Husbands Reunion

image

Author : rywei19

Tittle : Husbands Reunion

Genre : AU, Friendship, Little bit comedy

Length : Oneshot

Rated : PG 15

Main Cast :

Cho Kyu Hyun
Henry Lau
Kim Jong Woon
Lee Dong Hae
Lee Hyuk Jae
Cho Nara

DISCLAIMER : This fanfict is mine, The casts in this fict are God’s so don’t be a plagiarism! Don’t Copy and Paste My Fanfict without permission!

AN : Yang familiar berarti udah pernah baca di sjff atau sujuff 2010

***

“Hahaha, sudah kubilang ‘kan, Arsenal pasti juara,” Lee Hyuk Jae mengumbar keantusiasannya sembari tiada henti menyeruput sirup merah yang terhidang di atas mejanya.

Menghentikan aksi memotong-motong cake berlumur selai blueberry, Henry Lau ikut berkomentar, “Itu ‘kan hanya kebetulan dewi fortuna sedang berpihak, aku yakin akhirnya Liverpool akan memuncaki klasemen.”

“Tidak tidak tidak, Manchester United tentulah mampu kembali bangkit dan segera mengamankan gelar juara tersebut,” Lee Dong Hae menerjunkan diri demi bergabung dalam keseruan obrolan semi perseteruan khas lelaki sekaligus penggila bola itu. “Setan merah belum kehilangan taringnya,” imbuhnya lagi.

“Ahh, Arsenal jelaslah si penguasa baru untuk tahun ini,” Hyuk Jae tak sudi kalah bahkan kini ia sudah menggunakan sedotan di tangannya guna makin menegaskan pemikirannya.

“Ckkk, Liverpool sudah terlihat sekali hebatnya,” Henry Lau mengacung-ngacungkan pisau kuenya guna mewakili gesture keyakinannya membuat Dong Hae yang duduk di sisi kirinya terpaksa menyingkir sejenak takut-takut tertusuk benda tajam tersebut.

“Ishhh, pisaumu,” tukas Dong Hae ngeri seraya benaknya kembali terkoneksi untuk kukuh berujar, “Manchester United te—“

“Real Madrid sedang terpuruk. Apa yang harus kulakukan?” Sontak keenam pasang mata yang sedari tadi begitu menggebu membicarakan kesuperioran persaingan olahraga bola sepak negeri ratu Elizabeth itu mengernyit serempak, memandang dengan sorot intimidasi pada arah si pengucap asing barusan.

Sementara yang menjadi objek tatap merasa aura-aura aneh mulai berkelebatan di sekelilingnya. “Owow, Kyu Hyun~ah. Jadi bagaimana dengan acara honeymoonmu?” Kim Jong Woon si penanya langsung bergerak cepat mengalihkan topik obrolan yang mungkin saja sanggup mengancam keselamatan dirinya. Tentu saja, 3 dari 5 orang penghuni meja santai arena ballroom Hotel Gratel miliknya ini merupakan maniak British league, sementara dirinya? Katakanlah sang pendukung tunggal, satu-satunya pejuang yang membela habis-habisan liga spektakuler Spain league. Ckk, mungkin napasnya akan jauh lebih ringan apabila sisa manusia di meja tersebut juga mempunyai kegemaran serupa. Ahh, Cho Kyu Hyun, lelaki itu paling aneh dan berbeda. Menonton adu demo, memelototi ricuh kenaikan harga sembako atau kompetisi memasak pastilah lebih menggairahkan baginya di banding harus ikut menggaungkan sealbum lagu ole-ole. Jadi, Kim Jong Woon pun tak pernah terlalu berharap dapat memiliki koalisi yang menaruh cinta kasih terhadap keunikan liga Spanyol.

“Ahh iya, jadi apa yang terjadi di toilet saat aku menelpon seminggu lalu?” Lee Hyuk Jae lelaki bersetelan kemeja abu tersebut nampaknya telah masuk perangkap Jong Woon sehingga dengan serta merta melupakan tema bahasan mengenai ‘Juara liga Inggris’ favoritnya.

“Kau menelpon Kyu Hyun, Hyuk Jae~ya? Di acara privat honeymoonnya?” Lee Dong Hae—sang dokter muda LD Medic Hospital menghentikan acara mengemil kentang goreng bersaus cocol seraya menatap lelaki bermarga serupa dengannya penuh tuntutan.

“Ne, sebenarnya aku tid—“

“Curang,” Henry Lau, Lee Dong Hae juga Kim Jong Woon begitu kompak meyerobot niatan Hyuk Jae yang hendak menjelaskan, membuat lelaki Lee yang telah beristri itu menganga canggung di posisinya.

“Harusnya kau ajak-ajak kami, atau setidaknya menyambungkan obrolan. Kami ‘kan juga ingin tahu acara ehem, honeymoon milik ehem Jaksa Cho.” Kim Jong Woon berkali-kali menebar lirikan menggoda ke arah orang yang mereka bicarakan—Cho Kyu Hyun. Namun memang dasar Cho muda, ia malah anteng saja membaca daftar menu Hotel Gratel tanpa hambatan. Padahal di atas meja panjang dengan hiasan dua buah sofa di kanan-kirinya tersebut telah melimpah—terjajar olahan-olahan lezat untuk dinner. Dasar! Perutnya seluas apa memangnya?

“Lalu, Kyu Hyun Hyung kau tidak sakit gigi ‘kan? Tidak juga kelebihan jatah ehem kissu. Jadi, kenapa diam saja? Beri tahu kami kisahmu,” pinta Henry Lau, lelaki termuda di antara kelimanya sekaligus juga paling sukses dengan adidaya perusahaan pengolahan berlian maupun produk kecantikan tersohor, HL cosmetic. Namun sayang seribu sayang si konglomerat tampan ini telah melepas masa lajangnya. Sehingga berpuluh-puluh wanita dalam kawasan terbuka ballroom yang sedari tadi mencuri-curi pandangan pada perkumpulan berisi 5 orang lelaki tersebut hanya mampu menelan pil pahit akibat lirikannya mental total.

Delapan pasang mata menatap intens pada seorang lelaki berkemeja hitam yang kini malah asik sendiri guna menandaskan cairan encer kebiruan dalam gelasnya. Astaga, Cho Kyu Hyun benar-benar tidak peka, bibir-bibir empat rekannya bahkan telah berkedut-kedut gemas dan dia tetap mematung? Pelit info? Ckkk . . . .

“KYU . . . ,” adalah Hyuk Jae mantan model berbakat Korea yang kini lebih memilih berkecimpung mengurusi bidang usahanya yang bergerak demi memproduksi permen karet akhirnya mengeluarkan jurus merengek kebanggaannya. Sedikit catatan, lelaki Lee ini tampaknya belum pernah gagal bila telah berulah macam begitu, keberhasilan terakhir yang sanggup ia raih akibat ilmu merengek imutnya yaitu kabar mengenai sang istri yang positif mengandung. Jadi, boleh ‘kan jika kali ini ia berharap . . . .

“Pertama untuk hati penasaranmu, Henry~ah.” BINGO! Kyu Hyun jengah serta memulai aksinya. Sementara Henry yang merasa keingintahuannya akan segera terpenuhi pun membenarkan posisi duduknya agar senyaman mungkin menyambut dongeng Kyu Hyun. Mata cokelatnya menyorot cemas seolah apa yang hendak terkuarkan dari mulut seorang Kyu Hyun mampu berefek hidup-mati baginya.

“Terima kasih untuk kadomu, aku masih menyimpannya dengan aman dalam laci. Dan lagi perlu kau tahu, aku tak sepemula bayanganmu di dunia ‘kelelakian’ jadi, tak usah terlalu khawatir,” jelas Kyu Hyun yang justru membuat Henry mendengus tidak puas di tempatnya, lalu berkomentar. “Itu ‘kan edisi khusus, aku bahkan memesan langsung dari ahlinya di Jepang. Ahh, jurusnya tentulah seratus persen jitu.”

Berbentuk-bentuk death glare melayang tepat ke arah Henry, seketika mata tajam para senior TMWH menghujam tanpa ampun. Tak ayal jika lelaki berusia 24 tahun tersebut hanya mampu mencicit. “Jika bukan Miyabi yang itu lalu yang mana ya?”

Mengabaikan kekonsletan si maknae The Most Wanted Husbands Korea yang mungkin terkena virus hentai. Kyu Hyun beralih melirik Dong Hae. “Hmm, Dong Hae Hyung?”

“Aku hanya ingin tahu bagaimana honeymoonmu?” Untuk yang ke—entahlah bahkan Dong Hae si penanya lupa, sudah berapa kali kalimat tersebut ia utarakan.

“Apa kau tidak terlalu errr . . . ,” Kyu Hyun menimang-nimang jenis kata tertepat guna dapat merespon tingkah ‘ikut campur’ salah seorang Hyungnya.

“Curiosity, Hyung?” Nah, sepertinya itulah kata paling sopan untuk balik bertanya. Mimik wajah lelaki Cho itu bahkan tercetak begitu terganggu dengan hadirnya untaian tanya kerabatnya, si suami dari Park Yumi—Lee Dong Hae.

“Ahh, jawab saja . . . ,” dokter Lee memang terkenal agak kurang sabaran apabila membahas mengenai perihal-perihal di luar agenda rumah sakit ataupun pasien. Poor Kyu Hyun!

“Baiklah, primemori.”

“NE??”

“Sulit untuk kujelaskan. Lagipula, tidak mungkin juga ‘kan bila detik ini, menit ini, di tempat terbuka ini aku praktik di hadapanmu. Jadi, jawabanku, primemori.” Senyum miring tanpa mampu terhindarkan melingkupi wajah berseri milik si pengantin baru sekaligus jaksa muda terkenal nan tak pandang bulu divisi hukum pidana—Cho Kyu Hyun.

“Ap—“ Dong Hae ternganga takjub di posisinya. Tidak menyangka, tentu saja. Curang, dulu saat ia hangat-hangatnya jadi pengantin ia tanpa beban menceritakan pengalaman berharganya tersebut kehadapan keempat kawan akrabnya itu. Lantas apa balasannya sekarang? Di abaikan? Hohoho ia harus menarik tarif tambahan bila suatu saat keluarga Cho itu menyewa rumah sakitnya demi proses persalinan.

“Lanjut, Hyuk Jae Hyung. Kau tahu, beberapa malam lalu kau sangat mengganggu. Apa pabrik permen karetmu sedang cuti produksi? Kenapa kau tidak meminta ‘jatah’ saja pada Jung Hye jika memang kelebihan waktu luang? Malah mengganggu acaraku. Gara-gara dirimu yang menelpon seminggu penuh di jam-jam privatku, semuanya jadi gagal,” Kyu Hyun mengomel ganas layaknya singa buas. Hei, bagaimana bisa ia santai saja? Lee Hyuk Jae, lelaki ini sungguh menjadi momok mendongkolkan dalam program honeymoonnya. Kira-kira di mana letak otak mutakhirnya? Bila calon ayah satu itu tak pernah absen menghubungi Kyu Hyun minimalnya dalam sehari mereka mengobrol di telpon sekitar 2 jam penuh. Sudah seperti selingkuhannya saja si Lee itu minta di perhatikan!

Seolah tersengat badai kebaikan, secepat kilat nada bicara Kyu Hyun melunak. “Dan satu hal lagi aku sungguh berterima kasih atas tawaranmu. Tapi mungkin kau lebih cocok berbesanan dengan Jong Woon Hyung. Aku dan Nara orangnya tak terlalu menyukai hal-hal yang merepotkan. Serta emm, kami juga tidak sabaran. Maka, lebih baik kau memilih calon anak Jong Woon Hyung saja untuk di jadikan calon mantumu kelak. Emm, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kau tahu maksudku ‘kan?” lagi Cho Kyu Hyun, jaksa berusia 26 tahun yang mengabdikan diri di badan kehakiman Korea tersebut membuat ulah berkat lidah tajamnya.

“Aish, tidak mau. Kenapa kau pelit sekali? Aku yakin calon anakmu pasti tampan, meski dapat di pastikan ia sama jahil dan menyebalkannya sepertimu. Setidaknya akan lebih baik daripada aku mendapat besan yang tidak mendukung Arsenal,” Lee Hyuk Jae tersulut, ia menarik-narik ujung kemeja Kyu Hyun sembari sesekali mata awasnya melirik Jong Woon waspada.

“Aku juga bukan fans Arsenal. Dan lagi Nara belum hamil, Hyung. Kami baru menikah 11 hari lalu. Jika pun dalam sekali tembak bisa langsung goal, aku juga tidak akan membiarkan putraku menyukai Noona-Noona. Hyuk Jae Hyung, anakmu akan lahir 4 bulan lagi. Jadi, calon anakku pastilah tidak cocok. Sudahlah, tak usah memaksa. Kalau memang tidak mau ya, dengan Dong Hae Hyung saja, repot sekali,” ujar Kyu Hyun kembali mencoba menolak tawaran berbesan yang beberapa saat tadi ketika kelimanya baru berkumpul sempat di layangkan Hyuk Jae padanya.

“Andwe Andwe Andwe. Meski sebulan lalu Yumi positif mengandung, belum tentu juga ‘kan anakku lelaki. Sudahlah dengan Henry saja, putranya pasti cute,” Dong Hae memasang tembok antisipasi kilat. Astaga, berbesanan dengan Lee Hyuk Jae dan Oh Jung Hye? Akan jadi apa putranya?

“Sudah pasti Henry Junior akan terlahir cute dan menawan.  Tapi rencananya aku dan Mira akan menjodohkannya dengan gadis Jepang. Mianhae Hyuk Jae Hyung, mungkin kita tak bisa berbesan,” tolakan halus tersebut menguar dari sosok paling muda dari perkumpulan The Most Wanted Husbands itu. Oh, Henry tak akan mengorbankan anaknya untuk terjebak dalam lingkungan penuh karet lengket milik keluarga Lee Hyuk Jae yang pekerjaan sehari-harinya meributkan berapa buah kotak permen yang hendak mereka konsumsi atau juga keluarga di mana mengacungkan pistol merupakan hal lumrah. Ckkk, pasangan pengusaha sekaligus mantan model majalah konten 25++ dan agen pemerintah itu memang sangat abnormal—berbahaya.

“Aishh, ada apa dengan kalian? Awas saja, kalau putriku lahir dan besarnya menjadi Miss Korea, serta anak-anak kalian antri ingin mengencaninya. Cuihh, akan kupecat mereka dari kandidat. Huftt . . . ,” timpal Hyuk Jae sebal.

“Tunggu . . . tunggu . . . tadi kita membahas mengenai Honeymoon Kyu Hyun Hyung. Kenapa jadi membicarakan masalah besan-berbesan? Seperti Ahjussi-Ahjussi saja. Hei, kita ini pasangan muda, bersenang-senanglah dahulu,” Henry mengintrupsi.

“Ahh, benar. Jaksa Cho, ayo lanjutkan. Masa kau tak mau bagi-bagi info dengan kami?” Jong Woon yang menyadarinya kembali menuntun topik pembicaraan pada arah semula. “Akan kugratiskan special suites, selama tujuh hari tujuh malam kalau kau mau cerita. Kajja,” imbuh Jong Woon memanfaatkan kekuasaannya terhadap Gratel Hotel.

“Aku heran dengan kalian. Sudah seperti ibu-ibu tukang gosip saja. Memang apa pentingnya acara privatku itu? Apa dengan aku bercerita kalian bisa merasakannya juga?” Kyu Hyun benar-benar tak peduli dengan pilihan katanya yang mungkin terlalu vulgar.

“Bisa jadi. Kami dapat mengkhayalkannya dengan emmm, istri tercinta?” Hyuk Jae mengerling jahil di posisinya sebelum akhirnya raut wajahnya tiba-tiba memerah. “Wow, so sexy girl.”

Mengerti ada yang aneh dengan corak muka maupun arah tatap lelaki bekas player kelas kakap satu itu tak ayal membuat lelaki-lelaki beristri lainnya dalam meja tersebut penasaran mengikuti ketercengangan Hyuk Jae. Dan . . . .

“Madona Korea. Bibirnya sexy, 35 atau 36?” Henry menggumam sambil menahan keterpakuannya. Hoohh, pemandangan langka, menakjubkan!

“Apa itu warna hitam? Model Victoria’s secret? Kontras sekali,” Kim Jong Woon ikut memerhatikan objek di depan sana sembari menggigit-gigit bibirnya cemas. Jenis panorama paling alami juga kebetulan jarang ia temui semenjak menikah tiba-tiba menguasai fokus tatapnya.

“Sepertinya polesannya dari produk HL, kau beruntung Henry~ah,” timpal Dong Hae sembari tanpa berkedip meneliti goresan wajah bak porselen di depan sana.

“Hyuk Jae Hyung, butik Jung Hye menjual yang seperti itu tidak? Aku ingin beli satu,” Kyu Hyun berkomentar sembari mulutnya ternganga takjub sekaligus tak menyangka di hadiahi door prize luar biasa menggoda iman.

“AIGOO.” Kelimanya berteriak berbarengan seraya mengalihkan pandangan begitu mendapat sepasang kedip genit dari ujung sana.

Sembari mengusap wajah gusar Hyuk Jae berkata, “ Kurasa aku akan menguslkan pada Jung Hye untuk memasarkannya, Kyu Hyun~ah.”

“Aku akan menyuruh Mira mengecek produk HL cosmetic yang kuhususkan untuknya. Mungkin ada bahan yang kurang,” Henry berkata sembari menyandarkan punggungya pada sofa demi mengatur sirkulasi udara pada paru-paru yang begitu menderu.

“Aku akan mengunjungi klinik spesialis kulit reakananku. Nampaknya saat belajar di universitas aku mengantuk dulu,” ujar Dong Hae sambil menyeruput teh hijaunya gemetar.

“Nam Yeon Hee, cepatlah dewasa,” ujar Jong Woon memijit permukaan pelipisnya nyeri.

“Nara~ya?” Tunggu! Apa-apaan itu? Sorot letih lelaki-lelaki idaman wanita sejagad Korea itu langsung menolehkan kepala guna mengecek arti lain dari munculnya bunyi sapaan tersebut. Dapat di lihat Kyu Hyun berdiri dari posisi duduknya begitu mendapati sosok wanita berdress motif floral selutut tengah melangkah menghampirinya.

“Oppa menunggu lama?” Cho Nara—wanita yang baru datang tersebut memeluk Kyu Hyun sekilas begitu berhasil mencapai tubuh sang suami.

“Aku hampir terjebak dalam lembah dosa. Jangan jauh-jauh dariku,” pinta Kyu Hyun manja, sembari merangkul mesra pinggang istrinya.

“HAHH, P-E-N-G-A-N-T-I-N-B-A-R-U,” Henry, Hyuk Jae, Jong Woon maupun Dong Hae berkomentar bosan akan tingkah salah satu sahabat mereka yang begitu ermm . . . licik. Tentu saja, bagaimana bisa setelah menghadapi coba sulit munculnya si penggoda iman, Kyu Hyun malah begitu beruntung di jemput istrinya. Argg, mungkin benar kata orang pengantin baru memang luar biasa.

“Hmm?” Wanita Cho yang merasa tak memahami respon rekanan sang suami pun hanya mampu bergumam menuntut kejelasan.

“Ahh, tak usah di hiraukan, kajja kita pergi. Jong Woon Hyung, aku sewa special suites satu. Jangan lupa berikan diskon,” Kyu Hyun melenggang santai seraya memeluk bahu istrinys mesra menuju resepsionis yang akan menghadiahinya kunci kamar guna menginap serta terbebas dari belenggu bayang-bayang si penggoda iman yang beberapa waktu tadi telah beranjak hilang entah kemana? Siapa peduli!

“YA! Cho Kyuhyun bagaimana dengan obrolan kita?” teriak Hyuk Jae mencegah atau mungkin dapat di sebut kamuflase—tak suka jika rekan mengesalkannya itu dapat melewati malam indah bersama sang istri sementara ia dan 3 orang teman lainnya harus meradang akibat rindu.

Namun lagi lagi hanya lambaian tangan tak peduli yang mereka dapatkan. Ckkk, si Cho memang suka seenaknya.

“Argghh, Nyonya Kim, aku membutuhkanmu kenapa pergimu lama sekali?” ujar Jong Woon sembari menggebuk-gebuk permukaan sofa kesal. Tentu saja, ia iri. Meski istrinya beitu belia, manja, kekanakan, juga cerewet dan cengeng. Tapi gadis yang selisih usianya sekitar 11 tahun darinya itu adalah takdir jodohnya. Ia sangat menyanyangi Nam Yeon Hee.

“Ehhmm, Oh Jung Hye, I need you Honey,” Lee Hyuk Jae tentulah tak kalah cemburunya dengan Jong Woon. Si agen cantik nan mengagumkan bermarga Oh, tidak tidak ralat maksudnya Lee. Wanita berambut hitam sepunggung itu sering menghardiknya namun demi Tuhan tak ada satu pun alasan logis yang mampu memupus rasa cintanya pada calon ibu dari anaknya tersebut.

“Yeobseo? Yumi~ya, bogosippoyo. Kapan pulang?” Suara Dong Hae yang tengah menelpon juga menjadi bukti keiriannya. Ohoho, lelaki ini memang teramat menggemari praktik. Faktanya, di banding hanya berkhayal lamunan kosong layaknya ketiga rekannya ia justru memilih untuk bermanja-manja lewat media elektronik demi melepas rindu terhadap wanita Park yang telah di nikahinya semenjak setahun lalu.

“Mira~ya, aku mencintaimu,” sepertinya aksi gila memang tengah merajalela kini terbukti dengan Henry Lau yang meracau kekanakan semabari menatap seonggok gambar di atas layar ponselnya. Sungguh malang nasib konglomerat muda tersebut minggu ini. Bagaimana tidak, Miranya tengah merajuk serta tak sudi menerimanya di rumah. Maka terpaksa ia akan menghabiskan malam kembali di Hotel Gratel untuk yang ke—hampir seminggu penuh.

“Tampan, boleh bergabung?” lelaki-lelaki yang mendeklarasikan diri sebagai anggota perkumpulan The Most Wanted Husbands tersebut sontak menoleh ke sumber pengintrupsi.

“H-A-L-M-E-O-N-I???” Bahkan fans mereka mencakup segala usia.

END

Iklan

3 thoughts on “Husbands Reunion

  1. iyaa prnh baca d sjff2010. dsar tuh emg hyukpa ska gangguin kyu yadong aj hhhh
    long story’a kaia’a seru nih 😀
    kumpulan para suami kocak hhhhhh ada yg epil, byuntae, tabah, kalem, dll ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s