?! Aku tak yakin nyawanya akan selamat setelah kejadian yang tak terduga itu. Penasaran kelanjutannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s