Last Kiss [Sequel Of Dating …?] Part 2

TITTLE : Last Kiss [Sequel of Dating . . . ?] Part 2

AUTHOR : rywei19

GENRE : AU, Sad Romance, Angst

LENGTH : Twoshot

RATED : PG-17

CAST : Cho Kyuhyun, Cho Nara, Lee Jonghyun

DISCLAIMER : This fanfict is mine, The casts in this fict are  God’s so don’t be a plagiarism!  Don’t  Copy and Paste My Fanfict  without  permission!

AN : Yang udah baca sebelumnya di sjff terima kasih…

PS : Tulisan dalam bentuk italic merupakan flashback. Seluruh cerita dari sudut pandang Kyuhyun.

***

[At Grace Boutique]

Aku merasa sesak luar biasa kala sebuah simpul dasi berhasil secara sempurna melingkari lekuk leherku. Namun dapat di pastikan sebabnya bukanlah hal tersebut, sebagai pebisnis gaya berpakaian macam ini merupakan formalitas standar yang telah umum kulakukan dan serasa begitu mustahil bila hingga detik sekarang aku masih sulit bernapas ketika menjalaninya.
Usapan ringan di atas permukaan dadaku terasa kian mengganggu tatkala kedua sorot mata ini bak terpaku atas pemandangan paling kurindu yang terdapat di ujung ruangan.

“Oppa?” Bahkan saat suara wanita Song di depanku menggumam memanggil. Haruskah kudeklarsikan bahwa aku benci jenis sapaan ini bila penyerunya bukan Cho Nara.

Dan demi Tuhan, tidak adakah yang bersedia membantuku? Seminggu sudah waktu berlalu tanpa sosok gadis berisik itu di sekelilingku serta sialnya ketika tiba masanya aku menemukan si Cho kecil tersebut malah begini keadaannya. Hah, benar. Appa dan Eomma terlalu jeli untuk terkelabuhi. Mereka menangkap sinyal ilegal perasaan terlarangku dan hasilnya? Yah, sudah harus bisa di tebak. Bagai memang santapan empuk para pelaku bisnis, aku di jodohkan. Appa bersama rekan bisnisnya memanfaatkan kesempatan ini dengan begitu baik. Mereka memutuskan menikahkanku dengan gadis Song yang kini tengah mengiringiku guna menjajal puluhan setel pakaian nikah.

“Oppa?” Bisakah gadis asing ini berhenti menggangguku? Tidak tahu ‘kah dirinya jika sekarang aku tengah sibuk merutuk karena tak kunjung berhasil meloloskan diri dari kegiatan menjemukan macam fitting baju? Hei, aku merindukan Nara setengah hidup dan terlalu mendamba guna menjaring suaranya, menatap wajahnya, mencium aromanya. Tapi nyatanya?
Aku melihat Eomma melirik garang ke arahku begitu beberapa detik lalu mata ini tertangkap basah mencuri pandang pada Nara. Cinta . . . kau menyusahkan sekali!

“Kyuhyun Opp—“

“Ambil saja apa yang menurutmu cocok,” titahku dengan sedikit mendesis malas pada si penanya—gadis muda Song—calon istriku.

***

Jaguar sport convertible Polaris whiteku melaju kencang membelah situasi sore kota Seoul. Berkali-kali mulutku menciptakan celah agar bisa mengeluarkan ganjalan napas di dalam sana. Hah, selepas mengantarkan calon ‘istri bisnis’ pilihan Appa dan Eomma aku memang memutuskan guna menjadi si pemboros waktu guna mengeliminasi denting-denting membosankan tersebut demi mengitari jalanan Seoul. Pulang? Sisa tujuanku hanya apartemen, di tempat itu aku tinggal seorang diri yang arti lainnya, dengan mudah nama Nara dapat memonopoli otakku. Hah, aku sedang tak bernafsu meladeni kepedihan.

Drtt . . . drttt . . . drttt . . . .

Getaran ponselku tertangkap nyaring oleh lubang pendengaran. Siapa pula penelpon di seberang sana, menambah buruk moodku saja.
Melihat situasi sekitar cukup sepi dan tenteram, aku memutuskan untuk meminggirkan mobil, mematikan mesinnya seraya segera menyambar ponsel hitamku.

Lee Jonghyun calling . . . .

Jonghyun? Ada apa bocah ini menghubungiku? Tumben, padahal di Jerman tentulah sudah masuk tengah malam. Apa ia memiliki sesuatu yang penting untuk di bicarakan atau jangan-jangan ia . . . .

“Yeobseo?” Sekuat tenaga aku meredam suara-suara yang tak perlu kutunjukan—gemetar—gagap.

“Hyung? Apa kabar?” Suara merdu di ujung sana mengalun santai. Ahh, ternyata pria ini memang punya point plus hingga mampu menarik hati Nara. Jujur, aku tak terlalu akrab dengan si Jonghyun Jonghyun ini. Seingatku selama setahun ia berperan sebagai kekasih Nara, intensitas keseringan kami mengobrol masih bisa di hitung dengan jari, baik itu tipe komunikasi secara langsung maupun via telepon macam ini.

“Baik. Kau sendiri?” responku mencoba tak canggung. Ia kekasih dari gadis yang kusukai, sedikit banyak aku tegang juga berbicara dengannya.

“Meski cuaca di Jerman masih terlampau dingin tapi aku baik-baik saja. Kau sedang sibuk? Apa aku mengganggumu?” ia cukup terampil bicara rupannya.

“Rata-rata pebisnis Korea sedang sepi job awal tahun begini, aku sangat santai. Ada yang ingin kau bicarakan?” ujarku benar-benar berusaha keras menormalkan diri padanya.

“Ahahaa, kau ada-ada saja, Hyung. Emm, kudengar kau akan menikah?” Ahh, Nara telah memberitahunya ‘kah? Komunikasi mereka lancar sekali. Hei, pria Lee aku iri padamu.

“Begitulah.”

“Hahaha, ada apa dengan calon suami baru ini? Terdengar tak bersemangat sekali? Kau baik-baik saja ‘kan?” aku heran, ia . . . apa tidak terlalu ramah? Kami belum pernah mengenal lebih dalam, sifatnya benar-benar membuatku merasa berperan sebagai bajingan. Betapa lancangnya diriku karena telah mencintai miliknya.
Sedikit ragu aku menggumam menanggapi kekhawatirannya.

“Syukurlah. Kau harus bahagia, Hyung. Nara sangat mendambakannya.”

“Hmm?”

“Tak ada satu pun saudara yang berharap keburukan menimpa keluargannya. Ia sangat menyayangimu, Hyung. Percayalah!” Kali ini aku tak kuasa untuk tak mematung.

“. . . .” Cho Nara, benarkah kau begitu peduli terhadapku? Lalu aku harus apa?

“ . . . .” Menyerah saja ‘kah?

“. . . .” Berhenti mencintaimu ‘kah?

Atau, “Hyung? Kau mendengarku ‘kan?”

Aku mengerjap linglung. “Ne.”

Bocah Lee itu ternyata masih mengajakku mengobrol di ujung sana dan aku membiarkan penuturannya lenyap terbawa angin. Ckkk . . . Nara’s syndrome memang mengerikan!

“Aku sungguh mencintai Nara, Hyung,” alisku terangkat mendengar ucapannya.

“Di kehidupan ini, aku tak akan membiarkan siapapun merenggutnya dariku.”

BOMM

Ia . . . tengah memperingatkanku? Bocah ini . . . .

“Siapapun, Hyung,” tegasnya seakan memperjelas ultimatum yang ia sampaikan di muka. Siapapun?

Aku meringis lirih. “Aku—“

“Mohon dukunganmu, Hyung. Sudah larut, lain waktu aku akan menghubungimu lagi. Terima kasih untuk waktunya. Selamat beristirahat.”

Tutt . . . tutt . . . tuttt . . . .

Masih menganga terbodohi, aku menjauhkan ponselku. Hahh, bocah itu menyadarinya. Sejak kapan? Saat ia berkunjung bulan lalu? Semenjak di Berlin? Atau malah lebih awal lagi? Ckk . . . apa perasaanku begitu mudah terbaca? Mengapa semua orang berhasil menerka? Satu-satunya makhluk tak peka di dunia ini memang hanya Cho Nara. Lihat, jika aku tidak mengaku padanya pastilah gadis bodoh itu tak akan menyadarinya sampai langit runtuh sekalipun. Huhhh dasar!

***

Tetes-tetes air masih berjatuhan membasahi tubuhku. Handuk putih di atas kepala, telah berdetik-detik kufungsikan guna mengeringkan rambut bekas keramas. Segarnya mandi di malam hari. Beban beratku serasa sedikit terangkat berkat aktivitas tak sehat ini. Tapi apa peduliku? Sehat-tak sehat asalkan benakku mampu kosong dari perihal masalah itu jauh lebih mendamaikan.

Semburat cahaya tanpa sengaja tertangkap dari arah laptop putihku yang terbuka di atas meja kerja sisi ruangan. E-mail masuk, baru saja aku merasakan ketentraman lagi-lagi bisnis mengacaukannya. Klien menyebalkan, awas saja orang ini kalau tidak menuliskan persoalan yang penting. Segera kuputus kontrak kerjanya!

Aku duduk di atas kursi kerja dengan tangan yang sibuk menenangkan rambut. Perlahan aku membuka e-mail terbaru di jajaran teratas.

From    : nara_Cho@luckygirl.kr
To         : chokyuhyun@chf.net
Subject : Obrolan
Text      :

Apa Oppa sudah makan?

Senyumku begitu saja merekah mendapati pesannya. Astaga, gadis ini menghubungiku? Setelah berabad-abad lamanya ia menghindar dari sosok bersebut Cho Kyuhyun, akhirnya keras kepalanya mereda juga. Jika begini ia sudah tak marah lagi padaku ’kan? Ia bersedia mengobrol denganku? Cho Nara, kau tahu aku bahagia.
Dengan segera, aku mulai memposisikan jemariku menari di atas keyboard. 

From    : chokyuhyun@chf.net
To         : nara_Cho@luckygirl.kr
Subject : Obrolan
Text      :

Aku akan meneleponmu.

Belum sempat kudial nomornya tiba-tiba layar monitorku kembali berkerlip, menampilkan satu buah amplop di permukaannya.

From    : nara_Cho@luckygirl.kr
To         : chokyuhyun@chf.net
Subject : Obrolan
Text      :

Andwe!
Jangan meneleponku, aku tak ingin mendengar suaramu. Lagipula besok ‘kan hari pernikahanmu, lebih baik kau isirahat saja.
Sudah ya . . . .

CHO NARA . . . .

From    : chokyuhyun@chf.net
To         : nara_Cho@luckygirl.kr
Subject : Obrolan
Text      :

Berani kau menyudahi obrolan ini, besok akan kupastikan pernikahan rancangan tertua CHF tinggal kenangan.

Belasan detik aku menatap intens layar monitor seperti orang kurang kerjaan. Ckk . . . gadis itu lama sekali, awas saja ia benar-benar mensign-up accountnya.

From    : chokyuhyun@chf.net
To         : nara_Cho@luckygirl.kr
Subject : Obrolan
Text      :

Aku belum makan.

Sungguh sekarang ini aku merasa menjadi remaja kekanakan yang tengah merajuk pada kekasihnya demi di temani berkencan.

[17 second later]

From    : nara_Cho@luckygirl.kr
To         : chokyuhyun@chf.net
Subject : Obrolan
Text      :

Kenapa tidak makan? Oppa lupa membeli bahan makanan? Kulkasmu kosong?
Kenapa tidak delivery? Oppa, kau tidak sakit ‘kan? Cepat makan, besok adalah hari terpenting untukmu, kau harus sehat.

Tuhan, ia cemas. Ia tak sepenuhnya mengabaikanku. Ia tak membenciku ‘kan? Dan untuk kesekian kalinya sisi egois merajai, menghancurkan kesempatanku.

From     : chokyuhyun@chf.net
To         : nara_Cho@luckygirl.kr
Subject : Obrolan
Text      :

Aku hanya butuh dirimu.
Saranghae, Nara~ya . . . .

Send.
Aku menelungkupkan wajahku ke atas meja. Barusan tanganku mengetik apa? Cho Kyuhyun paboya . . . !

“ARRGHHH,” jambakan keras kuhadiahkan pada surai hitamku. Kepalaku pening, seperti mau meledak. Tindakan bodoh macam apa itu tadi? Susah payah Nara mau berinisiatif membuka diri kembali padaku tapi seegois ini aku kembali mengibarkan bendera perang? Ia pastilah lebih kecewa kini! ARGHHH . . . .

Sekali lagi aku melirik ke arah monitor. Tak ada pesan baru, Nara marah.

***

[Next day]

Aku berdiri menatap refleksi diri sendiri pada permukaan cermin datar ruangan khusus pengantin pria dalam kawasan gereja Yeol—tempatku rencananya melakukan pemberkatan.
Ini ‘kah akhirnya? Beginikah cinta itu? Apakah cintaku begitu mustahil? Apakah Tuhan teramat melaknatku hingga benar-benar tak ada kesempatan buatku membangun asmara bersama orang yang kukasihi?

“Wah, anak Eomma tampannya . . . ,” pekataan ini seketika itu pula mengambrukan khayalku. Melalui cermin besar tempatku memantulkan diri terlihat siluet Eomma yang tengah berjalan mendekat dengan senyuman mengembang.

Aku berbalik seraya meletakan gelas berisi air mineral yang beberapa menit lalu kukonsumsi dan Eomma langsung meraih dasiku, merapikan simpulnya lalu menepuk-nepuk pelan sekitaran dadaku. Benar Eomma, di sana sakit. Hatiku nyeri sekali.

“Kau sudah siap, Kyuhyun~ah?” tanya Eomma, suaranya terasa menyalurkan getaran berani pada diriku.

Aku tak mengiyakan ataupun menyanggah. Sebuah gumaman jauh dari makna jelas lolos dari kerongkonganku.

“Nanti jagalah Yeulmi baik-baik, jangan menyakitinya, sayangilah dia sebagai pendampingmu. Kau tahu, ia gadis yang lembut, hatinya bak malaikat.” Seberapa pun sempurnanya laku gadis itu tapi ia bukanlah Nara. Aku tak yakin sanggup mengamalkan petuah Eomma. Lalu, Nara . . . di mana dia? Aku belum melihatnya? Meski kularang hadir, gadis itu pasti berlaga tuli serta menempatkan dirinya di salah satu sudut bagunan ini.

“Eomma—“

“Belajarlah untuk mencintai Yeulmi. Ia pantas untuk mendapatkan kepercayaan itu.” Kumohon jangan bicarakan itu sekarang, Eomma, berilah aku kesempatan untuk menemui Nara!

Namun mulutku selalunya lamban. “Eomma aku—“

“Saatnya tiba. Kau harus bersiap di depan altar, kajja!” Eomma menarikku mengikuti langkahnya mengeluari ruangan. Aishh, tolonglah aku ingin menemui Nara dulu sebelum mengikat sumpah . . . .

***

Daun pintu besar menjadi pemandangan agung di depanku, ukurannya yang semampai sungguh menggambarkan betapa megahnya arena peribadatan ini.
Dua puluh tahun rutin aku mengunjunginya sebagai makhluk kotor dan hari ini sekali lagi aku akan bertindak sebagai pendosa. Berbohong, mengumbar ikrar di rumah Tuhan.

Helaan napas yang begitu panjang menemani berdirinya kedua kakiku di pusat altar. Seorang pria paruh baya bertuksedo putih melemparkan seulas senyum di wajah keriputnya. Ini layaknya de javu. Berdiri untuk menanti pengantin wanita di depan pendeta, saling mengikat janji, bertukar cincin, mengucupnya? Aku berharap Naralah orangnya, ialah gerangan wanita anggun yang akan di pasrahkan Appa padaku. Gila, lama-lama aku bisa gila memikirkan hal ini.

“Pengantin wanita memasuki aula . . . .” Setelahnya telingaku menangkap lagu khas pernikahan menggema nyaring memenuhi aula gereja.

Tanpa mengubah raut masam di kanvas wajahku, lenganku menggapai sebuah lengan mungil lainnya. Saling bergandengan, menghadap pendeta yang telah siap dengan selembar kertas bertuliskan berbaris-baris pernyataan.

“Oppa, bagaimana caranya berdoa?” gadis  usia 5 tahun berbisik rendah seraya mentoel-toel ujung kemeja kotakku.

“Jangan tanya padaku, kita ‘kan tidak dekat!” aku bersungut sembari menggiring langkahku bergeser menjauh dari jangkauan si mungil—Cho Nara yang belakangan kerap mengganggu hariku.
Mencoba kembali fokus melantunkan lagu-lagu pujian bersama jemaat lain lagi-lagi aku di buat risih dengan menempelnya sosok bak kuman—Nara tepat di sisi tubuhku.

“Kata Appa, Oppa tahu segalanya. Ayolah, beritahu bagaimana doa itu?” Nara merengek sungguh berbeda dari gayanya, biasanya ia lebih memilih beradu amunisi perang denganku.

“Ckk, memangnya berdoa penting buatmu? Kenapa ingin tahu, Haah? Jangan merepotkan!” bisikanku terlontarkan dengan begitu culasnya.

Nara terdiam di posisinya, ia tampak kaget menemui responku. Aishh, apakah aku bertindak terlalu berlebihan?

“Ya, sudah kalau Oppa tak mau mengajariku. Padahal aku hanya ingin tahu bagaimana caranya agar Tuhan mau mendengarku. Kira-kira kalau aku bilang biasa saja, tidak dengan metode berdoa, Tuhan masih mau mengabulkannya tidak ya??” Sungguh, baru kali ini Nara bersikap mudah mengalah macam itu. Apa ada yang salah terhadapnya? Dan memang perihal apa kiranya yang begitu ia ingin sampaikan kepada Tuhan sampai-sampai ia rela melemah macam ini?

Nara mengatupkan dua telapak tangan kecilnya di depan dada. Setelahnya mata indahnya nampak menatap penuh pengharapan ke arah altar. “Tuhan, aku tidak tahu caranya berdoa, Oppaku juga tidak mau memberitahu. Meski begitu kuharap Engkau masih bersedia mengabulkannya sebab hanya Engkau yang kupercaya. Maka, tolong sampaikan pada Kyuhyun Oppa kalau aku sangat menyayanginya, sungguh sungguh menyayanginya. Aku akan bahagia jika Oppa juga bahagia. Aku tak ingin minta apa-apa, Tuhan. Aku hanya berharap kau menjaganya—Oppaku, karena sampai kapanpun Kyuhyun Oppa akan menjadi orang yang penting untuk Nara.” Sulit bagiku bersikap tak terkejut selepas mendengar cerocosan gadis kecil yang sepanjang hidup kuyakini akan berperan sebagai batu sandungan hati tersebut. Ia . . . harapannya hanya . . . sesederhana itu? Kebahagiaanku??

“. . . .”

“Tuan Cho?”

Aku tersentak dari lamunanku. Terlihat sang pendeta menatap cemas. Bahkan ribuan kasak-kusuk mulai terdengar melingkupi ruangan. Apa? Aku melewatkan sesuatu?
Terasa remasan ringan mampir pada arena lenganku. Gadis Song yang tengah berdiri di sisi kiriku menggengam lebih erat pegangannya seakan mencoba menyalurkan sebersit pesan.

“Tuan Cho, Anda baik-baik saja?” tanya pendeta tua di depanku tiba-tiba membuat alisku mengerut.

Bingung. Aku melirik Eomma dan Appa yang tengah berdiri di jajaran terdepan lengkap dengan sorot was-wasnya. “Ye.”

“Kalau begitu, saya akan mengulanginya sekali lagi.”

“Cho Kyuhyun, bersediakah engaku menerima Song Yeulmi sebagai istrimu dan berjanji akan menjaganya dengan segenap hati dan jiwamu?” ini janji menikah?

“Aku hanya akan serius dua kali. Ketika mengikrarkan sumpah pernikahan di hadapan Tuhan dan berkata demikian padamu di rumah Tuhan.”

Otakku kembali memutar pernyataanku sewaktu natal di Berlin pada Nara. Padahal aku tak berniat untuk menikah, sungguh jikapun tidak mungkin mendapatkan Nara, menjadikannya wanitaku. Maka, aku memilih untuk melajang selama sisa masaku. Namun kenapa takdir justru seenaknya memaksaku menjanjikan kalimat yang hadirnya kusumpahkan hanya tertuju untuk Nara?
Kenapa hidup begitu tak adil untukku? Setelah Tuhan tak mengijinkanku meraih bahagia, kini ia juga ingin melihatku sebagai pengumbar sumpah palsu? Si ahli dusta? Pendosa akut? Atau apa?

“Sa-ya . . .” kurasakan genggaman yang merangkul lenganku makin erat mengekang.

“Saya . . . .” Cho Kyuhyun selamat datang di dunia penuh kebohongan!

Tangan kananku bergerak, menyentuh punggung tangan milik wanita di sisiku. Sambil membungkuk hormat ke arah pendeta, perlahan gerakan-gerakan sederhana memaksa melepaskan pertalian tersebut. “Mianhamnida.”

Setelahnya hanya kasak-kusuk menulikan yang terserap oleh indra pendengaranku. Dalam maraton ini, aku menghampiri sebuah benda besi kesayangan yang telah terparkir manis di halaman gereja. Secepat kilat aku melajukan kendaraan roda dua ini demi membelah Seoul.

“Empat puluh sembilan menit lagi, pesawat Nara lepas landas. Ia berangkat ke Moskow pagi ini.” Gomawo Eomma.

Dan aku masih punya 30 menit lagi guna menentukan akhir dari takdir rumit ini. Tunggulah aku, Cho Nara!

WUSHHH . . . .

***

Aku masih belum menyangka jika jarak Incheon bisa sedekat ini dengan Seoul. Kekuatan super apakah yang membimbingku sampai-sampai cukup dengan 30 menit saja, jarak puluhan kilometer itu tereliminasi. Astaga, jika ini jurus cinta. Aku percaya!

Terburu-buru aku menstandarkan motorku sembarangan di depan pintu masuk. Petugas jaga di sana terdengar memanggil-manggilku untuk bersikap taat peraturan. Hei, mereka itu bisanya hanya bicara saja. Bila sedetik aku terlambat mencapai Nara, pesawat pastilah telah membawanya lari dariku. Demi Tuhan jika sampai semua itu terjadi, aku akan mematahkan masing-masing hidung mereka!

Setelah menuruni eskalator yang berjalan dengan begitu lelet, akhirnya aku menemukan papan pengumuman mengenai segala informasi yang berhubungan dengan keberangkatan luar negeri.

07.30 am  Amsterdam 
07.30 am  Kopenhagen
08.15 am Madrid
__
__
__
10.05 am  Moskow

Takut-takut kulirik pergelangan kananku, di mana sebuah jam tangan hitam tengah menunjukan pemandangan hasil kerjasama antar dua jarum-jarumnya yang menunjuk tepat pada angka 10.10, dari balik dinding kaca bandara, aku menatap sebuah pesawat yang sudah sepantasnya kukenali mengudara, membelah angkasa.
Angin, membawa pergi takdirku.

Brukk . . . .

Bagaikan pria cengeng yang kehilangan penyangga. Aku roboh tanpa adanya Nara lagi yang biasanya berada tepat di hadapanku guna menangkap ketidakberdayaan ini.

Padahal aku belum meminta maaf padanya mengenai tindakan kekanakanku semalam, aku belum memberitahunya jika aku begitu bersyukur sejauh ini karena telah diberi kesempatan untuk mencintainya. Aku belum sempat berkata bila aku bahagia, bahagia dengan hanya menjumpainya selama ini di sekelilingku. Seperti maunya aku akan bersuka cita. Kenapa ia meninggalkanku begitu saja? Kenapa ia tega membiarkanku terjebak dalam sakit tak berujung ini? Kenapa ia tak mengawatirkan seberapa perihnya hatiku menghadapi segala coba ini? Cho Nara, aku sungguh membutuhkanmu. Walau bukan sebagai wanitaku. Tapi aku membutuhkan keberadaanmu demi menopangku.

“Oppa, kajja kita menangis bersama.” Mungkin Nara tak mengingat penuturannya yang satu ini tapi aku selalu menandainya dalam kalender hidupku.
Bagaimana bisa aku lupa? Jika hari itu, di ulang tahun ke-17 saat seharusnya kebanyakan remaja merayakan kehadiran masa menuju dewasa dengan suka cita bersama orang-orang kecintaan ataupun keluarga, Appa dan Eomma justru hanya menyisakan kami—aku dan si bungsu Cho sebagai penghias rumah, membiarkan kami terkurung tanpa pesta dalam lingkup istana menyebalkan bersebut kediaman keluarga. Aku kesal, tentu saja. Apakah para orang tua tak pernah belajar jika kasih sayang bagi seorang anak nilainya bahkan lebih berharga dari gunung emas yang coba mereka bangun sekalipun. Aku . . . aku masih remaja biasa, sama seperti lainnya aku juga butuh kehadiran sosok orang tua.

“Kyuhyun Oppa, masih memiliki aku sebagai adikmu. Tak ada Appa dan Eomma haruslah bukan menjadi masalah besar. Karena aku akan berjuang sekuat tenaga untuk menghiburmu. Kau ingin tertawa? Menangis? Tersenyum? Kita lakukan bersama, ne?”

Punggung tangan yang robek akibat meninju dinding, deru napas memburu, juga kekalutan hati merupakan kombinasi mengerikan yang paling kuingat di hari itu.

“Kau tahu apa? Kau hanya gadis kecil. Bahkan kelahiranmu, hanyalah seonggok masalah baru yang timbul di hidupku. Sungguh akan lebih baik jika seandainya kau lahir dari rahim wanita lain bukan Eommaku.” Tidak. Walau kerap berharap Nara adalah anak titipan kerabat Appa dan Eomma atau anak yang orang tuaku pungut dari panti asuhan, atau mungkin kebetulan tertukar saat peristiwa persalinan tapi demi Tuhan, tak ada niaatan nyata di diriku untuk berkata sedemikian kasarnya terhadap Cho Nara.

Dengan kaki terseret ia mendekatiku, meniup-niup kecil tanganku yang terluka lalu selepas itu lengannya mendekapku. Menepuk-nepuk area punggungku. Ia tidak menangis, tidak marah, tidak kesal.

“Aku akan berlaga tuli hari ini, tumpahkanlah seluruh kekesalanmu. Jika memang dengan mengataiku akan membuatmu lebih tenang maka lakukanlah sampai Oppa bosan. Aku di sini akan memelukmu, mengusap punggungmu seperti yang kerap kali Eomma lakukan. Saengil chuakke, Kyuhyun Oppa . . . aku menyayangimu.”

Sebulir air mata jatuh menimpa punggung tanganku. Aku membutuhkanmu . . . .
Kenapa kau meningalkanku?
Aku tak sanggup tanpamu, dengan deru cinta ini aku harus bagaimana?

Cho Nara . . . .

“Kyuhyun Oppaku tak serapuh ini. Menangis adalah pantangan baginya,” adalah suara milik gadis itu yang mampu membuatku mendongak, menghempaskan seluruh kegamangan.

Cho Nara, berdiri dengan sebuah koper besar di sisinya. Ia memandangku iba. Sebelum akhirnya hadir sebuah telapak tangan yang terulur padaku.

Mengabaikan uluran tersebut, aku beringsut berdiri menggunakan kakiku yang kian lama justru terasa semakin sulit kugerakan. Berbekalkan kepingan-kepingan kekuatan aku langsung menabrak tubuhnya dengan badan besarku. Mengunci seluruh gerak menghindar yang coba ia ciptakan. Aku mendekapnya, erat.

“Jangan pergi. Tetaplah di sisiku,” gumamku meminta atau bahkan putus asa.
Wangi vanilla ini, Nara. Rasa hangat menenangkan ini, Nara. Kenyamanan ini, Nara. Aku berusaha merekamnya sejelas yang kubisa.

“Kenapa di sini?” Meski aku teramat merindukan suaranya tapi untuk kali ini aku benar-benar tak mengharapkannya mengintrupsi bila hanya ingin menguarkan kalimat menjengkelkan itu.

“Aku telah menjadi pria brengsek di seluruh penjuru Korea tapi tak masalah di banding harus menjadi pecundang, sekali lagi,” ujarku sambil menggeretnya memojok pada dinding demi menghindari tatapan menonton para pengguna bandara.

“Lalu pernikahanmu?”

Aku mengabaikan pertanyaannya. “Lalu keberangkatanmu?”

“Aku sudah menduganya. Kau pasti memilih untuk bertindak bodoh. Aku menundanya,” jawabnya yang jujur sedikit memberi dampak angin sejuk pada hatiku.

“Aku mencintaimu. Perlukah aku melakukan hal bodoh itu?” ucapku kemudian memutuskan menjawab tanyanya di awal.

“Kau tahu pasti ini mustahil. Jangan menyakiti hatimu lebih dalam lagi, sudahi saja. Aku tak mau melihatmu semakin tersiksa.”

“Kalau begitu jadilah wanitaku. Aku membutuhkanmu.”

“Kau menyalahi garis Tuhan. Kau bisa jadi pendosa.”

“Sejak awal aku memang sudah bedosa. Bisa apa? Aku mencintaimu. Rasa terkutuk ini juga bukan aku yang menghendakinya, Nara~ya. Aku tak pernah meminta terlahir untuk jatuh hati padamu.”

“Hentikan. Aku tak mau kau lebih terluka. Kumohon Oppa, aku mohon . . .”

Kami sama-sama terduduk di lantai, tepat di balik pot besar berisi tanaman hijau merumbai.

“Bunuhlah aku. Mencintaimu adalah satu-satunya yang kutahu selama ini. Jika tak mungkin, jika kau menyuruhku berhenti, bunuh sajalah aku, Nara~ya.”

“Oppa . . . kau lebih kuat dari ini,” Nara membelai kedua pipiku menggunakan tangan halusnya.

“Nara~ya . . . .” Selepasnya aku merasakan tubuhku bersandar nyaman pada tubuhnya. Ia mendekapku. Menyalurkan sesuatu makna lewat sentuhan ini. Ya, aku sadar ia mulai goyah.

“Oppa, dengarkan aku sekali ini saja!” Bisa kudengar debaran jantungnya mengeras di depan dadaku. Walaupun tak pernah ia lisankan namun reaksi hatinya tak pernah berhasil mengelabuhiku.

Aku diam, mencoba tenang dalam sentuhannya. “Jika suatu saat Tuhan mau berbaik hati untuk memberikan napas baru bagi kita di kehidupan mendatang. Kau tak perlu menanggung sakit ini seorang diri.”

Masih belum tertarik menyelanya, aku ingin mendengar lebih banyak lagi tuturannya yang nanti mungkin akan sangat kurindu atau parahnya tak bisa kutemui lagi. “Di hari itu, percayalah aku akan menemukanmu lebih dulu. Di masa itu aku akan bertindak sebagai pengejarmu. Tak peduli bila aku bukan lagi Cho Nara atau kau bukan lagi Cho Kyuhyun. Aku akan merasakan hadirmu dan aku janji pada saat itu, tak ada apa pun yang sanggup menghalangi cinta di antara kita. Selelah apa pun perjuangannya, sesulit apa pun jalannya. Aku akan bertahan untuk mencintaimu sebagai pria.”

“Tapi di kehidupan ini, kumohon tetaplah jadi Kyuhyun Oppaku. Tetaplah menjadi pria yang dengan sukarelanya membagi pengalaman terhadapku. Tetaplah menjadi penyemangat gardu terdepan urusan asmaraku. Cho Kyuhyun aku menyayangimu.”

Dan setelahnya yang kurasa hanya bibirnya yang bergerak menggapai permukaan bibirku. Aku tak tahu mengapa sentuhan ini terasa begitu perih. Dan aku pun tak paham mengapa semua gejolak berontak di diriku runtuh seketika. Yang kusadar hanya, Nara memulainya, menyalurkan getaran perpisahan yang tengah coba kami nikmati. Ia mendekap kuat leherku dan aku kian menekan tengkuknya. Hari ini yang terakhir, aku janji Tuhan . . . .

Perlahan kami mulai menjauhkan kepala masing-masing, aku menatap raut basah wajahnya. Namun perlahan tergantikan dengan seulas senyum simpul. Seolah terjangkit, aku membalas senyumannya.

“Cho Nara sampai bertemu di masa depan, aku menanti janjimu,” bisikku dan langsung di sambung dengan tindakan tangan kiriku yang menarik lebatnya daun guna mampu lebih dalam menutupi. Sementara sebelah tanganku kembali meraih dagunya. Mempersatukan sesuatu yang akan menjadi akhir perpisahan kami. Tuhan, aku merelakannya. Terima kasih sudah mengirimkan Cho Nara dalam lembar kusam hidupku.
Dan Nara~ya gomawo berkatmu hidupku benuh bercak warna, mencintaimu adalah hal terakhir yang ingin kukenang eksistensinya, dan boleh ‘kah aku mengakuinya sekarang meski hanya dalam hati? Jujur, aku telah mengusahakan berbagai jalan untuk menebas cinta ini, meninggalkan rumah merupakan cara terbuntu yang mampu kulakukan demi menekan rasa cintaku namun hasilnya, justru ada privat kencan. Hal itu hanya trik kotorku yang terbakar cemburu akibat mendapat kabar dari Eomma jika kau sudah menemukan cintamu. Dan karena aku egois, aku tak mampu menerimanya. Juga demi makin memekarkan perasaan ini ada christmas love, kau benar. Aku hanya menggunakannya demi memenuhi tuntutan rasaku semata.

Lambat-lambat aku mampu menjumpai senyum-senyum Nara di masa lalu yang sukses membuatku terjerembab dalam lubang cinta. Bahkan kaset-kaset kisah kami di waktu dulu pun ikut berbondong-bondong menyerbu benakku.

“Kissu?”

“French Kiss.”

“Tapi apa harus dengan merebut first kissku? Itukan untuk jatah kencan pertamaku.”

Kau tahu Nara~ya, faktanya hari itu kau juga berhasil merebut first kissku . . . .
Selamat tinggal, Cho Nara, sampai jumpa di masa depan.

Aku merasakan sakit yang teramat menusuk jantungku. Meremas paru-paru. Seketika itu pula sesak luar biasa yang sedari tadi kutahan kian membelenggu. Aku tercekat, hanya gelaplah yang perlahan menjemputku.

Ini jalan yang kupilih, pendosa. Di masa depan jika kesempatan memang berpihak, apabila Tuhan masih mau mengibaiku, aku akan jauh-jauh dari sumber dosa. Cho Nara, aku tak bohong. Aku memilih berhenti, mundur dari takdir ini tapi aku tak akan pernah sudi menyudahi rasa cintaku terhadapmu bahkan bila seribu kali Tuhan berencana mengirimku kembali berkelana di alam fana ini, akhirnya akan selalu sama, bersamamu . . . .

Semburat cahaya menggiringiku menjauhi sosok yang selama lebih kurang 26 tahun kutempati, ragaku. Tetes-tetes darah merembes melalui celah hidung dan mulutku, efek obatnya ternyata telah sukses bereaksi, menghancurkan saraf-sarafku dari dalam. Kulihat gadis kecintaanku menangis tersendu, berteriak histeris tatkala menyadari hilangnya aku dari cangkang itu.

Yang terakhir untukmu, gadis masa depanku. “Mianhae, Nara~ya . . . . “

END

And yah begitulah ending gajenya. But here’s the bonus to you guys…
***

Aku masih terduduk—berselonjor sembari memeluk sayang leher seorang wanita berbau vanilla tepat  di atas sofa krem yang menghadap langsung pada deburan ombak di ujung dinding kaca sana. Sore indah pulau Hawaii tiga hari ini memang menjadi teman tersetia bagi kami.

“Hei, Nona Han?” kataku membuka sepi seraya sibuk mengendus aroma vanilla yang begitu kuat terkuar dari diri objek di depan dadaku.

“Hmm?” gadis—maksudku wanita Han ini mengumam menanggapi. Ahh, tumben sekali ia jarang bicara. Memangnya pesona pantai itu lebih menawan apa daripada tampangku? Mengesalkan!

“Ada apa, Oppa?” lanjutnya memperbaiki seraya merangkum wajahku penuh kasih setelah berdetitk-detik terlalui dengan aku yang mengunci mulut.

Dan yah, aku luluh. Di belai macam ini oleh dirinya selalu membuatku takluk. Maka, tak heran bila seulas senyum miring kembali terpasang pada kanvas wajahku.

“Kau tahu, aku seperti telah lama mengenal wangi vanillamu,” ucapku sambil terus merasai sentuhan-sentuhan lembutnya di jengkalan kulit mukaku.

“Maksudmu bauku pasaran? Atau jangan-jangan kau selingkuh, ne di belakangku dengan mengencani kembali mantan kekasihmu? HAH? Mengaku! Mengaku saja! Wanita lain mana yang kau kencani, Heh??” teriakan wanita itu tiba-tiba menggema. Tangan-tangan terampilnya kini pun aktif memukuliku dengan bantal penghias sofa. Aishh, dia salah paham . . . .

“Berani sekali kau mengkhianatiku. Dasar lelaki, janji-janjimu palsu, busuk. Sudah punya istri masih saja mata keranjang!” Wanita kecintaanku masih belum mau berhenti memukul, menjitak, menggelitik, pokoknya ia tak mau diam meski sekadar memberi jeda demi mendengarkan penuturanku.

“Aish, Cho Nara!” aku menahan pukulan spektakuler yang hendak ia daratkan pada area kepalaku yang sangat berharga.

Mataku mengunci tatap dua bulatan indah cokelat bersinar yang tampak begitu tak berdosa. “Untuk apa aku selingkuh? Bahkan jika kisah tentang masa depan itu benar-benar ada. Aku hanya ingin berakhir dengan bersamamu, Cho Nara.”

“Kyuhyun Oppa . . . .”

“Aku membutuhkanmu, Nara~ya, selalu membutuhkanmu.” Rasanya sunset di pulau terelok sejagad ini masih kalah indah dan menawan di banding bibir mungil nan manis istriku. Hingga tak heran bukan kalau sebagai lelaki tanganku bergerak menuntun apa yang sudah sepatutnya bersatu untuk segera di pertemukan. Aku suka rasa vanilla bibirnya, Nara padahal tak hobi mengonsumsi segala sesuatu yang berhubungan dengan vanilla tapi aroma sekaligus perasa ini kental sekali menempel padanya. Aneh, jiwaku pun serasa telah mengenalnya sejak beribu-ribu tahun lalu, Han Nara . . . wajahnya, aromanya, suaranya, sikapnya bahkan kecupannya terlampau akrab bagiku. Bahkan ketika pertama berjumpa dengannya tak sulit untukku agar segera jatuh mencinta terhadap sosoknya, sebab ikatan itu terasa kuat sekaligus pekat. Nara seperti memang terlahir khusus untuk Kyuhyun. Dan aku menyukurinya, sangat berterima kasih atas kebaikan Tuhan akan hal ini . . . .

“Father, Mom . . . Il Hyun mau minum susu.” Dan seperti biasanya bocah kecil itu kembali mengganggu kegiatan orang tuanya. Hah, Cho Il Hyun berhentilah merecoki program penciptaan little Cho yang tengah di canangkan Appamu ini, Nak . . . .

***
FINISHED

Iklan

3 thoughts on “Last Kiss [Sequel Of Dating …?] Part 2

  1. endingnya pas banget..walo kyuhyun bunuh diri dengan menanggung semua kesesakan hTi
    g kebayang nasib nara waktu ditinggial sama kyua
    endingnua sudah ok..krn insest married ttp g akan bahagia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s