Take Me Out [Chapter 3]

image

TITTLE : Take Me Out [Chapter 3]

AUTHOR: rywei19

GENRE: AU, Romance, Little bit comedy

LENGTH: Chapterd

RATED: PG 17

MAIN CAST: Henry Lau, Nam Mira, Cho Kyuhyun, Park Jungsoo

DISCLAIMER : This fanfict is mine, The casts in this fict are  God’s so don’t be a plagiarism!  Don’t  Copy and Paste My Fanfict  without  permission!

***

[Previous]

“YAA . . . NAM MIRA KAU TAK INGAT? KITA ‘KAN AKAN IKUT ACARA TAKE ME OUT!”

“APAAA?”

“TAKE ME OUT.”

“APA?”

“TAK—“

“AISH BAGAIMANA INI? TAKE ME APA—OUT? ITU BERARTI . . . .”

Oh Jungye tampak menatikan kelanjutan ucapanku namun aku lebih memilih untuk menyimpannya sebagai data pribadi. OH TUHAN, kenapa bisa aku melupakan kenyataan kehadiranku dalam acara tak penting itu? Dan apa yang telah kulakukan siang tadi? Jika fakta yang kudengar di restoran saat rapat benar adanya maka artinya aku mengataiku diriku sendiri. Acara buang-buang waktu, mulutku memang harus mendapat privat khusus supaya tidak lancang menyuarakan kalimat-kalimat larangan nan keramat. Emm . . . tunggu, jika demikian berarti aku pun masih akan menghadapi si biang masalah? OH . . . Oh . . . Jangan! Jangan Henry Lau, aku lebih memilih Cho Kyuhyun bila memang harus bertemu dan berurusan kembali. Henry Lau, bagaimana mungkin aku bisa melupakan tingkah tak senonohnya? Seumur hidup ia akan kublacklist dari daftar orang-orang yang sudi kukenali.

***
||Still Mira POV||
[Next Day]

“Hoamm . . . . “ Aku menguap lebar di atas kursi putar ala rakyatku. Hah, lain waktu aku akan bertemu secara empat mata dengan Choi Siwon—bosku tercinta yang begitu hobi merodikan karyawan agar ia mau menginventariskan kursi empuk yang sebelas-duabelas seperti miliknya padaku. Tega sekali pria sempurna itu memberi kami—orang-orang berjasa di balik layar kursi butut. Di kiranya pantat-pantat sexy tenaga audit yang seluruhnya wanita tak akan panas apa bekerja hampir 24 jam dengan duduk di atas kursi keras begini.

“Pantas saja selama 22 tahun kau hidup di dunia ini tidak ada pria yang mengajakmu kencan. Demi Tuhan, Nam Mira. Tingkahmu urakan, preman, dan uhh, lihat-lihatlah situasi kalau menguap. Untung hanya aku saksinya, coba ada bos kau bisa langsung di pecat.” Suara gerutuan khas Oh Junghye lagi-lagi menjadi faktor mujarab guna menarikku ke alam nyata, meninggalkan segunung umpatan mengenai bosku. Ckk . . . gadis ini hobinya ikut campur saja!

“Ahh, bisamu mengejekku saja seperti kau lebih baik. Dan aku juga tidak lupa kalau seminggu sekali di setiap pagi pada hari selasa kau selalu memberiku kentut bau bulgogi. Hihi, lebih jorok dirimu ‘kan! Hah, satu lagi aku tidak takut pada bos Choi, belakangan ‘kan aku jadi anak emasnya. HAHAHA . . . .” tawaku sarat akan kepuasan begitu sanggup menggurui si gadis Oh ini. Sudah kuperingatkan ‘kan, jangan main-maian dengan Nam Mira!

“Cihh, mulai mahir juga kau menyombong,” tanggapnya yang hanya kubalas dengan seringaian mengejek. Uhh, sungguh bukannya apa-apa, aku masih kesal dengannya perihal acara Take Me Out. Gara-gara dirinya, kini aku harus waspada tingkat tinggi kalau-kalau ada serangan balasan dari Henry Lau.

“Mira~ya, bagaimana menurutmu kalau nanti kita berburu gaun?” lanjut Junghye kemudian setelah beberapa detik larut dengan berkas-berkas menumpuk di mejanya. Topik obrolan macam apa ini?

“Jangan berkata omong kosong macam itu. Kau pikir CHS akan rela membiarkan karyawannya berleha? Jalan-jalan ? Luntang-lantung ? Cuci mata di stands sosial? Hei, bagi pegawai romusa seperti kita menua di kantor itu wajib hukumnya,” ujarku memberitahukannya sebuah fakta nyata yang memang harus di tanggung kami para pekerja di bawah bimbingan direktur Choi Siwon. Aish, masih terekam jelas dalam memoriku kejadian-kejadian luar biasa menyiksa yang berdatangan selama di CHS ini. Terakhir, sekitar 2 minggu lalu dalam acara rapat temu staf, bagaimana bisa aturan meeting memaksa semua tenaga kerja harus mengikuti jalannya acara dari palu pembukaan di ketuk hingga tirai samapai jumapa di tutup. Hei, kami bahkan di larang ke toilet, memegang handphone, mengantuk, mengobrol sampai garuk-garuk pun di haramkan. Apa-apaan sebenarnya CHS ini?

“Tapi kau mau ‘kan mencari gaun bersamaku?” tanyanya lagi seakan mengabaikan kesangsianku. Gadis ini kotoran telinganya sudah di timbun dari kapan kiranya?

“Sudahlah, Junghye~ya. Berhenti membicarakan hal-hal mustahil macam itu. Lagipula kenapa kita harus membeli gaun? Memang mau kemana kita?” ucapku memberondongnya dengan berbagai pertanyaan kegamangan.

“Uhh, namun sayangnya sekitar sejam lalu bos kita yang paling tampan sejagad raya itu telah memberikan suatu kelonggaran pada karyawan-karyawan teladannya yang lusa akan tampil di tv,” jelasnya membuatku sedikit terkaget-kaget. Ohohoho . . . tumben sekali bos Choi baik hati.

“Huh tidak biasanya bos . . . “

“AIHHH APA KAU BILANG? KARYAWAN YANG MAU MASUK TV? KAU MEMBERITAHUNYA MENGENAI KEIKUTSERTAAN KITA PADA ACARA TAKE ME OUT?” teriakku bengal. Ya Tuhan, gadis ini di mana pikirannya? Apa ia gadaikan sehingga segala polahnya terus-menerus menyusahkanku?

“Aish, Mira~ya suaramu menggelegar sekali! Dan mengapa pula ekspresimu kalut begitu? Memang ada masalah kalau bos tahu? Dia tak akan memotong upahmu hanya gara-gara kau ikut acara ini. Jadi, tenang saja. Sebab aku justru mencium pertanda jika bos akan memberi kita bonus karena secara tak langsung mengangkat derajat serta martabat para karyawan CHS yang kerap di anggap tidak laku.” Aigooo . . . Oh Junghye, dia benar-benar si lidah pedas. Bagaimana bisa ia menjelek-jelekan kaumnya sendiri? Karyawan CHS tidak laku? Umm . . .  benar juga, hampir tujuh puluh lima persen pegawai Company ini lajang serta parahnya belum pernah ada yang kencan. Ckkk . . . setidaknya aku hanya mengosipkannya dalam hati tidak seperti gadis blak-blakkan di samping meja kerjaku itu. Jadi, dosaku sedikit ringan nampaknya.

Aku manggut-manggut sendiri membenarkan asumsi khayalanku. “AIHH, tapi tetap saja kenapa kau memberitahunya, HAAHH?” sadar dari diskusi bersama sang inner, aku kembali memprotes tingkah teman baikku satu ini. Hah, Choi Siwon tahu? Mau kukemanakan mukaku? Baru kemarin saat rapat, aku menggerutui juga mencela acara tersebut di hadapan matanya. Nam Mira Paboya!

“Reaksi berlebihan! Dengar Nam Mira si preman divisi audit CHS, jika aku tak memberi tahukan kebenaran tersebut. Kau pikir ia akan dengan mudah menyetujui permintaanku? Hei, pria keren itu tak mungkin berkehendak bila tak ada alasan yang cukup logis sekaligus menguntungkan bagi perusahaan warisannya ini. Sudahlah, ia cuma pesan kalau sore ini kita boleh pulang awal asalkan besok saat di layar Take Me Out tak lupa guna menyebut namanya berserta ucapan terima kasih tentunya.” Kini aku tengah menahan munculnya dua buah tanduk setan di atas kepala. CHOI SIWON, KAU NARSIS SEKALI!!

KRINGG . . . .

Aku sedikit terlonjak begitu bunyi nyaring telepon mejaku berdering. Siapa pula pemalas yang buang-buang biaya tagihan telepon? Paling juga bicara sepatah kata, haruskah menggunakan telepon? Tidak irit sekali!
Secara ogah-ogahan aku mengangkat gagang putih inventarisku yang jika di pikir-pikir paling normal di banding barang lainnya. Hah, apalagi si kursi butut, aku geli menyandingkan benda tersebut dalam hal ini.

“Ne?” ujarku singkat membuka pembicaraan. Ahh, tak perlu panjang-panjang, irit waktu sekaligus biaya tentunya.

“Berhenti bergosip dan lekas selesaikan laporan keuangan minggu ini yang terbengkalai akibat kesalahan laporan bulan lalu!” Ooo . . . suara bariton ini sangat familier dalam lubang pendengaranku. Sambil sesekali melirik Junghye guna mengirimkan sinyal-sinyal bahaya aku pun berucap, “Ye, Presdir.”

“Aku mengawasi seluruh pelosok gedung CHS. Jangan lupakan mata-mataku di setiap pojok ruangan, kantorku penuh dengan data-data rekaman CCTV. Sekali lagi bertindak membuang waktu dengan bergosip, kupisahkan ruangan kalian berdua.”

Tuttt . . .  tuttt . . . tuttt . . . .

A-I-G-O! AIGO AIGO AIGO . . . ketahuan, lagi.

“Bos Choi? Apa kita akan segera di pisah?” Junghye menyambutku dengan sebaris kalimat tanya yang setidaknya setiap seminggu sekali ia tanyakan. Tidak bosankah ia dengan kekonsistenan tersebut? Apa strukturnya tak bisa di ubah seperti jadi, ‘Apa Siwon Oppa bilang kalau kita akan segera di pisah?’ atau ‘Ahh, pria tampanku akan segera memisahkan kita?’ ata— benakku akan semakin konslet akibat tersesaksi oleh anggapan-anggapan macam itu. Hihhh . . . .

Aku meletakan gagang telepon kembali ketempatnya seraya setelahnya langsung menyambar ponsel pintarku.

To     : Twins Jungie
Text  :

Biasa. Ancaman palsu!

Status : Send

Selang beberapa detik ponselku bergetar, menampilkan bentuk amplop di layarnya.

From : Twins Jungie
Text   :

Lain kali kita sabotase saja CCTVnya. Masa jurus menindasnya itu lagi itu lagi. Sesekali merusak sarana kantor bisa mempercantik warna buku laku kita sebagai karyawan supaya indah bentuknya. Aku ingin yang warna pelangi! \(^_^)/

Status  : Received

“Kau kira raport, tintanya warna-warni,” responku seraya melemparkan ponsel hitam dalam genggaman ke sembarang arah seraya mulai menyibukan diri, bercengkerama bersama layar monitor yang isinya ribuan angka memuakan. Aishh, apa tidak bisa bentuk angka ini di modifikasi sedikit? Bosan sekali melihat nol yang bulat juga polos macam itu. Coba saja ada corak lain seperti di tambah garis di tengah atau lengkungan mungil supaya tidak jadi membosankan begini.
Ckkk . . . auditor oh . . .  auditor nasibmu mengenaskan sekali, bekerja di CHS pula. Semoga kau tak lekas menua karena stres.

***

[At Lucios Boutique]

Tanganku berhasil menyentuh gaun ketiga yang sedari pertama kesinggahanku di tempat busana mewah langganan Junghye mampu menarik perhatian. Kainnya halus, modelnya pun sederhana, tak terlalu terbuka dengan panjang kira-kira sebatas lutut, warna aqua bluenya juga  terkesan kalem. Gaun ini sempurna! Aku akan mengambil yang ini, bagaimanapun caranya dan berapapun harga—kalau terlalu banyak jumlah wonnya, mungkin aku akan meminjam dulu pada Junghye. Benar, biar aku mengutang saja pada gadis si ratu shopping itu daripada sampai akhir bulan nanti malah krisis? Salah sendiri, ia yang mengajakku. Tidak tahu ‘kah bila di pertengahan bulan kerap kali kartu debetku menipis? Huhh . . . .
Beralih dari seabrek masalah keuangan seorang penghitung uang, aku menengok ke arah Junghye, ia tampak sibuk memeluk berlembar-lembar gaun mencolok, penuh bling bling dan uhhh . . . apa seleranya tidak bisa jauh-jauh dari tipe dada rendah? Sebagai wanita aku selalu malu sendiri bila sudah mendapati gaya berpakaian ‘beraninya’.

“Kau sudah dapat gaunmu, Mira~ya?” tanyanya begitu melintas di depanku guna mengunjungi stand lain berisi pakaian wanita dengan status brended.

“Hmm, tak sulit menemukan seleraku.” Tentu saja selera merakyat, upik abu, juga pasaran favoritku ini di mana-mana juga terjajar. Ahh, aku ‘kan memang suka segala kepraktisan meski itu pasaran.

“Ahh, aku ke pojok ruangan dulu ne sepertinya ada yang menjajankan kopi hangat,” lanjutku memberitahukan niatanku. Sebetulnya cukup bosan juga berdiri mematung, menungguinya yang sibuk histeris melihat-lihat pakaian heboh di sini untunglah sekilas kutangkap butik ini juga menyediakan cafe mungil di pojok ruangan. Bisa menghindar!

Langkah kakiku terayun penuh energi semangat merdeka untuk menuju salah satu kursi di dekat jendela sebelum secara telak mataku diberi kejutan. Bagaimana mungkin, nasib mempermainkanku begini?

[Author POV]

“Jongwoon Oppa?” sapaan mirip cicitan tersebut meluncur mulus dari bibir kecil seorang wanita berambut merah mahogany. Terlihat mata cokelat kelabunya mengerjap-ngerjap terburu.

Sementara itu, pria bersetelan seragam warna merah hati dengan hiasan topi bergambar logo suatu tempat usaha makanan cepat saji tersohor Korea memaksa menghentikan laju langkahnya tepat di hadapan wanita si penyapa. “Mira~ya? Kau di sini?”

Sang wanita—Nam Mira mengangguk mengiyakan. “Oppa, kau sudah kembali ke Seoul?”

“Hmm, lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?” si pria pekerja part time mengambil jatahnya untuk bertanya.

“Lebih baik di banding dengan 4 tahun lalu,” jawab Mira lirih sembari sesekali arah telitinya fokus terhadap sekotak pizza di genggaman tangan kanan pria di depannya—Kim Jongwoon.

“Ahh, aku sungguh me—“

“Umm, Oppa bekerja di ‘Hot-Hot Food’? Sejak kapan?” Nam Mira menyerobot perkataan yang hendak di selesaikan oleh Jongwoon serta justru membelokan obrolan sesuka hatinya.

“Ahh, ne. Baru beberapa bulan ini,” jawab Jongwoon maklum.

“Sepertinya banyak yang kulewatkan selama 4 tahun belakangan,” simpul Mira dengan raut yang jauh dari ungkapan ceria.

“Aku pun tak pernah menduga. Ahh, pelangganku menunggu sepertinya obrolan ini harus kita sambung lagi di lain waktu,” putus Jongwoon sembari melangkah cepat menuju kawasan lantai 2 bangunan tersebut tanpa repot-repot menunggu tanggapan Mira.

Nam Mira hanya mampu mendenguskan napasnya gemas sebelum matanya tiba-tiba menangkap kehadiran benda asing sejenis ponsel tepat di muka. Penasaran, maka segera saja gadis itu menengok ke sisi kanannya dan ia dapat melihat pemuda berseragam merah tengah berdiri sembari menyodorkan sebuah handphone padanya. “Boleh minta nomor ponselmu?”

***

Nam Mira menikmati waktu santainya di balik jendela butik tempat ia rehat sembari  menunggui Junghye, sang shopaholic. Segelas kopi yang masih mengepul terhidang di atas permukaan meja duduknya. Sambil senyum-senyum sendiri mengamati pemandangan di jalanan sekaligus juga mengembagkan pikiran akan hadirnya sang maestro objek lamunan yang baru-baru ini ia jumpai, gadis itu terkikik seorang sendiri. Sebelum tiba-tiba secara tak sengaja mata kecilnya justru menagkap hadirnya objek hantu babi di seberang lihatnya.

Di depannya, entah dalam sisi nyata atau khayalan. Ada seorang hantu dengan hidung mirip babi dan kulit pucat, juga berjas. Tidak tahu bagaimana akhir-akhir ini memang banyak sekali hantu-hantu gaul berkeliaran. Terakhir gadis itu secara rutin mengikuti program drama televisi bertajuk Master Sun, hantu-hantu dalam serial tersebut sungguh mengirikan. Mereka luar biasa memesona juga humoris. Pantas saja bisa membuat manusia mencinta, mereka bahkan tak kalah dengan Miss ataupun Mr Korea.

Opini-opini aneh masih bertahan berkeliaran dalam benak sumpek seorang Nam Mira sampai matanya justru menangkap hantu berhidung babi itu mengacungkan jari tengahnya di depan muka, memeletkan lidahnya mengejek serta menarikan bibirnya demi merangkai kalimat menjemukan, “neo michiseoyo.”

“Neo? Nuguya? Aku ‘kah?” gumam gadis itu sembari menunjuk-nunjuk dirinya dengan jemari telunjuk.

“Michi? Kedengarannya itu bukan nama keripik dan lagi sepertinya ada lanjutannya, s-e-o-y-o—“

“AIGOO, Neo???” sontak saja Mira terlonjak dari duduknya, ia bahkan sampai menyenggol mejanya sehingga mengakibatkan kopi lezatnya terpaksa menjadi santapan lantai.
‘uangku’ batinnya mengimbuhkan.

Mengalihkan perhatian dari bangkai kopinya satu paket juga bersama emm, uangnya tentu saja, mata tajam milik Mira langsung menghujam tepat ke seberang tempatnya berdiri. Di balik jendela butik, seorang pria berpakaian formal lengkap dengan jas tuksedo plus asisten di pinggirnya tengah balik menyorotinya remeh.

Mira menudingkan jari telunjuknya menantang tepat ke hadapan muka pria di luar sana. “HENRY LAU, KEMARI KAU!!!”

Suara gelegar pita suara Mira sukses menarik perhatian pengunjung butik bahkan temannya—Junghye telah bersiap di tempatnya berdiri—mengencani pakaian dengan sorot laser penuh peringatan.

“Mianhamnida,” tanggap Mira segera intropeksi diri seraya membungkukan badannya 30 derajat ke seluruh penjuru bangunan.

Dan polahnya sukses memukul balik para pengunjung yang bernapsu menerjangnya. Namun sorak-sorai kelegaan hatinya tersebut tak berlangsung lama sebab untuk kesekian kalinya mata indahnya teracuni pemandangan yang amat menyakitkan. Si hantu babi—Henry Lau kini tengah berjalan dengan gaya modelingnya lengkap pula dengan di damping oleh pengasuhnya yang juga tak kalah menyebalkan—Cho Kyuhyun. Hari ini akan jadi hari yang panjang bagi korban-korban Take Me Out, pasti.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s