Take Me Out [Chapter 2]

image

TITTLE : Take Me Out [Chapter 2]

AUTHOR: rywei19

GENRE: AU, Romance, Little bit comedy

LENGTH: Chapterd

RATED: PG 17

MAIN CAST: Henry Lau, Nam Mira, Cho Kyuhyun, Park Jungsoo

TWITTER: @rywei_irawan
DISCLAIMER : This fanfict is mine, The casts in this fict are  God’s so don’t be a plagiarism!  Don’t  Copy and Paste My Fanfict  without  permission!

***

[Previous]

LEPP

Pluk . . . .

Tanganku hinggap pada sesuatu yang asing. Tidak keras seperti tembok, tidak juga lembut seperti tekstur kulit leher. Area ini kenyal? Mendapati adanya ketidakberesan, aku pun membuka mataku dan langsung syok ketika mendapati tatapan bola mata sewarna hazel yang menyipit garang. Takut-takut aku beralih meneliti tangan kananku yang sekarang sedang bertengger hinggap di, ASTAGA?? INI DADANYA?

***
[Still HENRY POV]

Ranjang king size arena pembaringan ini berderit lirih akibat ulahku yang tidak bisa diam. Dalam situasi terserang gejala insomnia mendadak, aku masih menahan erangan-erangan menyesakan di karenakan luka lebam pada area sudut bibir sana. Hah, perih dan panas. Seumur hidup aku janji tak akan sudi melupakan hari bersejarah ini.

Drtt . . . Drtt . . .

Getaran ponsel menyudahi kesibukan fokusku yang tengah tercurah terhadap robekan ringan di belahan bibir indahku. Sembari bermalas ria, kugeser icon hijau di permukaan smartphone tanpa harus repot-repot lebih dulu mengecek siapa gerangan si penelpon.

“Aku hanya ingin mengingatkan kalau besok kita ada meeting pagi-pagi sekali. Jadi, jangan bermain terlalu lelah dan tentu juga tak perlu sampai larut malam.” Suara Kyuhyun Hyung langsung berorasi dalam lubang telingaku. Hah, kenapa pria ini hobi sekali mengusikku? Lama-lama kudaftarkan juga dirinya sebagai pembantu pastor supaya bisa leluasa berceramah.

“Hyung kau berisik,” ujarku menggerutu dan sama sekali tak berminat dengan topik rapat yang di hidangkannya. Aku tak sepikun itu hingga harus selalu di ingatkan akan hal-hal klise macam ini yang sudah menjadi agenda makanan pokok bagiku.

“Emm, sepertinya acara kencanmu tak berjalan dengan lancar, Nak,” ucapnya menyimpulkan dan aku memberinya standing applause heboh dalam hati karena kebenaran analisisnya tersebut. Kencan? Rencanaku gagal total.

“Tidak ada hari seburuk hari ini, Hyung,” kataku mencoba terbuka dengannya.

“Hm? Kau di selingkuhi wanita incaranmu? Atau kau gagal mendapat kecupan pembuka? Ohh, jangan katakana kalau pasanganmu ternyata sudah bersuami dan kau di hajar hingga babak belur oleh si prianya?” Dugaannya tak sepenuhnya keliru. Aku memang babak belur.

“Sepertinya sekarang aku sependapat denganmu,” kataku letih, tak menanggapi secara lebih lanjut ejekannya.

Suara helaan napas lirih terdengar di seberang telepon.“Perihal?”

“Bahwa seorang wanita yang murka, kadar keseramannya melebihi singa yang meraum. Mereka luar biasa menakjubkan. Bahkan sabuk hitam taekwondo masa kanak-kanakku tak berfungsi saat di gunakan beradu duel bersama mereka,” jelasku memulai ritual curhat akbar bersama sosok paling mengertiku—Kyuhyun Hyung.

“HAHAHA . . . jangan terlalu membenci nanti jatuh hati. Apalagi kau ‘kan lajang, kemungkinannya besar sekali untuk terjadi,” ujarnya mengutip perkataanku beberapa waktu tadi ketika di mobil. Ahhh . . . berniat balas dendam rupanya. Huhh, pria ini memang berbahaya juga licik sekali.

“Siapa pula yang sudi menaruh cinta pada makhluk urakan macam wanita itu. Jika bisa sudah kuberikan dia padamu, Hyung,” bantahku keras sambil mengingat-ingat rekaman luar biasa bening mengenai peristiwa langka yang melibatkanku dengan seorang wanita super horor berjam-jam silam.

“Akan kukemanakan calon istriku tercinta bila begitu, hm? Sudahlah, apa pun yang terjadi padamu hari ini semoga besok kala aku menjemputmu kembali ke hotel, aku masih bisa mengenali wajahmu,” tanggapnya kemudian. Ckkk . . . tak punya solusi bijakkah dirinya untuk menenangkanku? Terlihat sekali kalau biaya providernya selangit sampai-sampai ia begitu niat untuk segera menyudahi obrolan ini. Lain waktu aku akan membuka cabang bisnis baru, provider murah merakyat agar pria ini bisa menghemat sedikit gajinya dan tak takut bila harus bertelepon ria bersamaku.

“Aish, kau ini.” Aku menyudahi sambungan pembicaraan antara kami dan langsung mengambil posisi senyaman mungkin untuk terlentang menghadap atap kamar.

Wanita? Tak biasanya aku menemukan yang seunik ini. Bagaimana mungkin ada wanita yang mudah sekali menebar tinju? Dan bagaimana bisa wanita itu memiliki kekuatan otot besi macam begitu?
Aku mengusap area bibirku sambil mengingat potongan-potongan kejadian beberapa jam kebelakang.

“PRIA MESUM, BERANINYA KAU MENYENTUH ASETKU.” Astaga, aku tak pernah seceroboh itu sebelumnya hingga bisa memegang pantangan kaum pria. Hah, salahkanlah lif sialan hotel ini yang rusak tanpa lihat-lihat situasi. Andai kata tadi lampunya tidak mati dengan tiba-tiba dan lifnya tak kembali berulah dengan bergerak sendiri pastilah aku tak akan hilang keseimbangan dan memegang ‘itu’ wanita tersebut.

Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri mengingat ekspresi-ekspresi lucu si objek lamunan. Ckkk . . . dia sungguh bisa menjadi mainan yang menyenangkan apabila takdir berkehendak mempertemukan kami kembali.

***

[At Ruent Restorant on Next Day]

“AIGOO, HENRY~AH KAU SUDAH MENGHUBUNGI LAYANAN JASA ASURANSI??” Kyuhyun Hyung berteriak heboh kala membuka pintu kaca ruang VIP rumah makan tempat kami mengagendakan rapat bersama klien.

“Ckkk . . . sudahlah jangan pura-pura peduli. Suruh menjemput, kemana saja kau sampai lepas tanggung jawab?” ujarku mengomel. Bukannya berniat menjadi penggerutu hanya saja pria ini mengesalkan sekali. Bagaimana bisa sebagai manajer pribadiku ia mengabaian tugas penting untuk menjemputku di hotel. Kalau aku di culik tadi bagaimana? Belakangan ‘kan sedang musim pejabat-pejabat yang menjadi bahan sandera para penyamun.

“Aish, begitu saja marah. Jangan terlalu sensitif jadi pria. Aku kan bukannya tidak berguna, sedari pagi-pagi buta di tempat ini menyiapkan berkas-berkas,” ucapnya berkilah.

“Aku tahu kau jagonya membuat alasan. Sudahlah, jadi jam berapa sebenarnya perwakilan dari CHS Company akan hadir?” tanyaku tak sabar karena sudah lebih dari 15 menit duduk terbengong tanpa tujuan di tempat ini.

“Sebentar lagi juga me—“

“Selamat Pagi, Tuan-Tuan . . . ,” sapaan asing tiba-tiba hadir mengintrupsi acara debat yang sedang aku juga Kyuhyun Hyung praktikan.

Seorang pemuda tinggi tegap hadir dalam ruangan. Di balik punggungnya tampak ada siluet seseorang bersembunyi.

“Wah, Presdir muda CHS sudah hadir rupannya. Bagaimana kabarmu, Siwon Hyung?” Kyuhyun Hyung membuka percakapan ketika pria muda yang di panggilanya Siwon itu telah mengambil duduk tepat di seberang meja depan kami. Tentunya di ikuti pula oleh err . . . ternyata ia membawa seorang wanita yang wajahnya masih tersembunyi dalam tundukkan, mungkin asistennya? Jika benar, maka etiketnya sungguh buruk. Bagaimana bisa, ada orang yang kerjaannya menunduk saat bertemu bisnis. Kontak mata itu penting!

“Akan sangat baik andai kata kalian tidak mengajak rapat pada kalender kencanku,” Siwon kalau Kyuhyun memanggilnya Hyung maka kemungkinan aku juga harus berlaku demikan demi adab kesopanan.

“Haha, Maaf. Aku tidak tahu kalau kau ada acara kencan lain waktu sebelum membuat janji aku terlebih dahulu akan menanyakan perihal jadwal lengkap kencanmu pada sekretarismu tercinta.”

“Boleh juga. Henry Lau? Kita belum pernah bertemu sebelum ini kan?” Pria Choi itu beralih memandangku yang sedari tadi sibuk mengamalkan semboyan anak baik dengan hanya duduk manis di kursiku sembari memerhatikan orang-orang dewasa tersebut berakrab ria.

“Sepertinya wajahmu cukup familier di Pub Erotic, atau mungkin secara tak sengaja aku juga sering melihat wajahmu beberapa kali berseliweran di Grafter hotel? Ata—“

“Semakin lama kau sebutkan pernah melihatku makin terkesan bobrok juga diriku,” ujarnya menyela penjelasanku. Haha, pria ini sama saja ternyata. Mungkin di akhir rapat aku akan menawarinya bergabung dengan grup cassanova Gangnam perkumpulanku.

“Hah, bagaimana kalau kita mulai rapat ini sekarang? Ohh . . . tunggu kau belum mengenalkan gadis manis di samping—“
Kyuhyun Hyung tiba-tiba berhenti berujar. Kulirik dari ekor mataku, ia nampak sedikit terperanjat sebelum akhirnya dengan penguasaan diri yang super ia dapat kembali menampilkan ekspresi jahil ala dirinya. Pria ini kenapa pula?

“Sepertinya dia bukan Jung Hyeri, kau mengganti sekretarismu?” lanjutnya kemudian sambil matanya terlihat menatap aneh pada objek wanita yang tengah menjadi bahan pertanyaan.

“Ahh, benar juga. Gadis ini tim audit perusahanku. Nam Mira, berhubung tidak ada yang bisa menemaniku jadi kuajak dirinya,” ujar Siwon Hyung menjelaskan.

“Perkenalkan sa-saya . . . Nam Mira.” Suara lembut ini menyedotku untuk ikut beralih menatap wajah berjenis kelamin wanita satu-satunya di tempat ini.
AHH . . . garis wajahnya cukup menarik, bola matanya lumayan bersinar, dan tampaknya aku pernah melihatnya. Tapi tidak dalam versi seindah ini. Mungkin aku melihatnya tadi malam di mimpi burukku?

“Jangan pelototi karyawanku seenakmu. Di sini aku berjualan bahan mentah pembuatan pemulas bibir. Bukannya pesona menawan karyawanku.” Aish, seperti pemuda-pemuda posesif Siwon Hyung memaksaku untuk berhenti larut dalam pengamatan.

“Emm, tapi kalau tidak salah kemarin aku sempat melihat wajahmu terpampang di tv. Program PJS, ehh . . . Take Me Out. Kau masih single?” ujar Siwon Hyung mengambil jeda saat mengamati proposal yang perusahaanku tawarkan.

“Ahaha, ini murni karena alasan kekerabatan,” jawabku singkat sambil mengusap leher belakangku kikuk. Awas kau Jungsoo Hyung, kalau sampai pamor bujangku turun gara-gara acara absurdmu ini, tamat sudah sejarah PJS.

“Take Me Out. Hah . . . buang-buang waktu saja.” Suara celetukan lirih ini terjaring oleh lubang pendengaranku. Dengan gengsi yang tersinggung, aku menolehkan kepalaku ke arah suara tadi berasal. Tampak seorang wanita sedang fokus membolak-balikan berkas. Haish, mengesalkan sekali makhluk cilik ini. Apa maunya berkata demikian?

“Tentu saja itu acara khusus untuk orang-orang populer. Kalau yang di kompleks rukun tetangga saja ia tidak terkenal pastilah tidak cocok tampil dalam acara sekelas Take Me Out,” ujarku sinis dengan maksud memukul mundur makhluk itu.

“Itu hanya program yang isinya Ajhussi juga Ajhumma. Anak-anak muda tentulah lebih baik pergi kencan daripada menghadiri kontak jodoh macam itu.” Lagi ia kembali melemparkan sebaris kalimat geledek. Uhh . . . ingin kumakan lama-lama dirinya!

“AIHH . . . KAU, APA MASALAHMU JIKA AKU IKUT ACARA TAKE ME OUT, HAA? KITA BAHKAN TIDAK SALING KENAL, BERANINYA KAU!” aku berdiri dari kursiku dengan menunjuk-nunjuk wajah menyebalkan wanita berkuncir kuda itu. Tahu apa dirinya? Aku mungkin memang sungguh menyesali keikutsertaanku pada acara ini tapi bukan berarti aku sudi saja jika harkat serta martabat kegiatan yang kuikuti di remehkan.

“SATU HAL TUAN SOK KENAL DAN SOK TERKENAL, AKU SAMA SEKALI TIDAK MERASA KEBERATAN SECUIL PUN. MAU KAU IKUT ACARA KONTAK JODOH, KENCAN BUTA, NIKAH MUDA ATAU KAWIN KONTRAK. SEMUA ITU BUKAN URUSANKU. APA PENTINGMU?” ia berteriak-teriak sambil menggebrak-gebrak meja. Wajahnya benar-benar mengerikan. Darinya aku beralih memerhatikan Kyuhyun dan Siwon Hyung yang sedang menaganga tampan di tempatnya masing-masing. Aku maklum, keduanya pasti terkejut mendapati singa mengamuk di tengah rapat.

“N-a-m M-i-r-a . . . ,” ini adalah Siwon Hyung. Intonasi kalimatnya sungguh kentara penuh penekanan.

“Mianhamnida,” Wanita pembuat onar itu akhirnya menciut serta kembali duduk di tempatnya. Haha . . . rasakan!

“Tuan Henry, kursimu menangis ingin di duduki,” Oh . . . bisakah Kyuhyun Hyung tak merusak kesukacitaanku? Dengan cengiran lebar penuh paksakan aku menoleh ke arahnya yang tengah menarik sudut-sudut berkedut di atas bibirnya. Aihh, dia marah rupanya.

***

[MIRA POV]

Astaga, dosa apa aku selama 22 tahun ini hingga dengan menyebalkannya di pertemukan lagi bersama dua orang paling mengesalkan seantero Korea Selatan. Cho Kyuhyun . . . Henry Lau . . . apa bosku yang paling menwan itu tak memiliki kenalan lain sehingga harus menjalin kerjasama bersama duo masalah itu? Seberapa besar memang kekayaan perusahaan mereka sampai-sampai si selektif Tuan Choi tak rela bila kehilangan tender ini? Dan kenapa pula Hyeri Eonni tiba-tiba mengambil cuti? Dan apa memang keahlianku sehingga mau-maunya Choi Siwon merekrutku sebagai asisten pribadinya untuk sementara waktu? PAYAH . . . .

“Mira~ya, bersiaplah kita akan shooting 3 hari lagi,” suara bisikan Junghye menyedotku dari dunia lamunan.
Shooting? Apa? Aku bukan artis.

“Shooting, jangan mimpi! Mana mungkin bos akan mengijinkan kita ikut pengambilan gambar dalam rangka promosi perusahaan. Masih ada manajer-manajer yang kadar cantiknya luar biasa melebihi kita,” tanggapku santai sambil mengotak-atik komputer berisi jejalan angka-angka belasan digit—bosan.

“Promosi usaha? Bukankah biasanya kita hanya memasang iklan di koran saja?”

Aku menatap Junghye ragu. “Benarkah? Entahlah mungkin karena efek penuaan dini dan akibat kerja rodi khas CHS aku jadi gampang lupa. Lalu kalau bukan, shooting apa yang kau maksud?”

“YAA . . . NAM MIRA KAU TAK INGAT? KITA ‘KAN AKAN IKUT ACARA TAKE ME OUT!”

“APAAA?”

“TAKE ME OUT.”

“APA?”

“TAK—“

“AISH BAGAIMANA INI? TAKE ME APA—OUT? ITU BERARTI . . . .”

Oh Jungye tampak menatikan kelanjutan ucapanku namun aku lebih memilih untuk menyimpannya sebagai data pribadi. OH TUHAN, kenapa bisa aku melupakan kenyataan kehadiranku dalam acara tak penting itu? Dan apa yang telah kulakukan siang tadi? Jika fakta yang kudengar di restoran saat rapat benar adanya maka artinya aku mengataiku diriku sendiri. Acara buang-buang waktu, mulutku memang harus mendapat privat khusus supaya tidak lancang menyuarakan kalimat-kalimat larangan nan keramat. Emm . . . tunggu, jika demikian berarti aku pun masih akan menghadapi si biang masalah? OH . . . Oh . . . Jangan! Jangan Henry Lau, aku lebih memilih Cho Kyuhyun bila memang harus bertemu dan berurusan kembali. Henry Lau, bagaimana mungkin aku bisa melupakan tingkah tak senonohnya? Seumur hidup ia akan kublacklist dari daftar orang-orang yang sudi kukenali.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s