The Code

image

The Code

rywei19’s present lagi lagi fict lama. Enjoyed reading, please.

***

“Apa?” Suara baritone yang bersumber dari seorang pria berjas formal menjadi satu-satunya latar penembus kesenyapan di ruangan luas penuh kertas.

“Hmm?” dengungan ketidakmengertian ini pun lolos sepersekian detik setelahnya guna mewakili kegamangan yang tengah mendera subjek lain di tempat tersebut.

Bunyi denting-denting jarum jam terdengar halus saling berkejaran guna sedikit mengeliminasi atmosfer kecanggungan yang tiba-tiba kembali merayap di sekeliling dua makhluk Tuhan berbeda gender dalam naungan kawasan berdinding kaca mirip kapal pecah tempat keduanya sibuk bercengkerama tak tentu tujuan.

“Hah,” Seorang pria bertampang lelah yang tengah duduk tenang di permukaan kursi empuk ala raja-rajanya menghela napas gusar guna menetralkan deru pompa jantung fitalnya yang semakin lama justru terasa kian mencekik.

“Kali ini, alasan jenis apa yang telah kau susun hingga berani-beraninya menginjakan kaki mungilmu di kantor kebanggaanku? Tidak lupa dengan kenyataan menyakitkan kalau tempatmu berpijak kini merupakan sarang singa bukan?” kalimat bernada sinis ini keluar membelah segala macam situasi tegang maupun derap laju penasaran yang lambat-lambat mulai pekat bila tak segera di netralisasi.

“Maaf,” getar lembut pita suara ini menguar, menyiram lemah lubang pendengaran. Kehadirannya benar-benar membuat pria yang sedari tadi sibuk berstoic serta bersinis ria mau-tak mau mempertajam sorot pengelihatannya demi menyusuri seluruh pola yang tergambar dengan teramat alami dari sosok gadis manis tepat di seberang duduknya.

Entah proyek maha karya macam apa dulu yang tengah di rancang Tuhannya hingga sampai tiada cela menciptakan sesosok makhluk luar biasa membius mata ke dalam dunia ini. Bagaimana mungkin pria itu tak takluk bila di hadapannya telah hadir seorang gadis  berparas ayu dengan kadar yang ia sendiri tak mampu mengategorikan berapa banyak jumlah angka 0 di belakang 1 untuk mempersentasekan, menjabarkan melalui bilangan mengenai kemolekkan tanpa batas milik si gadis.

Surai kelam sepinggangnya jatuh menjuntai menutupi lekuk ringkih punggung mungil sang gadis. Pengelihatan beriris cokelatnya tak pernah mampu menyembunyikan kerling jenaka. Hidung tinggi terbentuk dengan proporsional di tempatnya. Pipi putihnya pun bertengger tembam dalam volume normal. Bibir ranumnya tipis melukis area bawah wajahnya. Secara keseluruhan tampang gadis ini tidak kalah dari juara Miss World sekalipun. Maka, pantas saja tak ada satu pun tindak-tanduk khas gadis mungil ini yang mampu terabaikan oleh pria pencinta akut semisal, Kim Jongwoon.

Benar. Pria perlente berusia 29 tahun yang sukses tampil muda dalam balutan pakaian kerja berwarna hitam metalik juga gaya rambut trend mark terbaru di kalangan muda-mudi Korea tersebut rasa-rasanya tiada sanggup jikalau harus berpaling barang sedetik dari pemandangan menggugah selera di depan sana.

“Tak ada yang perlu di maafkan, kurasa. Kau boleh berdiri dan keluar dari ruanganku,” tanggapan tak terduga tiba-tiba melayang dari mulut manis seorang Kim Jongwoon. Sungguh ini tidak biasa, bahkan gadis muda sang penerima suruhan hanya bisa terperangah seakan tak percaya kalau pria yang baru saja bicara ketus tersebut adalah Jongwoonnya.

“Kau masih marah?” Sang gadis menyuarakan kalimat bertajuk sangsi melalui celah bibir ciliknya. Meski terkesan serak namun gadis itu tetaplah tengah mencoba untuk tidak larut dalam jiwa kekanakan memalukan yang sering ia tunjukan—menangis.

“Aku tidak tertarik untuk meladenimu bermain. Kurasa mengurusi tender usaha guna membiayai sekitar 20 ribu jiwa jauh lebih penting di banding membuang waktu bersamamu. Jadi, Nam Yeonhee keluar dari sini sekarang!” lagi Kim Jongwoon berlaku seenaknya. Ia bahkan tak ambil pusing dengan perubahan ekspresi yang timbul di wajah gadisnya.

Nam Yeonhee, ia baru saja merayakan hari jadi ke delapanbelasnya sebulan lalu serta kini tanpa mampu di cegah justru nampak mulai mempertontonkan tatapan sendu juga berkaca-kacanya.

“Menangis pun tak akan mengubah pendirianku. Jadi, percuma saja. Daripada tiada guna bersikeras berlaku kekanakan, lebih baik cepatlah pergi,” lanjut Kim Jongwoon menyela aktivitas tangis yang siap meledak dari kelopak kecil kepunyaan Nam Yeonhee.

Gadis itu terperanjat, sulit sekali baginya untuk menerima segala perilaku kasar dan tak acuh pria kecintaannya. Apa benar hanya gara-gara ia gagal menjawab teka-teki yang pria itu ajukan beberapa hari lalu efeknya jadi seburuk ini. Sebelumnya dalam rentang 2 tahun hubungan asmara mereka, Kim Jongwoon pastilah akan berpikir hingga jutaan kali guna menaikan nada suara huskynya bila berbicara pada Yeonhee.

“A-aku bukan anak-anak,” Yeonhee terdengar menyerukan kembali kerongkongannya untuk menjabarkan pernyataan sarat keyakinan ke hadapan pria penuh kuasa di hadapannya.

“Setahuku kau baru 2 hari resmi menjadi bagian dari keluarga Kyunghee. Jadi, tak usah bertindak seolah kau sudah berjuta-juta tahun menuntut ilmu di perguruan tinggi itu. Kau tetaplah anak kemarin sore,” Jongwoon yang tengah sibuk memberi bubuhan-bubuhan tanda tangan di atas ribuan map bukti kesuperioran bidang usahanya berkata enteng tanpa mau repot-repot menilik raut macam apa yang terpampang di kanvas wajah gadis itu, Nam Yeonhee.

“Aku ta-tak tahu kalau k-kau bisa sekasar ini,” kalimatnya patah-patah, suara merdunya telah seserak Jongwoon, Yeonhee dengan kekuatan penuh yang ia sanggup kuasai berusaha keras guna membendung isak tangis yang hendak menjebol bentengnya.

“Aku memang baru 18 tahun, aku memang belum dewasa, sifatku bahkan terlalu cengeng dan kerap kali membuatmu repot. Tapi sungguh aku tulus, cintaku mungkin tak sedalam dirimu. Itu karena aku masih mencoba untuk memaknainya, aku masih belajar mengartikan apa itu cinta?” lanjut Yeonhee dan di sadari atau tidak bulir-bulir bening hasil kerja kantung kelopaknya telah meluncur bebas menuruni permukaan wajah mulusnya.

“Nam Yeon-“

“Jangan menyelaku!” titahan penuh ambisi ini terhambur dari Yeonhee.

“Hanya karena aku tak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan yang kau berikan, seenak hati kau perlakukan aku begini? Hanya karena aku lebih muda darimu, kau boleh bertindak semena-mena terhadapku? Hanya karena pekerjaan rumah bodoh yang kau tujukan dan belum sempat kupecahkan, kau jadi uring-uringan seperti ini? Kalau sudah muak padaku katakan saja, toh aku tak pernah meminta agar kau mau terus bersamaku. Kalau menurutmu putus adalah jalan keluarnya, ya kita putus sa-“ kalimat panjang ini mau-tak mau terhenti mengudara tatkala subjek penyerunya tiba-tiba harus rela terbanting ke sebuah naungan dada bidang yang hangat. Kim Jongwoon demi membungkam cerocosan gadisnya ia rela mengabaikan seluruh kegiatan yang tadi begitu di gemarinya. Tanggan kokohnya bahkan telah melingkar di pinggang ramping Yeonheenya.

“Bodoh. Dari mana belajar merangkai kata-kata menjemukan seperti itu, hm?” kali ini suara husky merdu milik Kim Jongwoon mengudara tanpa embel-embel kesinisan.

“Kau pikir dengan menyerukan kalimat macam itu aku mau melepasmu? Kau kira karena kau begitu bodoh hingga tak mampu menjawab pertanyaan super mudah mengenai rasi bintang Ara, aku jadi marah? Menurutmu meski kau cengeng aku sudi tak mengindahkanmu? Lalu kenapa kalau aku lebih tua? Bukannya dari awal kau sudah menilaiku pedofil? Aku bukan remaja labil, masa-masa keemasanku telah lama di raup waktu. Jadi, salahkan nasib ini yang sudah menjerumuskanmu dalam lingkup hidupku karena sampai mati aku tak akan membebaskanmu,” Jongwoon ia kembali seperti seorang pria yang amat di kenal oleh Yeonhee, nampaknya pria itu telah menyerah memperjuangkan aksi andalannya untuk mengerjai sang kekasih. Demi Tuhan, meski hubungan mereka awalnya hanya di dasari ikatan bisnis konyol para tertua, ia sama sekali tak menyesal karena faktanya ia begitu mencintai gadisnya kini.

“Masa lalu,” Suara kecil yang tenggelam dalam kekokohan tubuh tegap Jongwoon merupakan respon lirih dari Nam Yeonhee.

“Maksudmu?”

“PR-ku, ketika berpijak menyusuri waktu hal apa yang paling membimbangkanmu? Dan jawabannya adalah masa lalu. Kau menolak untuk segera menikah denganku bukan karena kau tak mencintaiku tapi karena kau menghwatirkan tentang masa lalumu.”

“Yeon~ah…?”

“Jongwoon Oppa, masa lalu itu ada untuk mengajarimu bukan untuk kau takuti. Meski dulu calon istrimu bernasib buruk, meninggal sehari sebelum acara penyumpahan tiba. Bukan berarti semua wanita tercipta dengan takdir serupa. Kami membawa jalannya masing-masing. Jadi, jangan ragu untuk… menikah,” Entah kalimat yang baru saja di lontarkan oleh Yeonhee termasuk dalam golongan lamaran atau tidak tapi gadis itu mencoba untuk menyamai kedewasaan milik Kim Jongwoon. Gadis itu menuntaskan tugas tambahan yang seminggu lalu di lontarkan Jongwoon kala keduanya di desak untuk segera melangsungkan acara pemberkatan. Pria putih itu justru menolak dan berkelit dengan beribu alasan guna mengulur waktu acara penyatuan dua keluarga pemilik perusahaan alat elektronik terkemuka di Korea, NaM Corporation dan JongKim Company. Kim Jongwoon ternyata masih larut dalam jerat masa lalunya.

“Uhh.. nampaknya kau tak sepolos prediksiku, Nam Yeonhee apa benar usiamu baru 18 tahun? Menikah… sepertinya kau sudah tak tahan untuk menjajal malam pertama dengan pria idaman wanita sekelas Kim Jongwoon,” suara Jongwoon terdengung dengan begitu rendah nan intim tujuannya sudah pasti menggoda gadis super lugu di depannya.

“Bu-bukan, Aish… kau saja yang terlalu pervert, dasar pedofil,” sanggah Yeonhee merona, ia sudah terkena jebakan Jongwoon, lagi.

“Dasar bocah kecil mesum.”

“Si-apa? Aku tidak mesum.”

“Apa itu namanya kalau bukan otak Mature? Usiamu baru 18, sudah mahir sekali merayu pria untuk menikah.”

“Kau yang bertanya tentu aku menjawab. Salah sendiri kau terlalu berkelit dengan masa lalu.”

“Aishh.. gadis bodoh ini menyalahkanku? Dengar, jawabanmu benar. Tapi aku tak menyetujui acara itu bukan hanya karena masa lalu melainkan juga sebab aku menunggumu tumbuh lebih dewasa. Jadi, sekarang kemari kuberi hukuman kau!” dan ruang luas dengan aksesori kertas-kertas tersebut pun berubah menjadi arena berlarian bagi dua insan berbeda usia, Nam Yeonhee dan Kim Jongwoon. Mereka baru memulai dan meresapi apa itu cinta?

Tidak ada teka-teki tercipta tanpa solusi. Sekalipun perihal kehidupan, semua selalu menyimpan sejuta jawaban terpasti. Nam Yeonhee mungkin tak bisa memecahkan soal rasi bintang Ara namun ia telah jauh lebih cerdas untuk menyadarkan Jongwoon akan pentingnya suatu masa depan.

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s