A Mazes

image

***
 
Aku mencintainya.
 

             Telah lebih dari jutaan kali aku mengutuk diri sendiri karena sekuat tenaga memilih mengelak dan berdusta tapi apalah daya kala kenyataan selalu jauh dari apa yang sempat terpikirkan.
 
             Kukira memendamnya, berpura-pura kalau segalanya baik-baik saja merupakan jalan terbaik guna sanggup memperbaiki segalanya namun sekali lagi kutegaskan kalau berbohong bukanlah gayaku dan aku payah sekali dalam merealisasikan hal itu.
 
            “Belum tertarik untuk jujur, Andri Raga?” Lagi untuk ketujuh kalinya dalam kurun waktu 60 detik. Pria berwajah bule di hadapanku melayangkan sebaris kalimat tanya yang sama. Sekilas tertangkap sepasang bola hazel hijaunya berkilat seakan tengah memperingati bahwa sinarnya lebih mengerikan di banding sambaran-sambaran guntur yang sedang mengalun di luar sana.
 
            “Hal apa yang mesti kuakui kejujurannya? Seingatku aku tidak sedang berbohong,” jawabku enteng mengabaikan ancamannya dan lebih memilih hanyut guna meneliti rintik-rintik air yang berjatuhan dari atap, di balik jendela bangunan berdinding kayu kediamanku.
 
            “Hah, 3 tahun lalu aku berdiri di jajaran paling depan dalam daftar tamu undangan. Suara huskymu juga masih terngiang di telingaku kala dengan gagahnya bersumpah akan menjunjung kebenaran sebagai seorang advokat muda. Hei, kau keren sekali hari itu!” Lucas masih sempat mengibaskan poni miring rambut pirangnya kala mengingatkanku pada diri seorang Andri Raga dalam usia 23 tahun. Hari itu aku berhasil lolos seleksi di badan kehakiman tepat sebulan setelah melakukan wisuda. Dan sesudahnya memilih larut guna mengabdikan diri pada negara.
 
            “Kau tidak pernah mengatakan fakta itu sebelumnya,” ujarku tenang bermaksud sedikit mengurangi kecanggungan yang tiba-tiba menusuk kalbu. Masa lalu, aku agak risih kalau harus kembali memikirkannya.
 
            “Tanpa aku juga ikut berpendapat, bukankah sudah jutaan manusia memujimu. Hah . . .  aneh sekali kenapa bisa kau tercipta dengan begitu sempurna? Wajah tampan khas pria, otak cerdas, finansial luar biasa, dan parahnya lagi kau jadi juara kontes paling terkenal seantero Jawa Barat, Mojang Jajaka? Kau sungguh . . .Tsk!” Satu-satunya teman abadiku Lucas Gracio menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Sungguh ciri khasnya sekali. Seorang Lucas dari semenjak kami mulai bersama-sama sebagai tetangga 19 tahun lalu di kota kelahiranku Bandung memang kerap bertingkah macam ini. Membuatku tanpa sadar tersenyum geli akibat ulahnya. Ia mungkin bukan warga negara asli negeriku tapi kecintaannya pada kota kamidia kerap kali protes kalau aku tidak mengatakan kata kami terhadap Bandung sungguh luar biasa. Dia suka semua jenis hidangan Sunda, belajar bahasa daerahnya, mengenal dengan baik kebudayaannya dan errr . . . ia sungguh menaruh puja pada wanita asli produk parahiangan. Dasar pria ini!
 
            “Hah . . .  itu kan dulu,” tanggapku singkat sembari mengangkat bahu tak peduli.
 
            “Dan oleh karena semua itu kenangan masa lalu, aku lebih menghargainya. Andri Raga di masa dulu meski belum seterkenal hari ini tapi setidaknya ia tak gemar berbohong.” Sesungguhnya aku telah menagkap kemana larinya inti pembicaraan kami tapi aku memilih untuk mengabaikannya.
 
            “Aku tahu kau ahlinya hukum, pakarnya pemecahan masalah tapi tak bisa di pungkiri kalau kau juga manusia biasa seberapa pun kemenakjuban didirimu. Menyakiti diri sendiri, kau hanya akan mendapat kebabakbeluran. Raga, kau cerdas bijaklah dalam berkeputusan.”
 
Aku hanya tersenyum simpul sembari menyoroti hujan deras berangin kencang bak badai di halaman depan rumah.
 
            “Pagi tadi aku baru menerima undangan dari Lanna dan . . . .”
 
           “Kakakmu.”
 
JDERRR ….
 
 
           Sambaran kilat tepat tercetak di hadapan mataku. Kaca transparan di depan sana bergetar hebat, hampir pecah. Mulutku agak ternganga karena terkejut. Bukan, sebabnya jelaslah bukan petir yang bersahutan di luar tapi nama keramat yang baru saja Lucas beberkan. Setengah sadar, aku masih sempat untuk menghela napas yang terasa mencekik. Dan aku tahu, sedari awal aku memang telah terluka.
***
 
            Hujan masih mengiringi kesinggahan bulan November, bau basah terkuar di lautan alam bebas. Di atas saung apung yang kolamnya terus terombang-ambing akibat tersiram jarum air langit, aku membagi perhatian antara sepiring kecil sorabi oncom juga pemandangan berkabut yang membungkus pegunungan hijau kota Bandung.
 
            “Aku tidak mau menikah dengan Arkha.” Suara lembut tiba-tiba menusuk lubang pendengaranku.
 
            “Lalu dengan siapa memangnya kau ingin menikah? Lagipula bukankah Kau mencintainya? Undangan bahkan sudah di sebar, besok juga kalian di berkati.”
 
            “Ga, apa tidak ada sedikit saja celah untukku di hatimu?”
 
DUARR
 
 
           Andai kata menangis sebuah kewajaran bagi pria. Maka, saat ini aku sudah meraung-raung meratapi sayatan memanjang yang menggores ulu hatiku . . . karenanya.
 
            “Jangan bercanda, sejak remaja kau dan kak Arkha itu saling mencintai. Bukan berarti karena di detik-detik menjelang hari H kerap kali hadir sindrom pranikah kau jadi meragukan perasaanmu.”
 
            “Tapi dari dulu aku sungguh mencintaimu, Ga.”
 
            “Lanna Rein, kau hanya menganggapku sebagai teman, percayalah. Dan lagi . . . .”
 
            “Aku tak akan menikah.” Bohong. Tuhan, kenapa aku jadi pendusta macam ini? Tidak bisakah Engkau memusnahkanku saja dari dunia-Mu? Aku mencintai wanita ini, Lanna teman masa kecilku tapi mengapa? Mengapa tak Kau jodohkan aku dengannya?
 
            “Kenapa?” Tentu karenamu. Kau pikir aku sanggup melupakan wajah ayumu? Rambut halus pendek yang tak pernah melebihi bahu sejak 26 tahun lalu, hidung bangirmu yang sering kali memerah karena hobi menangismu, bibir cilikmu yang begitu gemar mengocehiku, yang selalu melengkungkan keindahan senyuman khas wanita buatku. Kau kira semua hal itu mampu kuabaikan?
 
            “Aku tidak bisa mencintai seorang wanita melebihi pekerjaanku. Jadi, selama sisa hidupku aku akan berjuang untuk menegakan keadilan dan menjadi advokat terhebat.” Lihat, sebagai seorang advokat aku sudah ingin menenggelamkan diriku hidup-hidup ke lautan akibat perasaan malu yang kian menggunung berkat kebohonganku. Lain di mulut beda juga di hati.
 
            “Begitukah? Apa kau akan bahagia?”
 
            “Hmm.” Aku harap demikian. Meski lebih dari Sembilan puluh lima persen aku yakin, hatiku akan mati setelah melepasmu. Namun aku tetap mengangguk mantap guna membuat Lanna percaya. Raga, kau idiot!
 
           Sesudahnya aku dan Lanna sama-sama terdiam untuk larut dalam kesenyapan. Memerhatikan ikan-ikan mungil yang melongok di permukaan kolam setidaknya mampu sedikit mengikis kesemerawutan benakku, Bandung aku selalu suka alam menenangkannya.
 
            “Jangan datang!” Aku menengok ke arah samping untuk menangkap sosok Lanna yang tengah menunduk dalam di seberang dudukku. Poni tebalnya bagai tirai, menutup sempurna raut wajah yang sering kupuja secara diam-diam.
 
            “Jika besok kau hadir. Maka, kau bukan hanya akan menyakiti diriku tapi kau juga akan lebih melukai dirimu.”
 
Meski ragu kalau keterbelalakan mata kecilku mampu tertangkap olehnya namun sungguh aku terkejut. Dia . . .  tahu?
 
***
 
At Katedral St. Petrus Church
 
 
             “Tsk … bocah ini,” Lucas mendecih gemas begitu sampai di hadapanku tepat di pintu masuk altar.
 
            “Kau juga datang?” ucapku berbasa-basi menyambutnya dengan senyum simpul.
 
            “Harapanmu? Hah, mana tega aku membiarkanmu mati berdiri akibat sakit hati. Tuan Raga yang rapuh, aku siap menampung tangismu dan satu lagi hapus segera senyum palsumu itu, aku muak melihatnya,” ujarnya seraya merangkul bahuku sok mesra.
 
            “Jangan besikap menjijikan, Lucas Gracio. Menyingkir dari tubuhku dan tempati kursimu!” suruhku kesal.
 
            “Hah, kenapa masih memaksakan diri ke tempat ini? Bukankah kemarin malam aku sudah menasihatimu untuk menuruti perintah Lanna. Jangan datang, kau ini susah sekali di beritahu.” Seperti wanita-wanita labil, Lucas kembali menceramahiku seperti sebelumnya.
 
            “Kau berharap aku menjadi pendosa seperti apa? Mana mungkin di hari penting kakakku sendiri aku tak mau bergabung merayakan suka citanya? Aku sangat menghargai kakakku,” ucapku apa adanya.
 
            “Walaupun dengan nyeri hatimu sebagai jaminannya?” 
 
            “Apapun, bahkan jika harus dengan nyawaku untuk taruhannya. Demi kak Arkha yang selama 26 tahun ini kukenal sebagai satu-satunya keluarga. Tentulah hal-hal pengorbanan macam ini bukan suatu masalah besar.” Benar, sedari kanak-kanak aku memang sudah hidup berdua bersama kak Arkha karena orang tua kami harus menghadap Tuhan akibat kecelakaan pesawat ketika usiaku baru 2 tahun. Dan setelahnya, hanya kasih sayang seorang Arkha Rega yang kukenal di samping juga Lanna Rein dan Lucas Gracio orang-orang terdekatku.
 
***
 
            “Ya, saya bersedia.” Suara ini menyusul dari wanita berbalut gaun panjang semata kaki berwarna putih gading setelah sebelumnya juga hadir bunyi berpola serupa dari seorang pria tinggi tegap berusia akhir 20-an dalam naungan tuksedo putihnya.
 
            Tanpa di duga mataku berembun hingga dengan gegabahnya melewatkan pernyataan sang pendeta yang mengumandangkan sah-tidaknya pernikahan ini.
 
            “Ga, kau baik-baik saja?” Suara bariton Lucas menyedotku kembali ke kesadaran. Menarikku lagi pada kubangan kesakitan.
 
            “Rasanya seperti hampir mati, Cas. Hatiku perih, napasku sesak. A-aku . . .  lelah.”
 
            “Raga . . . .”
 
            Aku tak tahu kapan memulainya tapi ketika sadar nampak di hadapanku berdiri seorang pria berahang tegas, dengan bola mata hitam mirip denganku, hidung runcing dan bibir titis yang melengkungkan segaris senyum sederhana. Dari atas rambut hingga bawah telapak kaki, penampilannya rapi dan terkuar aroma mint yang selama ini hapal kubau. Ia, Arkha Rega.
 
            “Selamat, Kak. Semoga bahagia.” Demi Tuhan aku ingin meratap kini.
 
            “Terima kasih, Ga. Aku menyayangimu.” Kak Arkha memelukku erat. Masih sama, rasa kasihnya tak berubah.
 
Beralih darinya aku menatap sendu wajah Lanna yang tampak menawan dalam polesan make-up minimalisnya. Ya Tuhan, hatiku bergemuruh riuh begitu mataku bersitatap dengan bola cokelatnya. Dia . . . .
 
            “Lanna . . . .” Aku mendekapnya kuat. Entahlah aku goyah, bagaimana ini? Melihatnya dengan sorot berkaca-kaca membuatku tak mau mengakui kekalahan. Aku mencintainya, Tuhan.
 
Fin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s